Infogarut

DARI SAWAH KE FESTIVAL DUNIA: LAYANGAN SEBAGAI IDENTITAS BUDAYA GARUT

I
InfogarutPublisher
6 Juni 2026 pukul 08.12 2 menit baca
DARI SAWAH KE FESTIVAL DUNIA: LAYANGAN SEBAGAI IDENTITAS BUDAYA GARUT
AI Gemini

Ada sesuatu yang berbeda di langit Garut saat sore tiba. Bukan awan, bukan burung, tapi warna-warna yang bergerak: merah, kuning, biru, melayang di atas hamparan sawah yang mulai menguning. Anak-anak berlarian di pematang, tali di tangan mereka tegang seperti memegang sesuatu yang benar-benar hidup. Di kejauhan, suara dengung layang-layang besar memecah angin. Melihat itu semua, ada perasaan yang sulit dijelaskan semacam rasa familiar yang datang bukan dari ingatan pribadi, tapi dari sesuatu yang jauh lebih dalam. Sesuatu yang terasa seperti akar.

Layangan bukan hal baru di Garut. Ia tumbuh di sini dengan caranya sendiri di halaman rumah, di lapangan desa, di pinggir sawah dan berkembang bukan karena ada program dari atas, tapi karena masyarakatnya sendiri yang mencintainya. Ia bukan artefak budaya yang disimpan di balik kaca museum. Ia masih hidup, masih bergerak, dan masih berarti. Menurut Koentjaraningrat (1990), kebudayaan yang bertahan bukan karena dipaksakan, melainkan karena ia menjadi bagian organik dari kehidupan sosial masyarakatnya dan layangan di Garut adalah contoh nyata dari prinsip itu.

Kalau diperhatikan lebih seksama, budaya layangan bukan sekadar soal permainan. Ia adalah tentang pertemuan. Setiap kali ada festival layangan atau bahkan sekadar sesi bermain di lapangan desa yang berkumpul bukan hanya anak-anak. Ada bapak-bapak yang tiba-tiba lupa usia dan ikut pegang tali. Ada ibu-ibu yang duduk menonton sambil ngobrol. Ada pedagang cilok yang muncul entah dari mana. Dalam satu sore, layangan bisa menyatukan orang-orang yang mungkin tidak punya alasan lain untuk berkumpul. Ia berfungsi sebagai perekat sosial apa yang oleh Putnam (2000) disebut sebagai modal sosial berbasis komunitas, sebuah kekuatan yang sering tidak terlihat tapi sangat terasa ketika hilang.

Di beberapa wilayah di Garut, tradisi ini bahkan punya kedalaman yang melampaui sekadar hiburan. Ada layangan yang dibuat dengan perhitungan khusus, ada yang diwariskan desainnya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Setiap corak, setiap motif, punya cerita. Ini yang membuatnya berbeda dari sekadar hobi ia membawa nilai-nilai yang tidak bisa diukur dengan angka: kesabaran dalam membuat, kebersamaan dalam bermain, dan rasa bangga ketika layangan buatan sendiri berhasil terbang tinggi. UNESCO (2003) menegaskan bahwa warisan budaya takbenda seperti ini adalah bagian dari identitas dan martabat komunitas, bukan sekadar pertunjukan untuk wisatawan.


Baca Selengkapnya di link

Penulis
Nurul Habibah

Diskusi (0)

Bergabunglah dalam Diskusi

Silakan masuk dengan akun Anda untuk menulis komentar dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.

Lanjut Membaca