Infogarut

Swiss van Java: Menuju Wisata Kelas Dunia, Merawat Warisan, Merancang Masa Depan Pariwisata Garut

I
InfogarutPublisher
17 Agustus 2026 pukul 07.07 5 menit baca
Swiss van Java: Menuju Wisata Kelas Dunia, Merawat Warisan, Merancang Masa Depan Pariwisata Garut

Seringkali ada sesuatu yang terasa mengganjal ketika mendengar julukan Kabupaten Garut sebagai Swiss van Java. Bukan tidak layak, justru sebaliknya. Garut mempunyai destinasi yang benar-benar setara dengan julukan tersebut, yang mengganjal adalah jarak dari masa lalu yang gemilang itu dengan kondisi pariwisata Garut hari ini, seperti sebuah jarak yang terlalu lebar apabila dianggap wajar.

Abad ke 20, Garut bukan hanya sekedar daerah pegunungan yang biasa saja, ia merupakan destinasi impian. Kawasan Cipanas berkembang pesat sebagai pusat wisata, dengan pemandian air panas yang alami dan panorama pegunungan yang memang aktif di promosikan pemerintah Hindia Belanda sebagai daya tarik Kawasan Priangan.(Gosip Garut, 2026) Hotel Papandayan dan Grand Hotel Ngamplang yang berdiri megah menjadi favorit wisatawan asing berkumpul menikmati udara sejuk. (Bulan, 2026)

Julukan Swiss van Java sendiri bukan sekedar slogan. Berdasarkan riset pada buku All Around Bandug karya Gottfried Roelcke dan Garry Crab, julukan  tersebut sudah tercantum pada tahun 1997 yaitu “Switzerland van Java”. Ini bukan mitos, branding pariwisata yang dikelola oleh organisi Vereeniging Toeristen Verkeer (VTV) yang terencana, perhimpunan pengusaha Eropa swasta yang secara serius mempromosikan wisata Hindia Belanda.(Sunjayadi, 2007).

Pertanyaannya apabila warisan itu begitu kuat, mengapa pariwisata Garut belum mampu ke puncak kejayaannya kembali? Apa yang bisa dilakukan oleh generasi muda terutama Gen Z untuk mengubah arah tersebut?

Menjawab pertanyaan pertama, perlu bersikap jujur dalam kompleksitas masalahnya. Kemunduran pariwisata Garut bukan disebabkan oleh satu satu faktor dan tidak terjadi dalam semalam. Pasca-kemerdekaan, ketidakstabilan pada ekonomi dan politik Belanda membuat pengelolaan sektor pariwisata menjadi prioritas yang tersisihkan.(Leirissa, R. Z., 1996) Perlahan infrastruktur wisata warisan kolonial mengalami degradasi karena minimnya pemeliharaan.

Persoalan infrastruktur ini bukan hanya sekedar bangunan tua yang lapuk. Namun berbicara tentang aksesibilitas yang memang belum merata, konektivitas tranportasi yang terbatas,  dan ekosistem pariwisata yang memang belum terintegrasi. Pada saat pandemi data kunjungan wisatawan ke Garut menunjukkan angka turun drastis hingga 357.324 orang tahun 2021. (Edukadi, 2025) Pandemi hanya memperparah kerentanan yang sebenarnya sudah ada sebelumnya, pariwisata Garut terlalu bergantung pada kunjungan spontan domestik, tanpa fondasi wisata yang kuat dan keberlanjutan.

Namun dalam tantangan tersebut, potensi tetap luar biasa. Garut merupakan salah satu kabupaten secara destinasi paling lengkap. Wisata pantai di Selatan (Santolo, Sayang Heulang), wisata di pegunungan (Gunung Papandayan, Kawah Talaga Bodas), wisata bersejarah (Candi Cangkuang). Wisata kuliner yang khas (dodol, burayot).(Tetep et al., 2021). Keanekaragaman ini apabila dikelola secara sistematis adalah modal yang tidal dimiliki oleh daerah lain.

Disinilah peran generasi muda bukan hanya sebagai penonton saja, tetapi sebagai agen of change. Setidaknya terdapat tiga pendekatan yang relevan oleh Gen Z untuk dipikirkan serius. Pertama, revitalisasi narasi sejarah sebagai aset wisata. Warisan Swiss van Java adalah konten autentik yang tidak bisa dipalsukan. Foto-foto arsip era 1910–1920-an dari Leiden University Libraries, kisah Hotel Papandayan di masa kolonial, hingga potret Thilly Weissenborn tentang keindahan Priangan, semua itu adalah bahan baku storytelling yang bernilai tinggi

(Kusdinar, 2025) Generasi muda yang melek digital bisa mengubah arsip sejarah ini menjadi konten wisata yang memikat seperti podcast sejarah, tur virtual berbasis augmented reality, hingga festival tahunan yang lebih terstruktur dari sekadar pameran foto.

Kedua, membangun ekosistem wisata berbasis komunitas lokal. Penelitian Tetep et al. (2021) dalam Business Innovation and Entrepreneurship Journal menegaskan bahwa pengembangan infrastruktur pariwisata yang mengintegrasikan elemen budaya lokal adalah kunci peningkatan kunjungan wisatawan, khususnya mancanegara.(Tetep et al., 2021) Model ini bukan sekadar teori, ia adalah strategi yang sudah terbukti di berbagai destinasi Asia Tenggara. Garut memiliki semua bahan yang dibutuhkan, komunitas pengrajin jaket kulit, pelaku kuliner lokal, seniman Sunda, hingga pemandu wisata alam petualangan. Yang kurang adalah platform yang menyatukan mereka dalam satu ekosistem yang terkelola dengan baik.

Ketiga, mendorong kebijakan yang berorientasi pada keberlanjutan jangka panjang. Garut memiliki aset alam yang tidak ternilai dan itulah yang paling rentan terhadap eksploitasi pariwisata massal tanpa regulasi. Generasi muda yang terdidik dan kritis perlu aktif terlibat dalam diskusi kebijakan yaitu mengadvokasi penetapan kawasan konservasi, mendorong sertifikasi ekowisata untuk pengelola lokal, dan menuntut transparansi dalam penggunaan dana pariwisata daerah. Suara Gen Z dalam ruang kebijakan bukan kemewahan, ia adalah kebutuhan, karena merekalah yang akan mewarisi konsekuensi dari keputusan yang diambil hari ini.

Garut pernah menjadi bukti bahwa keindahan alam dan pengelolaan wisata yang baik bisa menciptakan daya tarik yang melampaui batas geografi. Julukan Swiss van Java bukan warisan yang harus kita simpan dalam museum, ia adalah visi yang harus kita hidupkan kembali, dengan cara dan alat yang relevan dengan zaman.

Ironisnya, justru generasi yang sering dianggap tidak peduli sejarahlah yang paling memiliki kapasitas untuk melakukan ini. Gen Z Garut tumbuh dengan teknologi yang memungkinkan mereka mendistribusikan narasi, membangun komunitas, dan mempengaruhi kebijakan dengan cara yang tidak pernah terbayangkan oleh generasi sebelumnya. Tantangannya bukan soal kemampuan, tantangannya adalah soal kesadaran bahwa potensi itu ada.

Penulis: Hafizah Novianti

Penyunting: Fadillah Nurkalam dan Reni Mardiani

====

50 Tulisan Pilihan dari Penulis Terbaik Infogarut Write Fest 2.0

Perjalanan, cerita, keresahan, hingga sudut pandang tentang Garut terangkum dalam 50 tulisan pilihan dari para penulis terbaik Infogarut Write Fest 2.0.

Setiap tulisan membawa cerita dan perspektif yang berbeda, menjadi bagian dari rekaman kecil tentang Garut dan segala dinamikanya.

📖 Ingin membaca cerita selengkapnya?

Yuk, temukan 50 tulisan pilihan tersebut dalam e-book Infogarut Write Fest 2.0 melalui link berikut:

🔗 [LINK E-BOOK]

Selamat membaca dan menikmati cerita dari para penulis Garut!

Diskusi (0)

Bergabunglah dalam Diskusi

Silakan masuk dengan akun Anda untuk menulis komentar dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.

Lanjut Membaca