Infogarut

Siapa Sangka Perkedel Punya Hubungan dengan Kuliner Eropa Era Kolonial?

M
Muhamad Renaldi SPublisher
29 September 2026 pukul 08.07 2 menit baca
Siapa Sangka Perkedel Punya Hubungan dengan Kuliner Eropa Era Kolonial?
Siapa Sangka Perkedel Punya Hubungan dengan Kuliner Eropa Era Kolonial?, Source: Istimewa

Hidangan gurih perkedel kentang merupakan salah satu lauk pauk yang sangat akrab di meja makan masyarakat Nusantara. Namun, catatan sejarah panjang menunjukkan bahwa kuliner populer ini sebenarnya berawal dari resep olahan daging khas era kolonial.

Baca juga: Mengenal Endog Lewo, Camilan Khas Malangbong Garut yang Melegenda

Sejarah Perkedel di Masa Kolonial

Melansir dari artikel yang diterbitkan oleh Tirto.id, sajian gurih ini berasal dari kuliner Eropa bernama frikadel yang berbasis daging giling pilihan. Pada masa Hindia Belanda, makanan mewah tersebut selalu disajikan dalam tradisi santap elite berkonsep rijsttafel.

Sajikan hidangan mewah tersebut sebagai penanda identitas sosial yang amat penting bagi kalangan warga Eropa serta kelompok priyayi pada masa itu. Etiket santap gaya Barat sengaja digunakan untuk membedakan kelas sosial elite dari masyarakat bumiputra secara sangat tegas.

Akses masyarakat pribumi terhadap jenis makanan Eropa tersebut bermula dari kalangan priyayi dan lembaga pendidikan sekolah rumah tangga perempuan. Melalui pendidikan khusus tersebut serta pengalaman di dapur rumah tangga kolonial, pengetahuan resep hidangan Barat mulai menyebar luas.

Proses Modifikasi Resep Perkedel

Tingginya harga bahan baku daging yang relatif mahal mendorong para juru masak bumiputra melakukan inovasi modifikasi resep dengan sangat kreatif. Bahan baku utama daging kemudian diganti dengan kentang serta ditambahkan adonan kocokan telur sebagai perekat saat digoreng.

Perubahan tidak hanya terjadi pada bahan baku, melainkan juga pada pelafalan nama dari kata frikadel menjadi perkedel di lidah lokal. Pengetahuan resep olahan masakan tersebut terus menyebar secara masif kepada masyarakat luas melalui buku resep dan warung makan.

Penerbitan buku resep berbahasa Sunda pada tahun 1951 serta buku Mustika Rasa tahun 1967 makin memperkuat posisi hidangan lezat ini. Makanan yang dahulunya hanya hadir di lingkungan perjamuan elite kolonial kini telah sepenuhnya diakui sebagai bagian dari kekayaan kuliner Indonesia.

Baca juga: Kenapa Jajanan Sunda Banyak Menggunakan Daun Pisang? Ini Alasannya

Jadi Warginet, kelezatan lauk harian perkedel yang sering kita nikmati ini ternyata memiliki catatan perjalanan sejarah yang sangat panjang dan menarik. Pemikiran kreatif para leluhur berhasil mengubah hidangan elite kolonial menjadi kebanggaan warisan kuliner khas Nusantara hingga saat ini.

Diskusi (0)

Bergabunglah dalam Diskusi

Silakan masuk dengan akun Anda untuk menulis komentar dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.

Lanjut Membaca