Infogarut

Studi FENS: Sering Bicara Banyak Bahasa Bikin Otak 13 Tahun Lebih Muda

M
Muhamad Renaldi SPublisher
14 September 2026 pukul 04.27 3 menit baca
Studi FENS: Sering Bicara Banyak Bahasa Bikin Otak 13 Tahun Lebih Muda
Studi FENS: Sering Bicara Banyak Bahasa Bikin Otak 13 Tahun Lebih Muda, Source: Istimewa

Kemampuan berbicara dalam banyak bahasa ternyata tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, melainkan juga ampuh menjaga kesehatan organ saraf manusia. Hal tersebut terbukti berdasarkan riset ilmiah terbaru yang dipublikasikan oleh para ahli.

Baca juga: Kemampuan Bahasa Inggris Indonesia Masih di Bawah Sejumlah Negara Asia

Dampak Bicara Banyak Bahasa Bagi Otak

Mengutip CNN Indonesia, studi organisasi Federation of European Neuroscience Societies (FENS) menemukan bahwa kebiasaan multilingual mampu memperlambat penuaan. Aktivitas jaringan saraf para penguasanya tercatat jauh lebih muda dibandingkan dengan individu monolingual.

Penelitian ilmiah tersebut melibatkan partisipan sebanyak 728 orang dari wilayah Basque, Spanyol. Seluruh sukarelawan dalam pengujian medis tersebut dilaporkan memiliki keahlian berkomunikasi hingga menggunakan empat jenis bahasa yang berbeda.

Tim peneliti memanfaatkan peralatan canggih guna mendeteksi pancaran medan magnetik dari sel saraf aktif. Data rekaman pancaran tersebut lantas digunakan untuk menciptakan sistem indikator khusus bernama aging clock atau jam penuaan otak.

Sistem indikator pengukuran berbasis magnetik ini kemudian diterapkan kembali terhadap 144 responden dari kelompok pembanding. Langkah pengujian lanjutan tersebut bertujuan memvalidasi korelasi langsung antara keahlian linguistik dengan tingkat usia biologis organ.

Hasil pengamatan menunjukkan perbedaan nyata pada individu penutur dua bahasa yang otaknya tampak enam tahun lebih muda. Sementara itu, penutur tiga bahasa tercatat memiliki performa organ tujuh tahun lebih muda.

"Penguasaan bahasa yang lebih tinggi dan mulai mempelajari bahasa kedua sejak lebih awal juga berkaitan dengan penuaan otak yang lebih lambat," papar Lucia Amoruso, selaku pemimpin kelompok penelitian di Bosque on Cognition, Brain, and Language di San Sebastian, Spanyol, dikutip dari Real Simple.

Faktor Penentu Kesehatan Otak Manusia

Puncak perbedaan signifikan terjadi pada individu yang mampu menuturkan empat bahasa secara lancar dengan selisih mencapai 13 tahun. Temuan riset mengindikasikan bahwa manfaat kesehatan ini berkaitan erat dengan intensitas serta durasi pemakaian.

Meskipun berpengaruh, para ahli menegaskan bahwa penguasaan linguistik bukanlah faktor tunggal yang menentukan kebugaran organ saraf. Penerapan gaya hidup sehat dan partisipasi aktif dalam kegiatan sosial juga memegang peranan vital.

Riset lanjutan dijadwalkan akan meneliti tingkat kontrol otak saat seseorang berganti antara dua bahasa yang memiliki kemiripan. Pengujian tersebut bakal membandingkan proses peralihan tutur kata sejenis dengan penggunaan dua bahasa berbeda.

Akademisi Christina Dalla dari Medical School of the National and Kapodistrian University of Athens menyambut positif temuan medis ini. Pembelajaran bahasa baru sangat disarankan untuk terus didukung sejak bangku sekolah hingga dewasa.

"Karena itu, kita perlu mendukung pembelajaran bahasa di sekolah dan sepanjang kehidupan, meskipun prosesnya tidak selalu mudah," ucap Christina Dalla.

Baca juga: 5 Metode Belajar Efektif agar Materi Cepat Masuk dan Mudah Diingat

Bagi Warginet, membiasakan diri untuk berbicara dalam banyak bahasa bisa menjadi investasi jangka panjang demi menjaga daya ingat. Keahlian berbahasa asing dipastikan sanggup mendukung kesehatan organ otak hingga memasuki usia lanjut.

Diskusi (0)

Bergabunglah dalam Diskusi

Silakan masuk dengan akun Anda untuk menulis komentar dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.

Lanjut Membaca