Infogarut

Anak Garut Tidak Butuh Penonton Mereka Butuh Penjelajah

I
InfogarutPublisher
18 Agustus 2026 pukul 05.10 4 menit baca
Anak Garut Tidak Butuh Penonton Mereka Butuh Penjelajah

Saya ingin mengajukan sebuah pertanyaan yang mungkin terdengar tidak nyaman seberapa banyak anak muda Garut yang benar-benar mengenal kotanya sendiri bukan dari reels Instagram, bukan dari artikel travel blogger luar kota, Tetapi dari pengalaman kaki mereka sendiri yang pernah menginjak tanah basah di balik bukit yang tidak ada di peta wisata manapun? Saya menduga jawabannya lebih sedikit dari yang kita harapkan.

Dan itu bukan salah mereka  itu adalah gejala dari sebuah masalah yang lebih dalam: kita telah membangun generasi yang mengonsumsi kotanya sendiri seperti konten, bukan seperti rumah.

Garut hari ini menghadapi ironi yang menyakitkan. Di satu sisi, kota ini dibanjiri pujian destinasi wisata yang terus tumbuh, budaya lokal yang mulai dilirik media nasional, julukan "Swiss van Java" yang kembali digaungkan. Di sisi lain, narasi tentang Garut justru lebih sering dibentuk oleh orang-orang yang datang dari luar: kreator konten dari Jakarta yang singgah sehari dua hari, jurnalis yang menulis dari hasil wawancara singkat, wisatawan yang mengabadikan momen lalu pergi.

Hasilnya, Garut dirayakan dari luar, tetapi tidak sepenuhnya dikenali dari dalam. Kita tahu bagaimana Garut terlihat dari foto, tetapi belum tentu tahu bagaimana Garut terasa ketika kita duduk lama di sana dan benar-benar mendengarkan.

Inilah yang mendorong lahirnya Budaksara “Budaya Eksplorasi Bersama “ sebuah komunitas gerakan yang mengajak seluruh kalangan muda Garut untuk menjelajahi, mendokumentasikan, dan menyebarluaskan kekayaan wisata dan budaya Garut secara langsung, kolaboratif, dan berkelanjutan. Bukan komunitas jalan-jalan. Bukan sekadar akun konten kreator.

Budaksara adalah tawaran untuk mengubah posisi anak muda Garut dari penonton menjadi penjelajah dari konsumen cerita menjadi penulisnya. Saya percaya ada perbedaan fundamental antara mengetahui dan mengenal. Kita bisa mengetahui bahwa Candi Cangkuang adalah satu-satunya candi Hindu di tanah Sunda dari Wikipedia.

Tetapi mengenal Candi Cangkuang berarti pernah duduk di perahu bambu yang mengayuh pelan di atas Situ Cangkuang sambil bertanya-tanya bagaimana mungkin sebuah candi dan sebuah makam Islam bisa berdiri berdampingan selama berabad-abad tanpa saling menghapus.

Rasa ingin tahu semacam itu tidak bisa tumbuh dari algoritma  ia hanya bisa tumbuh dari kehadiran fisik, dari momen ketika tubuh kita benar-benar ada di sana dan pikiran kita dipaksa untuk merespons.

Budaksara membangun pengalaman semacam itu melalui eksplorasi terstruktur. Setiap perjalanan dirancang bukan sekadar sebagai wisata, melainkan sebagai proses dokumentasi bersama. Setiap anggota memiliki peran  ada yang merekam visual, ada yang mewawancarai warga lokal, ada yang menulis narasi, ada yang memetakan rute.

Hasilnya dikurasi menjadi arsip digital terbuka: artikel, video, foto esai, peta interaktif  perpustakaan hidup tentang Garut yang dibuat oleh anak Garut, untuk semua orang. Ini bukan konten yang menguap dalam dua hari. Ini adalah warisan yang bisa dibaca generasi berikutnya. Lebih dari itu, Budaksara bergerak dengan keyakinan bahwa pelestarian budaya dan pengembangan wisata tidak bisa berjalan sendiri-sendiri.

Ketika anggota komunitas mendokumentasikan pengrajin kulit di Sukaregang, mereka sekaligus membantu promosi UMKM tersebut. Ketika mereka merekam pertunjukan degung di sudut kampung yang jarang dikunjungi, mereka memperpanjang usia seni itu dalam format yang tahan zaman. Eksplorasi bukan hanya tentang menemukan  ia juga tentang menjaga.

Ada yang bilang generasi muda sekarang tidak peduli dengan tradisi dan warisan lokal. Saya tidak setuju. Yang kurang bukan kepedulian yang kurang adalah ruang dan komunitas yang memberi mereka alasan untuk peduli secara aktif, bukan pasif. Tidak ada anak muda yang akan jatuh cinta pada sesuatu yang hanya ia lihat dari kejauhan.

Tetapi anak muda yang pernah duduk di tepi Curug Orok sambil mencatat cerita warga sekitar, yang pernah ikut mengaduk adonan dodol selama enam jam dan merasakan pegalnya di tangan  anak muda itu tidak akan pernah acuh terhadap kotanya sendiri.

Itulah tujuan utama Budaksara, dan itu pula yang saya yakini sebagai kunci masa depan Garut: bukan infrastruktur wisata yang lebih mewah, bukan kampanye media sosial yang lebih  viral melainkan generasi muda yang benar-benar mengenal, mencintai, dan merasa bertanggung jawab atas kotanya.

Generasi yang tidak sekadar bangga dengan Garut di caption Instagram, tetapi bangga karena mereka tahu cerita di balik setiap bukit dan setiap wajah di sana.

Garut sudah terlalu lama menjadi tujuan orang lain. Sudah saatnya ia menjadi titik berangkat bagi anak-anaknya sendiri mereka yang memilih jalan setapak, bukan jalan pintas; yang memilih mengenal, bukan sekadar mengetahui.

Penulis: Aley Akbar Firmansyah

Penyunting: Fadillah Nurkalam dan Reni Mardiani

====

50 Tulisan Pilihan dari Penulis Terbaik Infogarut Write Fest 2.0

Perjalanan, cerita, keresahan, hingga sudut pandang tentang Garut terangkum dalam 50 tulisan pilihan dari para penulis terbaik Infogarut Write Fest 2.0.

Setiap tulisan membawa cerita dan perspektif yang berbeda, menjadi bagian dari rekaman kecil tentang Garut dan segala dinamikanya.

📖 Ingin membaca cerita selengkapnya?

Yuk, temukan 50 tulisan pilihan tersebut dalam e-book Infogarut Write Fest 2.0 melalui link berikut:

🔗 [LINK E-BOOK]

Selamat membaca dan menikmati cerita dari para penulis Garut!

Diskusi (0)

Bergabunglah dalam Diskusi

Silakan masuk dengan akun Anda untuk menulis komentar dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.

Lanjut Membaca