Infogarut

Membasuh Rindu di Pancuran Ciburial: Rekonstruksi Budaya dan Strategi Keberlanjutan Wisata di Tanah Samarang

I
InfogarutPublisher
17 Agustus 2026 pukul 04.56 4 menit baca
Membasuh Rindu di Pancuran Ciburial: Rekonstruksi Budaya dan Strategi Keberlanjutan Wisata di Tanah Samarang
AI

Garut selalu punya cara sendiri untuk merayu ingatan. Kabupaten yang dijuluki "Paris van Java" versi kecil ini tidak hanya menawarkan deretan pegunungan yang memagari kota, tetapi juga menyimpan rahasia-rahasia kecil dibalik kelokan jalannya.

Pagi itu, kendaraan saya bergerak meninggalkan pusat kota Garut, menuju ke arah barat daya, menanjak perlahan melewati hamparan sawah yang tampak seperti permadani hijau yang tak berujung. Tujuan saya adalah Desa Wisata Saung Ciburial, sebuah pemukiman yang terletak di Desa Sukalaksana, Kecamatan Samarang.

Sebuah tempat yang belakangan ini kerap disebut sebagai standar emas pengelolaan desa wisata berbasis masyarakat di Indonesia.

Langkah kaki saya kembali beradu dengan tanah basah Desa Sukalaksana, namun kali ini dengan rasa yang berbeda; bukan lagi sekadar mahasiswa yang datang dengan buku catatan dan kamera untuk menuntaskan observasi tugas mata kuliah Laboratorium Destinasi, melainkan sebagai seorang peziarah rasa yang rindu akan ketulusan tradisi.

Di balik kabut tipis yang menyelimuti Samarang, aroma tanah dan bunyi dentum besi dari kejauhan seolah memanggil kembali memori tentang sebuah tempat dimana waktu seolah melambat untuk memberi ruang bagi kearifan lokal bernapas.

Desa Wisata Saung Ciburial menyapa saya layaknya kawan lama, membuktikan bahwa data-data teknis yang dulu saya kumpulkan di lapangan tak akan pernah mampu melukiskan seutuhnya kehangatan magis yang memancar dari setiap jengkal pematang sawahnya.

Dahulu, saya membedah tempat ini melalui tabel analisis SWOT dan angka-angka kunjungan wisatawan yang acak, mencoba merangkum denyut kehidupan desa ke dalam lembaran laporan akademik yang kaku. Namun, begitu saya kembali menyusuri pemukiman yang dipeluk udara dingin pegunungan ini, saya menyadari bahwa Ciburial adalah sebuah narasi yang tak habis dibaca dalam satu semester.

Ada sebuah kejujuran yang tidak bisa diformulasikan dalam teori mana pun, sebuah simfoni yang tercipta dari gemericik air yang keluar dari rahim bumi, berpadu dengan kepul asap dari tungku-tungku para perajin yang tetap setia menjaga api warisan leluhur mereka.

Di titik inilah, pandangan saya beralih dari sekadar pengamat menjadi penikmat, mencoba memaknai kembali apa yang membuat tempat ini tetap berdiri tegak di tengah arus modernisasi yang kian deras. Ciburial, yang secara harfiah berarti air yang membual atau memancar, benar-benar menjadi cermin bagi semangat masyarakatnya yang tak pernah kering dalam berinovasi.

Melalui perjalanan ini, saya mengajak Anda untuk menanggalkan sejenak hiruk-pikuk dunia luar dan menyelami lebih dalam bagaimana sebuah desa kecil di kaki Gunung Cikuray mampu merekonstruksi budaya dan strategi keberlanjutannya dengan begitu inovatif.

Garut selalu memiliki narasi yang kuat mengenai lanskap pegunungan dan kearifan lokalnya yang kental. Di antara sekian banyak destinasi yang tumbuh di kaki Gunung Cikuray, Desa Wisata Saung Ciburial yang terletak di Desa Sukalaksana, Kecamatan Samarang, muncul sebagai prototipe laboratorium budaya yang hidup.

Secara etimologis, nama "Ciburial" berasal dari bahasa Sunda; Ci yang berarti air, dan Burial yang bermakna membual atau memancar keluar dari bawah tanah. Nama ini bukan sekadar identitas geografis, melainkan manifestasi dari semangat masyarakatnya yang terus memancarkan inovasi tanpa sedikit pun meninggalkan akar tradisi.

Destinasi ini bukanlah sebuah objek wisata yang dibangun secara instan melalui intervensi semen dan beton yang masif. Sebaliknya, Saung Ciburial adalah sebuah ekosistem yang tumbuh dari kesadaran kolektif masyarakat melalui BUMDes Bina Laksana.

Sebagai desa yang telah diakui dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI), Ciburial menawarkan sebuah konsep perjalanan yang lebih dari sekadar swafoto estetik. Ia menyuguhkan perjalanan spiritual dan edukatif menuju nilai-nilai luhur kemasyarakatan Sunda yang kini langka ditemui di pusat-pusat kota.

Di sini, wisatawan diajak untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk modernitas dan kembali merasakan ritme kehidupan yang santai namun penuh makna.

Penulis:  Deti Putri Akmal

Penyunting: Fadillah Nurkalam dan Reni Mardiani

====

50 Tulisan Pilihan dari Penulis Terbaik Infogarut Write Fest 2.0

Perjalanan, cerita, keresahan, hingga sudut pandang tentang Garut terangkum dalam 50 tulisan pilihan dari para penulis terbaik Infogarut Write Fest 2.0.

Setiap tulisan membawa cerita dan perspektif yang berbeda, menjadi bagian dari rekaman kecil tentang Garut dan segala dinamikanya.

📖 Ingin membaca cerita selengkapnya?

Yuk, temukan 50 tulisan pilihan tersebut dalam e-book Infogarut Write Fest 2.0 melalui link berikut:

🔗 [LINK E-BOOK]

Selamat membaca dan menikmati cerita dari para penulis Garut!

Diskusi (0)

Bergabunglah dalam Diskusi

Silakan masuk dengan akun Anda untuk menulis komentar dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.

Lanjut Membaca