Infogarut

Bukan Roller Coaster Modern, Ini Sensasi Lolorian dari Malangbong Garut

M
Muhamad Renaldi SPublisher
7 November 2026 pukul 11.54 2 menit baca
Bukan Roller Coaster Modern, Ini Sensasi Lolorian dari Malangbong Garut
Bukan Roller Coaster Modern, Ini Sensasi Lolorian dari Malangbong Garut, Source: Yuli Saputra/BBC Indonesia

Keberadaan permainan tradisional lolorian di Kampung Ciherang Malangbong sukses menyedot perhatian publik luas hingga mancanegara. Atraksi meluncur pelepah aren tersebut berkembang pesat menjadi daya tarik wisata lokal yang sangat populer.

Baca juga: 5 Permainan Tradisional Jawa Barat untuk Ngabuburit Seru Selama Ramadan

Sensasi Meluncur Di Papan Pelepah Aren

Mengutip BBC Indonesia, permainan lolorian mirip roller coaster menggunakan rel pelepah aren sepanjang 200 meter di jalanan menurun. Topografi dataran tinggi berbukit Kampung Ciherang sangat cocok mendukung daya luncur papan kayu.

Para pemain di urutan kedua dan seterusnya memegang bagian belakang papan hingga membentuk rangkaian gerbong kereta api. Saat seluruh gerbong tersambung rapat, papan meluncur deras melintasi rel bambu dan kayu pelepah aren.

"Kalau lori berjalan karena mesin dan sebagainya, maka lori-lorian yang sekarang ini mencari wilayah yang landai. Mereka tidak usah menggunakan mesin, hanya mereka dorong sendiri, ngegelusur sendiri," tutur pakar permainan rakyat Zaini Alif.

Berkat unggahan media sosial serta liputan media Malaysia, Jepang, dan Jerman, permainan lolorian berhasil mendatangkan banyak turis asing dari mancanegara. Kedatangan wisatawan luar daerah memberikan dorongan ekonomi besar bagi warga Kampung Ciherang.

Sejarah Dan Perkembangan Wahana Lori

Pakar permainan rakyat Zaini Alif menjelaskan bahwa permainan lolorian berasal dari kata lorrie bahasa Belanda, yakni gerbong kecil di rel lori Decauville perkebunan abad ke-19. Di Kampung Ciherang, permainan berkembang sejak pengungsi DI/TII pada periode 1950–1962 menetap di bawah jembatan rel Staatsspoorwegen.

Para pengungsi menetap hingga kembali pada 1965, lalu pemuda setempat bersama Abah Koko memodifikasi rel bambu dan kayu agar lebih aman. Penggegas arena Abah Koko berusia 76 tahun menghidupkan rel bambu kuat untuk ngabuburit puasa Ramadan sekaligus mengalihkan perhatian dari gawai.

"Membuat rel jadi tidak sia-sia. Ada manfaat, dimanfaatkan oleh semua," ujar sesepuh Kampung Ciherang, Abah Koko, berusia 76 tahun, mengenai nilai ekonomi tempat rekreasi.

Abah Koko jengah melihat anak-anak yang tidak merespons saat disapa akibat sibuk bermain telepon seluler sepanjang hari. Kehadiran rel lolorian bambu terbukti mampu memberi dampak positif bagi pengurangan durasi pemakaian gawai.

Baca juga: Eksistensi Permainan Tradisional Indonesia di Tengah Modernisasi

Jadi Warginet, keunikan wahana tradisional lolorian terbukti mampu menjadi solusi kreatif dalam melestarikan budaya sekaligus menghidupkan ekonomi desa. Kehadiran permainan legendaris lolorian patut dibanggakan serta dijaga kelestariannya bersama seluruh lapisan masyarakat.

Diskusi (0)

Bergabunglah dalam Diskusi

Silakan masuk dengan akun Anda untuk menulis komentar dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.

Lanjut Membaca