Total panen komoditas petai di wilayah Provinsi Jawa Barat pada tahun 2025 menembus angka 822 ribu kuintal. Adapun Kabupaten Garut turut menyumbangkan pasokan sebesar 21.843 kuintal dari keseluruhan hasil produksi tersebut.
Baca juga: Garut Masuk 10 Besar Produksi Beras Tertinggi di Jabar Tahun 2025
Daftar Daerah Penghasil Petai di Jawa Barat
Sebanyak 15 kabupaten dan kota menjadi penyumbang utama hasil panen komoditas petai di wilayah Provinsi Jawa Barat. Wilayah Kabupaten Garut berhasil menempati urutan ke-9 dalam daftar peringkat daerah penghasil komoditas petai pada tingkat provinsi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, berikut daftar 15 kabupaten dan kota penghasil petai terbanyak pada tahun 2025:
Kabupaten Ciamis: 131.607 kuintal
Kabupaten Sumedang: 127.909 kuintal
Kabupaten Tasikmalaya: 118.713 kuintal
Kabupaten Cianjur: 88.857 kuintal
Kabupaten Purwakarta: 83.787 kuintal
Kabupaten Majalengka: 55.789 kuintal
Kabupaten Bandung: 49.834 kuintal
Kabupaten Kuningan: 33.356 kuintal
Kabupaten Garut: 21.843 kuintal
Kabupaten Sukabumi: 21.082 kuintal
Kabupaten Subang: 15.786 kuintal
Kabupaten Indramayu: 15.747 kuintal
Kabupaten Bogor: 14.672 kuintal
Kabupaten Karawang: 10.473 kuintal
Kota Banjar: 9.744 kuintal
Peran Garut Dan Wilayah Penghasil Petai
Daerah Kabupaten Garut memberikan kontribusi terhadap pasokan pangan daerah melalui hasil panen perkebunan petai sepanjang tahun 2025. Hasil perkebunan komoditas petai di wilayah Kota Intan ini menjadi bagian penting dari keberadaan sektor pertanian hortikultura lokal.
Gabungan hasil panen dari Kabupaten Ciamis, Kabupaten Sumedang, dan Kabupaten Tasikmalaya menyumbang sebesar hampir 46 persen dari total seluruh produksi Jawa Barat. Wilayah kabupaten secara keseluruhan terus mendominasi pasokan pangan jika dibandingkan dengan daerah perkotaan.
Baca juga: Garut Jadi Daerah dengan Hasil Panen Sawit Terbesar Ketiga di Jabar
Nah Warginet, pasokan petai dari Kabupaten Garut menjadi bagian integral dari total hasil produksi komoditas pangan di Jawa Barat. Perbedaan tingkat hasil panen antarwilayah dipengaruhi secara langsung oleh luas ketersediaan lahan pertanian di setiap daerah.






