Warginet, pernah nggak mendengar nama jajanan yang bikin langsung bertanya-tanya, “Ini makanan apa, ya?”
Kalau ngomongin jajanan Sunda, ada banyak nama yang mungkin terdengar asing buat generasi sekarang. Sebut saja gurandil, awug, putri noong, sampai ciwel.
Namanya memang unik, tapi jangan salah. Di balik nama yang bikin penasaran, jajanan ini punya rasa yang sederhana, familiar, dan justru bikin kangen jajanan zaman dulu.
Menariknya, nama-nama tersebut juga nggak muncul begitu saja. Ada yang berkaitan dengan bentuk makanan, bahasa Sunda, hingga cara orang zaman dulu mengenal jajanan tersebut.
Penasaran seperti apa? Yuk, kenalan dengan beberapa jajanan Sunda yang namanya unik, tapi rasanya nggak main-main!
Baca Juga: Kenapa Jajanan Sunda Banyak Menggunakan Daun Pisang? Ini Alasannya
1. Gurandil, Kenyal-Manis yang Bikin Susah Berhenti
Gurandil mungkin jadi salah satu nama jajanan yang cukup bikin penasaran.
Jajanan ini dibuat dari bahan dasar tepung tapioka atau aci, kemudian dibentuk kecil-kecil dan diberi warna. Gurandil biasanya disajikan dengan kelapa parut dan gula, sehingga rasanya perpaduan antara manis dan gurih.
Teksturnya yang kenyal juga menjadi ciri khasnya. Sekilas, gurandil memang mirip dengan cenil yang sama-sama sering ditemukan sebagai jajanan pasar.
Namanya unik, tampilannya sederhana, tapi sekali dicoba bisa bikin nostalgia sama jajanan pasar zaman dulu.
2. Awug, Si Legit yang Enak Dimakan Hangat
Selanjutnya ada awug.
Jajanan tradisional Sunda ini dibuat dari tepung beras, kelapa parut, gula merah atau gula aren, dan pandan. Adonannya kemudian dikukus menggunakan kukusan tradisional berbentuk kerucut.
Dari tampilannya saja sudah cukup khas. Ada bagian putih dari tepung beras dan warna cokelat dari gula merah.
Soal rasa, awug punya perpaduan manis legit dan gurih kelapa. Apalagi kalau disantap saat masih hangat, rasanya makin nikmat.
Namanya cuma “awug”, tapi rasanya? Nggak sesingkat namanya.
3. Putri Noong, Pisangnya Seolah Lagi Ngintip
Kalau mendengar putri noong, namanya mungkin bikin Warginet bertanya-tanya.
Ternyata, noong dalam bahasa Sunda berarti mengintip. Nama ini berkaitan dengan bentuk makanannya, karena potongan pisang di bagian tengah terlihat seperti sedang mengintip dari balik lapisan singkong.
Bahan utamanya cukup sederhana, yaitu singkong dan pisang. Setelah dikukus, putri noong biasanya disajikan bersama parutan kelapa.
Hasilnya? Teksturnya lembut dan kenyal, dengan rasa manis dari singkong dan pisang serta gurih dari kelapa.
Jadi, bukan putrinya yang benar-benar sedang noong, ya, Warginet.
4. Ciwel, Olahan Singkong yang Nggak Kalah Unik
Ada juga ciwel, jajanan tradisional yang berbahan dasar singkong.
Ciwel dikenal sebagai salah satu olahan singkong dalam kuliner Sunda. Teksturnya lembut dan rasanya cenderung manis, sehingga biasanya cocok disantap sebagai camilan atau jajanan pasar.
Dari bahan saja sebenarnya sederhana banget. Tapi seperti banyak jajanan tradisional lainnya, justru dari bahan sederhana inilah lahir makanan yang punya ciri khas sendiri.
Namanya mungkin sudah jarang terdengar sekarang, tapi buat yang pernah mencicipinya, ciwel bisa jadi membawa ingatan ke jajanan pasar zaman dulu.
5. Leupeut, Bukan Sekadar Nasi yang Dibungkus Daun
Leupeut juga punya nama yang nggak kalah unik.
Jajanan ini umumnya dibuat dari beras atau ketan yang dibungkus menggunakan daun, kemudian dimasak hingga matang. Isinya bisa berupa kacang atau bahan lainnya, tergantung jenis dan pembuatannya.
Bentuknya memang sederhana, tapi cara membungkusnya menjadi salah satu ciri khas leupeut.
Dan buat Warginet yang sedang belajar bahasa Sunda, jangan sampai salah tulis atau salah sebut juga. Leupeut punya bunyi eu yang khas dalam bahasa Sunda.
6. Ali Agrem, Bentuknya Mirip Cincin
Terakhir ada ali agrem.
Jajanan tradisional ini memiliki bentuk khas seperti cincin dan dibuat menggunakan bahan seperti tepung beras dan gula merah, kemudian digoreng.
Rasa manis dari gula merah menjadi salah satu karakter yang membuat ali agrem berbeda dari jajanan kekinian yang mungkin lebih sering kita temui sekarang.
Bentuknya sederhana, namanya juga unik. Tapi justru itu yang membuat ali agrem punya daya tarik tersendiri sebagai jajanan tradisional.
Ternyata, Nama Jajanan Sunda Punya Cerita
Kalau diperhatikan, nama gurandil, awug, putri noong, ciwel, leupeut, dan ali agrem memang terdengar nggak biasa.
Tapi, keunikan itu justru menjadi bagian dari identitas jajanan tradisional. Penamaan jajanan di Jawa Barat bisa berkaitan dengan bentuk, bahan, rasa, maupun bahasa dan budaya masyarakat setempat.
Sayangnya, beberapa nama jajanan seperti ini mungkin sudah nggak sesering dulu terdengar, terutama di kalangan anak muda.
Padahal, sebelum jajanan kekinian memenuhi media sosial, jajanan pasar seperti inilah yang menemani banyak orang saat ngemil.
Jangan Cuma Penasaran Sama Namanya!
Dari gurandil yang kenyal, awug yang legit, putri noong yang punya pisang “mengintip”, sampai ciwel dan ali agrem yang namanya nggak kalah unik, ternyata jajanan Sunda punya banyak cerita menarik.
Warginet, mungkin sekarang jajanan viral lebih gampang ditemukan di media sosial. Tapi sesekali, nggak ada salahnya berburu jajanan tradisional yang namanya sudah akrab di telinga generasi sebelumnya.
Baca Juga: Bangkerok, Jajanan Ketan Khas Sunda yang Mulai Jarang Dikenal
Siapa tahu bukan cuma rasanya yang bikin suka, tapi juga ceritanya yang bikin kita makin kenal sama kuliner dan bahasa Sunda.
Karena jajanan tradisional nggak selalu harus kekinian untuk bisa bikin ketagihan.
Sumber: DetikJabar, RRI, Indonesia.go.id, serta kajian yang tersedia melalui Garuda Kemdikbud.
Penulis: Mutiara Lestari






