Infogarut

Studi Radiology Ungkap Tinggal Di Kawasan Kumuh Picu Kerusakan Otak

M
Muhamad Renaldi SPublisher
18 September 2026 pukul 09.46 3 menit baca
Studi Radiology Ungkap Tinggal Di Kawasan Kumuh Picu Kerusakan Otak
Studi Radiology Ungkap Tinggal Di Kawasan Kumuh Picu Kerusakan Otak, Source: Istimewa

Lingkungan tempat tinggal masyarakat ternyata memiliki keterkaitan erat dengan tingkat kesehatan organ otak manusia. Penelitian ilmiah terbaru membuktikan bahwa warga yang menetap di kawasan kumuh berisiko tinggi mengalami penurunan fungsi otak secara signifikan.

Baca juga: Studi FENS: Sering Bicara Banyak Bahasa Bikin Otak 13 Tahun Lebih Muda

Dampak Kawasan Kumuh Bagi Organ Otak

Dilansir dari CNBC Indonesia, temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Radiology milik Radiological Society of North America (RSNA). Para peneliti menganalisis hampir 3.000 hasil pemindaian magnetic resonance imaging (MRI) otak pasien.

Pemeriksaan medis tersebut melibatkan deretan responden luas yang berada dalam rentang usia 18 hingga 96 tahun. Peneliti lantas membandingkan karakteristik struktur organ otak masyarakat tersebut dengan tolok ukur Area Deprivation Index (ADI).

Indeks khusus tersebut digunakan oleh para peneliti untuk mengukur tingkat ketertinggalan sosial serta ekonomi suatu wilayah permukiman warga. Pengukuran dilakukan berdasarkan sejumlah indikator utama seperti tingkat pendapatan, standar pendidikan, pekerjaan, hingga kondisi perumahan setempat.

Hasil riset menunjukkan bahwa masyarakat berpenghasilan rendah cenderung memiliki usia organ otak yang jauh lebih tua. Selain itu, mereka juga mencatatkan volume total organ otak yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan penghuni kawasan sejahtera.

Para peneliti menekankan bahwa indeks tersebut menggambarkan kondisi suatu wilayah, bukan gambaran ekonomi individu secara langsung. Meski demikian, kondisi lingkungan sekitar terbukti mampu memberikan dampak medis yang sangat nyata terhadap kesehatan organ otak manusia.

"Tempat tinggal Anda meninggalkan jejak yang dapat diukur pada otak Anda," ujar John-Paul J. Yu selaku salah satu peneliti dalam studi tersebut.

Risiko Kerusakan Pembuluh Darah Otak

Penelitian medis ini juga menemukan tingginya volume white matter hyperintensities (WMH) pada otak masyarakat di kawasan kurang menguntungkan. Kondisi medis tersebut ditandai dengan munculnya bercak terang pada materi putih organ otak saat diperiksa.

Bercak terang tersebut menandakan adanya jejak kerusakan pada sistem pembuluh darah kecil yang berada di dalam otak. Berbagai faktor seperti tekanan darah tinggi, kualitas tidur buruk, dan stres kronis menjadi pemicu utamanya.

"Hiperintensitas materi putih pada dasarnya merupakan jejak kerusakan kardiovaskular di otak," jelas John-Paul J. Yu.

Peningkatan volume WMH berisiko tinggi memicu berbagai macam gangguan kesehatan neurologis jangka panjang bagi para penderitanya kelak. Risiko yang mengintai antara lain penurunan fungsi daya ingat, gangguan kognitif, hingga munculnya ancaman penyakit demensia.

Hasil penelitian ilmiah ini membuktikan bahwa kondisi lingkungan sekitar berpengaruh besar terhadap kesehatan organ saraf. Maka dari itu, faktor ketimpangan lingkungan perlu diperhitungkan secara cermat dalam perancangan berbagai kebijakan publik.

Meskipun terdapat korelasi kuat, para peneliti menjelaskan bahwa tempat tinggal tidak secara langsung menjadi penyebab tunggal perubahan struktur otak. Kondisi kesehatan organ otak dipengaruhi oleh interaksi kompleks dari berbagai macam faktor lingkungan serta biologis.

Baca juga: Mengapa Hari Otak Sedunia Diperingati Tiap 22 Juli? Ini Alasannya

Nah Warginet, hasil studi mengenai dampak tinggal di kawasan kumuh ini menjadi pengingat penting akan besarnya pengaruh lingkungan bagi kesehatan. Menjaga pola hidup sehat dan kebersihan lingkungan sekitar tetap menjadi langkah utama untuk merawat fungsi otak.

Diskusi (0)

Bergabunglah dalam Diskusi

Silakan masuk dengan akun Anda untuk menulis komentar dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.

Lanjut Membaca