Pernahkah Warginet membayangkan betapa ngerinya penderitaan dari ratusan ribu rakyat tidak berdosa yang seketika merasakan kematian perlahan akibat serangan senjata? Momentum peringatan Hari Hiroshima ini kembali memberikan teguran keras mengenai hadirnya ancaman luar biasa bagi keselamatan umat manusia.
Baca juga: Peringatan Sejarah Kelam Hari Hiroshima Di Setiap Tanggal 6 Agustus
Kelumpuhan Fasilitas Medis Darurat
Mengutip laporan riset International Event Day, infrastruktur medis kota hancur berantakan sewaktu bencana bom dahsyat menghantam 2 kawasan padat penduduk. Bencana tersebut menyebabkan gugurnya 90% petugas tenaga kesehatan andal sehingga tidak ada satu pun pusat perawatan klinis bagi korban luka.
Kehancuran fasilitas ini memaksa para penyintas ledakan menderita kesakitan luar biasa tanpa mendapatkan pasokan obat penawar nyeri secara memadai secepatnya. Setelah beberapa waktu berlalu, sejumlah sukarelawan akhirnya membangun tenda posko perawatan medis darurat yang disiagakan di wilayah sisa pinggiran kota.
Para petugas kesehatan sukarela ini terus berjuang keras merawat banyak pasien berbekal peralatan klinis medis yang sudah sangat tidak ideal. Mereka kala itu hanya bisa mengandalkan sebotol minyak serta racikan obat salep seadanya demi menutupi jaringan luka bakar super parah.
Terbatasnya pasokan bantuan krusial itu memicu insiden lonjakan drastis kasus kematian medis sepanjang masa pada hari pertama serta hari kedua. Sebanyak ratusan korban kritis gugur sia-sia karena menderita kebocoran perdarahan organ vital serta mengalami krisis dehidrasi parah di tempat pengungsian.
Risiko Penyakit Jangka Panjang
Ketika menyentuh masa pergeseran antara lima hingga enam tahun usai tragedi pemboman atom itu berlalu, pasien penderita leukemia mendadak bertambah. Partikel sebaran debu radiasi perlahan merusak tatanan genetik para korban, sehingga sumsum tulang memproduksi sel darah putih dalam jumlah abnormal.
Usai melewati masa krisis selama satu dekade, ancaman gangguan kesehatan nyatanya semakin memburuk seiring bermunculannya beragam penyakit tumor yang sangat ganas. Persentase kasus kerusakan organ vital semacam kanker payudara dan sel paru-paru perlahan merangkak naik tajam hingga sanggup melewati batas normal.
Bagi kelompok ibu hamil yang secara tidak sengaja ikut terpapar, mereka memiliki persentase peluang jauh lebih besar untuk mengalami keguguran. Bayi yang akhirnya selamat terpaksa hidup dengan membawa kelainan intelektual parah, disabilitas tulang, serta potensi mutasi dan ancaman penyakit kanker mematikan.
Baca juga: Mengenal Idham Chalid, Ketua DPR “Termiskin” yang Haramkan Fasilitas Negara untuk Keluarganya
Rentetan penderitaan warga sipil di masa lalu tersebut wajib terus kita maknai sebagai pemicu lahirnya semangat antiperang global. Semoga keberadaan persenjataan nuklir di atas permukaan bumi dapat segera dihapuskan tanpa perlu menelan korban jiwa lagi di kemudian hari.






