Perjalanan panjang industri manufaktur di Tanah Air melahirkan banyak produk legendaris yang tetap dipercaya oleh konsumen harian. Inovasi produk secara berkelanjutan menjadi kunci utama untuk menjaga keberlangsungan usaha lokal agar tidak pernah tergerus oleh zaman.
Baca juga: 5 Merek Produk Tertua di Indonesia yang Menolak Tergerus Zaman Part 1
Deretan produk kopi, kecap, obat herbal, minuman, hingga margarin ini memiliki rekam jejak panjang. Para pendiri merintis bisnis dari skala rumahan hingga mampu berkembang menjadi perusahaan manufaktur raksasa.
Keberhasilan mereka dalam melewati berbagai dinamika sejarah menjadi contoh nyata ketangguhan pengelolaan manajemen bisnis di Nusantara. Melansir dari artikel terbitan CNBC Indonesia, berikut adalah lima produk legendaris bagian kedua yang masih terus memproduksi kebutuhan pokok masyarakat hingga saat ini.
1. Kopi Merek Kapal Api Sejak 1927
Perantau Fujian bernama Go Soe Loet merintis usaha kopi di Surabaya pada 1927 setelah melihat tingginya konsumsi masyarakat. Ia mengolah biji berkualitas dengan merek HAP Hootjan, bermakna Kapal Api dari pengalamannya naik kapal uap.
Usaha dikembangkan oleh putranya, Soedomo Mergonoto, dengan mendatangkan mesin olahan Jerman setelah sempat mencoba membuat sendiri. Perusahaan memperluas distribusi nasional, mulai mengekspor produk pada 1985, hingga merilis merek Kopi ABC dan toko Excelso.
2. Kecap Merek Bango Berdiri 1928
Mengutip Detik Finance, pasangan Yunus Kartadinata dan Tjoa Eng Nio merintis pembuatan kecap Bango di garasi rumah Tangerang pada 1928. Nama Bango dipilih dengan filosofi agar produk lokal tersebut dapat terbang tinggi menuju mancanegara.
Produksi sempat terhenti akibat perang pada 1939-1947 sebelum dipasarkan secara door-to-door meluas ke Jawa, Sumatera, hingga Manado. Perusahaan membuka pabrik Subang pada 1997 dan diakuisisi oleh Unilever pada 2001 tanpa mengubah nama besarnya.
3. Merek Obat Herbal Tolak Angin 1930
Pengelola peternakan susu Melkrey Ambarawa, Siem Thiam Hie dan Rakhmat Sulistio, membuka toko Roti Muncul pada tahun 1930. Pada tahun yang sama, Rakhmat mulai meracik jamu masuk angin yang kelak dikenal masyarakat sebagai Tolak Angin.
Pasangan tersebut membuka toko jamu di Yogyakarta pada 1935 lalu memasarkan varian racikan godokan pada tahun 1940. Mereka kemudian mendirikan Sido Muncul di Semarang pada 1951 yang memiliki arti nama impian yang terwujud.
4. Minuman Merek Bir Bintang 1931
Pabrik minuman beralkohol NV Nederlandsch-Indische Bierbrouwerijen resmi berdiri di kawasan Kota Surabaya pada tahun 1931. Dalam perjalanannya, perusahaan tersebut terus berkembang pesat hingga melahirkan identitas produk minuman yang sangat dikenal sebagai Bir Bintang.
Meskipun struktur kepemilikan perusahaan mengalami perubahan, nama produk ini tetap melekat kuat pada ingatan konsumen Tanah Air. Seiring dinamika pasar, produsen turut berinovasi menghadirkan varian produk tanpa kandungan alkohol demi memenuhi preferensi pembeli.
5. Margarin Merek Blue Band 1934
Margarin Blue Band masuk ke pasar Hindia Belanda pada 1934 demi memenuhi kebutuhan bahan pangan warga Eropa. Produk ini mengusung ikon pita biru sebagai simbol kualitas tinggi dan mendirikan pabrik N.V. van den Berghs Fabrieken Batavia pada 1936.
Kunjungan Sidney van den Bergh pada 1937 membuktikan besarnya peluang pasar meski sempat terganggu oleh situasi perang. Merek ini aktif mempromosikan citra gizi keluarga melalui berbagai iklan media massa dengan menonjolkan kandungan vitamin A dan D.
Baca juga: Martabak Mang Oha, Jajanan Legendaris Garut yang Eksis Sejak 1971
Nah Warginet, perjalanan panjang seluruh lini bisnis legendaris ini menjadi bukti nyata kekuatan sebuah merek lokal di Tanah Air. Semoga keberhasilan ratusan tahun tersebut mampu memberikan dorongan inspirasi bagi para pelaku usaha daerah dalam memajukan produknya.






