Perekonomian suatu negara tidak selalu berbanding lurus dengan besaran nilai neraca keuangan dari lembaga moneter utamanya. Fenomena ini terlihat dari laporan terbaru mengenai perbandingan nilai aset bank sentral terhadap Produk Domestik Bruto di berbagai negara.
Baca juga: Payment ID, Sistem Baru BI untuk Deteksi Keuangan Warga
Daftar Negara Rasio Aset Bank Sentral
Dilansir dari CNBC Indonesia, pemeringkatan terbaru yang disusun Aneesh Anand berdasarkan data Bank for International Settlements (BIS) memperlihatkan peta kekuatan ekonomi global. Aset perhitungan mencakup emas, cadangan devisa, surat utang pemerintah, serta aset nonkeuangan lainnya.
Hong Kong menempati posisi teratas dunia dengan rasio mencapai 130,1 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) milik wilayah tersebut. Nilai kekayaan melalui Hong Kong Monetary Authority (HKMA) bahkan melebihi total barang maupun jasa yang dihasilkan perekonomian Hong Kong dalam setahun.
Swiss menyusul di peringkat kedua dunia dengan rasio kepemilikan sebesar 102,5 persen terhadap total perekonomian negaranya melalui Swiss National Bank. Sementara itu, Singapura dan Jepang berada di urutan berikutnya dengan mencatatkan rasio masing-masing sebesar 95,1 persen serta 94,4 persen.
Keempat wilayah tersebut menjadi pusat keuangan dunia yang memiliki porsi yang melampaui angka 90 persen dari perekonomian domestik. Perbandingan angka ini digunakan khusus untuk mengukur skala neraca keuangan lembaga moneter di setiap negara.
Berikut rincian urutan rasio aset bank sentral terhadap Produk Domestik Bruto di 20 negara dunia berdasarkan laporan resmi BIS:
Hong Kong (Hong Kong Monetary Authority): 130,1%
Swiss (Swiss National Bank): 102,5%
Singapura (Monetary Authority of Singapore): 95,1%
Jepang (Bank of Japan): 94,4%
Thailand (Bank of Thailand): 55,3%
Uni Emirat Arab (Central Bank of the UAE): 47,1%
Arab Saudi (Saudi Central Bank): 40,6%
Eropa (European Central Bank): 39,0%
Brasil (Central Bank of Brazil): 38,1%
Israel (Bank of Israel): 37,6%
China (People's Bank of China): 34,4%
Polandia (National Bank of Poland): 30,5%
India (Reserve Bank of India): 26,1%
Inggris (Bank of England): 25,8%
Korea Selatan (Bank of Korea): 21,3%
Amerika Serikat (Federal Reserve System): 21,2%
Indonesia (Bank Indonesia): 19,1%
Turki (Central Bank of the Republic of Türkiye): 18,6%
Meksiko (Bank of Mexico): 14,7%
Australia (Reserve Bank of Australia): 12,9%
Posisi Indonesia Dan Faktor Rasio Aset
Indonesia sendiri menempati peringkat ke-17 dari total 20 negara yang masuk dalam daftar pemeringkatan lembaga keuangan global tersebut. Aset yang dicatatkan oleh Bank Indonesia (BI) berada di angka 19,1 persen dari Produk Domestik Bruto nasional.
Capaian tersebut berada sedikit di bawah Amerika Serikat melalui Federal Reserve System yang membukukan rasio sebesar 21,2 persen. Namun, posisi Indonesia masih lebih tinggi dibanding Turki sebesar 18,6 persen, Meksiko 14,7 persen, dan Australia 12,9 persen.
Di kawasan Asia Tenggara, rasio milik Indonesia tercatat berada di bawah capaian Singapura dan Thailand dengan Bank of Thailand. Namun, tingginya nilai rasio tidak secara otomatis menandakan bahwa kondisi perekonomian suatu negara jauh lebih kuat.
Besaran neraca moneter sangat bergantung pada strategi kebijakan instrumen keuangan yang diterapkan oleh masing-masing pemerintah. Pembelian obligasi dalam jumlah besar ketika krisis dapat meningkatkan neraca, tetapi tidak serta-merta membuat negara menjadi lebih kaya.
Baca juga: Riset Terbaru World Bank: Kemiskinan Indonesia Tembus 64,2 Persen
Nah Warginet, posisi Indonesia dalam pemeringkatan nilai aset bank sentral ini memberikan gambaran objektif mengenai peta kebijakan ekonomi global. Pemahaman terhadap dinamika finansial dunia sangat penting untuk terus mengawal arah stabilitas perekonomian di Tanah Air.






