Sebuah riset terbaru mengungkap bahwa TikTok memiliki lebih banyak konten kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) berkualitas rendah dibandingkan YouTube. Temuan tersebut berasal dari penelitian perusahaan pengeditan video Kapwing yang menganalisis ribuan video dari berbagai kategori populer.
Baca juga: Pengguna Internet di Indonesia Bertambah 6 Juta Jiwa pada Tahun 2026
TikTok dan Temuan Riset
Berdasarkan penelitian Kapwing, sebanyak 59 persen video yang muncul di laman For You TikTok tergolong konten AI berkualitas rendah. Jumlah tersebut tercatat hampir tiga kali lebih tinggi dibandingkan dengan YouTube yang berada di angka 21 persen.
Melansir dari laman resmi Kapwing, rekomendasi video di TikTok biasanya dipengaruhi oleh minat pengguna, aktivitas menonton, akun yang diikuti, serta interaksi yang dilakukan. Namun, sistem yang diterapkan pada pengguna baru berbeda karena belum memiliki riwayat aktivitas yang cukup.
Untuk akun baru, TikTok cenderung menampilkan konten yang dianggap populer dan relevan bagi banyak pengguna. Selain itu, lokasi akun dan pengaturan bahasa juga ikut memengaruhi jenis video yang direkomendasikan oleh platform tersebut.
Dalam uji coba menggunakan akun percobaan, Kapwing menemukan sejumlah video AI berkualitas rendah yang muncul di beranda pengguna. Beberapa video bahkan terlihat seperti konten yang sebelumnya telah dihapus, tetapi masih dapat ditemukan dalam rekomendasi.
TikTok dan Dampaknya
Penelitian yang melibatkan 10.742 video dari berbagai tag populer itu menemukan bahwa kategori anak memiliki persentase konten AI berkualitas rendah paling tinggi. Angkanya mencapai 57,4 persen, sedangkan kategori sains dan pendidikan berada di angka 35 persen.
Kategori lain yang juga mencatat jumlah cukup tinggi adalah kesehatan sebesar 33,8 persen dan sejarah sebanyak 33,5 persen. Sementara itu, kategori kebugaran, musik, serta fashion masih didominasi oleh konten yang dibuat langsung oleh manusia.
Kapwing turut menyoroti tagar #cartoonkids yang banyak diakses oleh anak-anak di TikTok. Dari 100 video yang diperiksa, hanya tiga video yang diketahui dibuat manusia, sedangkan 97 video lainnya merupakan konten AI berkualitas rendah.
Menurut Dana Suskind yang dikutip dalam laporan tersebut, paparan konten otomatis yang tidak berkualitas dapat memengaruhi perkembangan otak anak usia dini. Kondisi itu dinilai mengkhawatirkan karena konten semacam ini telah menyasar audiens anak-anak dalam jumlah besar.
Baca juga: Apa yang Bikin Konten Singkat Jadi Favorit Pengguna Media Sosial?
Nah Warginet, temuan mengenai TikTok ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi AI juga menghadirkan tantangan baru di ruang digital. Karena itu, pengguna perlu lebih selektif saat mengonsumsi konten, terutama ketika TikTok digunakan oleh anak-anak dan remaja dalam aktivitas sehari-hari.
Sumber: CNBC Indonesia






