Prof. Dr. Emil Salim pernah mengatakan bahwa “Lingkungan yang sehat dan bersih merupakan hak asasi setiap manusia yang harus di jaga dan dipelihara bersama” (Prof. Dr Emil Salim, 2010). Saya Ismail sebagai putra daerah yang baru saja menyelesaikan sekolah di SMKN 2 GARUT merasa terpanggil untuk merespon kondisi nyata di lapangan. Sayangnya, gagasan tersebut berbenturan dengan realita yang terjadi disekitar kita seperti pada tahun 2024 “temuan tim The Forest Ranger Indonesia di Gunung Talaga Bodas.
Berdasarkan dari data Radar Bandung tahun 2024, ditemukan sedikitnya 5 titik penumpukan sampah di jalur pendakian tersebut”(Radar Bandung, 2024). Mirisnya “para pendaki Gunung Talaga Bodas ini hanya ikut-ikutan. Mereka tidak tahu medan, tidak membawa peralatan yang memadai, dan logistiknya pun minim”(Times Indonesia, 2024).
Fenomena ini menjadi bukti nyata bahwa tren pendakian yang didorong oleh Fear of Missing Out (FOMO) seringkali melalaikan tanggung jawab ekologis saat kita sedang berkunjung ke alam.
Di Indonesia, “demam mendaki gunung oleh kalangan pemuda dan masyarakat terjadi pada akhir tahun 2012 dan awal tahun 2013 semenjak penayangan film "5 cm" yang tembus jutaan penonton” (Kompasiana, 2013). Di Garut pernah viral dengan tren menaklukan SAPAGUCI, SAPAGUCI itu singkatan dari 4 gunung pilar utama destinasi wisata pendakian di Garut, yaitu Sagara, Papandayan, Guntur, dan Cikuray. Mendaki gunung kini telah bertransformasi menjadi budaya bagi Gen-Z, sebuah ruang pentas tempat eksistensi diri terekspos saat menikmati alam. Di saat rutinitas sehari-hari terasa membosankan.
Fenomena Fear of Missing Out(FOMO) yang mendorong anak muda untuk mendaki sejatinya adalah energi positif, karena ini menunjukkan besarnya minat generasi muda untuk kembali mendekatkan diri dengan alam. Namun, tantangannya terletak pada cara kita mengelola energi tersebut. Sering kali, dorongan untuk sekedar mengikuti tren atau hanya asal viral di media sosial membuat esensi mendaki yaitu penghormatan terhadap alam menjadi terlupakan.
Tanpa dibekali pengetahuan dan etika pendakian yang memadai, antusiasme yang tinggi ini beresiko berubah menjadi beban bagi alam di gunung. Oleh karena itu, kita tidak perlu memadamkan semangat FOMO tersebut, tapi kita perlu menjembatani antusiasme tersebut dengan edukasi ekologis. Dengan demikian, setiap langkah pendaki tidak hanya sebagai jejak digital yang indah dan estetik, tetapi juga menjadi kontribusi nyata bagi kelestarian alam.
Namun, antusiasme yang tinggi tanpa dibarengi dengan bekal yang memadai bagaikan pedang bermata dua. Tren pendakian yang kini lebih didorong oleh keinginan untuk terlihat ‘kece’ di media sosial sering kali mengabaikan aspek dasar-dasar dalam aktivitas pendakian, yaitu keselamatan dan etika lingkungan. Banyak pendaki pemula yang terjebak dalam pola pikir ‘pendakian instan’, di mana mereka berangkat ke gunung tanpa persiapan fisik yang matang, peralatan yang memadai, serta minimnya pengetahuan tentang medan yang akan dilewati.
Kurangnya pemahaman ini berdampak serius. Di lapangan, kita sering melihat pendaki yang tidak hanya membahayakan diri mereka sendiri tetapi juga meninggalkan jejak kerusakan yang nyata. Masalah penumpukan sampah, kerusakan vegetasi, hingga peningkatan angka kecelakaan di jalur pendakian yang menjadi bukti bahwa tren FOMO ini telah bergeser menjadi ancaman bagi kelestarian alam itu sendiri.
Gunung yang seharusnya menjadi sebuah rumah untuk menumbuhkan rasa syukur dan ketabahan, justru terancam kehilangan fungsinya akibat kita yang hanya mencari panggung di media sosial. Ketika fokus kita hanya terpaku pada layar gawai untuk memburu validasi orang-orang, kita sering lupa bahwa gunung adalah ekosistem hidup yang menuntut tanggung jawab, bukan sekedar background foto yang estetik.
Kesadaran akan ancaman kerusakan lingkungan ini menuntut kita untuk tidak lagi memandang pendakian sebagai aktivitas pasif, melainkan sebuah tanggung jawab aktif yang harus kita kelola. Maka, saatnya kita mengubah narasi “takut ketinggalan tren” menjadi “takut kehilangan keindahannya alam”, melalui gagasan solutif yang saya tawarkan yaitu Eco-FOMO.
Gagasan Eco-FOMO ini diwujudkan melalui sistem reward mengintegrasikan semangat pendaki dengan pemberdayaan UMKM lokal. Mekanismenya cukup sederhana namun berdampak luas yaitu pendaki yang berhasil membawa turun sampah miliknya ditambah dengan sampah di jalan atau sampah orang lain ataupun menanam bibit pohon di zona yang ditentukan maka mereka berhak diberikan Eco-Voucher. Voucher ini bukan cuma kertas biasa, tapi tiket bernilai ekonomi yang dapat ditukarkan di berbagai UMKM lokal di sekitar basecamp ataupun kuliner kota Garut diluar basecamp.
Dengan skema ini, kita mengubah perilaku pendaki dari yang awalnya hanya ikut-ikutan karena trend dan hanya ‘memanen’ konten, menjadi ‘menanam’ kontribusi. Pendaki tidak hanya takut lagi akan konsekuensi denda tidak membawa sampah kembali, tapi juga senang karena setiap sampah yang dibawa adalah kunci pertama untuk menikmati jajanan yang hangat atau oleh-oleh lokal secara terjangkau.
Bagi UMKM, program ini menjadi kanal promosi yang efektif sekaligus memperkuat identitas mereka sebagai pendukung ekologi dalam wisata. Hasilnya, kesadaran menjaga alam terasa seperti bukan lagi kewajiban yang berat untuk dilakukan, melainkan sebuah gaya hidup yang menguntungkan bagi semua pihak yang terlibat dalam ekosistem pendakian.
Keberhasilan program ini sangat bergantung pada integritas sistematis di tingkat operasional. Kita perlu mendorong kolaborasi erat antara pengelola basecamp dan pemerintah daerah untuk menjadikan verifikasi aksi konversi sebagai bagian dari Standar Operasional Prosedur (SOP) pendakian. Dengan sistem digitalisasi yang terintegrasi, setiap pendaki yang berpartisipasi dapat mengunggah bukti kontribusinya di media sosial dengan tagar khusus yaitu #GarutHerangGeulis.
Hal ini akan menciptakan efek domino FOMO yang positif, di mana ketakutan akan kehilangan tren berganti menjadi kebanggaan untuk menjadi bagian dari komunitas pendaki yang bertanggung jawab. Dampak ekonominya pun nyata yaitu UMKM lokal akan mendapat basis pelanggan baru, sementara kawasan gunung terjaga keindahan alamnya tanpa harus terbebani anggaran daerah secara berlebihan.
Penulis: Ismail Pahri
Penyunting: Fadillah Nurkalam dan Reni Mardiani
====
50 Tulisan Pilihan dari Penulis Terbaik Infogarut Write Fest 2.0
Perjalanan, cerita, keresahan, hingga sudut pandang tentang Garut terangkum dalam 50 tulisan pilihan dari para penulis terbaik Infogarut Write Fest 2.0.
Setiap tulisan membawa cerita dan perspektif yang berbeda, menjadi bagian dari rekaman kecil tentang Garut dan segala dinamikanya.
📖 Ingin membaca cerita selengkapnya?
Yuk, temukan 50 tulisan pilihan tersebut dalam e-book Infogarut Write Fest 2.0 melalui link berikut:
🔗 [LINK E-BOOK]
Selamat membaca dan menikmati cerita dari para penulis Garut!






