Infogarut

Mengulik Sastra Lisan Makam Cinunuk dan Surak Ibra Sebagai Warisan Tak Benda Yang Harus Mendunia

I
InfogarutPublisher
17 Agustus 2026 pukul 16.00 5 menit baca
Mengulik Sastra Lisan Makam Cinunuk dan Surak Ibra Sebagai Warisan Tak Benda Yang Harus Mendunia
AI

Masyarakat di Kabupaten Garut lahir dan tumbuh di dalam lingkungan yang kaya akan budaya, tradisi, dan warisan leluhur. Warisan ini hidup melalui tutur kata, tradisi, musik, ritual, hingga kesenian rakyat yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu kekayaan budaya yang menarik untuk diulik adalah sastra lisan makam Cinunuk dan surak ibra yang berasal dari Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut.

Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari identitas masyarakat lokal, tetapi juga memiliki nilai sejarah, spiritual, dan sosial yang kuat. Sastra lisan muncul dari tradisi lisan dalam suatu komunitas masyarakat tertentu berupa pengetahuan, adat kebiasaan, cerita rakyat, legenda, hukum adat, mitos, dan budaya yang disampaikan secara lisan dan turun-temurun (Baihaqi, 2017).

Sastra lisan lahir sebelum masyarakat mengenal tulisan sehingga menjadi media utama dalam menyampaikan nilai kehidupan. Dalam konteks makam Cinunuk, sastra lisan berkembang melalui kisah-kisah yang berkaitan dengan sejarah tokoh, nilai religius, hingga tradisi masyarakat sekitar makam. Cerita tersebut disampaikan dari generasi ke generasi sehingga membentuk identitas budaya yang tetap hidup hingga saat ini.

Makam Cinunuk dikenal sebagai salah satu situs budaya dan religi yang memiliki nilai sejarah di Kabupaten Garut. Tempat ini tidak hanya dipandang sebagai area pemakaman biasa, tetapi juga sebagai ruang budaya yang menyimpan berbagai kisah masyarakat zaman dulu. Banyak cerita rakyat yang berkembang di sekitar makam Cinunuk, mulai dari kisah perjuangan tokoh agama, petuah kehidupan, hingga nilai moral yang menjadi pedoman masyarakat.

Salah satu yang menjadi tokoh di makam Cinunuk adalah Raden Wangsa Muhamad atau lebih dikenal dengan nama Eyang Papak. Tradisi bertutur mengenai sejarah makam tersebut menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial warga setempat. Keberadaan sastra lisan makam Cinunuk menjadi bukti bahwa budaya tidak selalu hadir dalam bentuk secara fisik. Justru, nilai terbesar dari budaya sering kali terletak pada cerita dan makna yang diwariskan oleh masyarakatnya.

Melalui sastra lisan, masyarakat Cinunuk mampu menjaga hubungan antara masa lalu dan masa kini. Anak-anak muda dapat mengenal sejarah daerahnya bukan hanya melalui buku, tetapi juga melalui cerita yang disampaikan secara langsung oleh para sesepuh. Hal ini menciptakan kedekatan emosional sekaligus memperkuat identitas budaya lokal.

Salah satu hal yang membuat sastra lisan makam Cinunuk menarik adalah nilai moral yang terkandung di dalamnya. Cerita-cerita yang diwariskan tidak hanya bertujuan sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pendidikan karakter. Masyarakat diajarkan tentang pentingnya menghormati orang tua, menjaga kebersamaan, memiliki sikap rendah hati, dan menjunjung nilai religius dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk karakter masyarakat Garut yang dikenal ramah dan menjunjung tinggi adat istiadat. Di tengah arus globalisasi yang semakin pesat, keberadaan sastra lisan menghadapi tantangan besar. Modernisasi membuat generasi muda lebih akrab dengan budaya populer dibandingkan tradisi daerahnya sendiri. Banyak tradisi lisan perlahan mulai terlupakan karena kurangnya dokumentasi dan regenerasi.

Oleh sebab itu, sastra lisan makam Cinunuk perlu mendapatkan perhatian serius sebagai warisan budaya tak benda yang harus dijaga keberlangsungannya. Upaya pelestarian dapat dilakukan melalui pendidikan, festival budaya, digitalisasi cerita rakyat, hingga keterlibatan generasi muda dalam kegiatan budaya daerah.

Sastra lisan makam Cinunuk memiliki korelasi yang erat dengan kesenian surak ibra, yaitu kesenian tradisional khas Garut yang memadukan musik, gerakan, serta sorak-sorai penuh semangat. Kesenian ini lahir dari tradisi masyarakat dalam menyambut kemenangan atau mengekspresikan rasa syukur.

Dalam pertunjukannya, surak ibra tidak hanya menampilkan hiburan semata, tetapi mengandung nilai kebersamaan, semangat perjuangan, dan religius masyarakat Sunda. Pada tahun 1979 surak ibra pernah mengikuti event nasional mewakili provinsi Jawa Barat dan meraih peringkat kedua se-Nasional. Kemudian pada tahun 2022 resmi diakui oleh Kementrian Pendidikan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI sebagai “Warisan Budaya Tak Benda” yang berasal dari Jawa Barat, (Falah, 2024).

Keterkaitan antara sastra lisan makam Cinunuk dan surak ibra dilihat dari fungsinya yaitu sebagai media yang mewariskan nilai budaya. Sastra lisan menyampaikan nilai melalui cerita dan petuah, sedangkan surak ibra menyampaikan pesan budaya melalui musik dan pertunjukan. Keduanya sama-sama menjadi sarana komunikasi budaya yang menghubungkan masyarakat dengan tradisi.

Selain itu, kedua warisan budaya tersebut sama-sama tumbuh dari kehidupan masyarakat yang religius. Nilai gotong-royong, solidaritas, serta penghormatan terhadap leluhur menjadi fondasi utama dalam sastra lisan maupun surak ibra. Ketika masyarakat berkumpul dalam sebuah pertunjukan surak ibra, yang hadir bukan hanya hiburan, melainkan ruang sosial yang mempererat hubungan antarmasyarakat.

Hal ini serupa dengan tradisi sastra lisan di Makam Cinunuk yang menjadi media berkumpulnya masyarakat untuk mendengar kisah dan petuah kehidupan.

Jika dikaji lebih dalam, sastra lisan dan surak ibra memiliki potensi besar untuk dikenal di tingkat yang lebih luas. Walaupun surak ibra sudah diakui sebagai warisan tak benda, namun masih banyak masyarakat di Kabupaten Garut yang belum mengenal keberadaannya. Oleh karena itu, agar dapat dikenal luas, diperlukan langkah nyata dari berbagai pihak.

Pemerintah daerah dapat mengadakan festival budaya yang mengangkat sastra lisan dan surak ibra sebagai tema utama. Sekolah dan perguruan tinggi juga dapat menjadikan budaya lokal sebagai bagian dari pembelajaran agar generasi muda lebih mengenal identitas daerahnya. Selain itu, media sosial dapat dimanfaatkan sebagai sarana promosi budaya yang efektif.

Konten berupa dokumentasi cerita rakyat, pertunjukan surak ibra, hingga wawancara dengan budayawan dapat menarik perhatian masyarakat luas, khususnya generasi muda. Apalagi dunia saat ini sudah mulai memberikan perhatian besar terhadap warisan budaya tak benda karena dianggap sebagai identitas penting suatu bangsa. UNESCO sendiri telah menetapkan berbagai tradisi budaya dunia sebagai warisan tak benda yang harus dilindungi.

Oleh karena itu, sastra lisan makam Cinunuk dan kesenian surak ibra memiliki peluang besar untuk dikenal sebagai kekayaan budaya Kabupaten Garut yang mendunia.

Penulis: Salma Patimah

Penyunting: Fadillah Nurkalam dan Reni Mardiani

====

50 Tulisan Pilihan dari Penulis Terbaik Infogarut Write Fest 2.0

Perjalanan, cerita, keresahan, hingga sudut pandang tentang Garut terangkum dalam 50 tulisan pilihan dari para penulis terbaik Infogarut Write Fest 2.0.

Setiap tulisan membawa cerita dan perspektif yang berbeda, menjadi bagian dari rekaman kecil tentang Garut dan segala dinamikanya.

📖 Ingin membaca cerita selengkapnya?

Yuk, temukan 50 tulisan pilihan tersebut dalam e-book Infogarut Write Fest 2.0 melalui link berikut:

🔗 [LINK E-BOOK]

Selamat membaca dan menikmati cerita dari para penulis Garut!

Diskusi (0)

Bergabunglah dalam Diskusi

Silakan masuk dengan akun Anda untuk menulis komentar dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.

Lanjut Membaca