Ada sesuatu yang sulit diungkapkan dengan kata-kata ketika berdiri di hadapan air terjun yang benar-benar deras. Mungkin itu suaranya gemuruh yang seolah tidak memberikan ruang untuk pikiran lain masuk. Atau mungkin udaranya yang dingin dan basah, yang membuat tubuh sejenak melupakan semua urusan pundak yang kita bawa. Di balik kabut pegunungan Cikajang, Kabupaten Garut, tersembunyi sebuah air terjun bernama Curug Sanghyang Taraje. Dan rupanya, ia punya banyak cerita untuk siapa pun yang mau mendengar.
Namanya saja sudah menyimpan makna yang berlapis. Curug artinya air terjun. Sanghyang merujuk pada sesuatu yang sakral, sesuatu yang berhubungan dengan leluhur. Dan Taraje, dalam bahasa Sunda, berarti tangga. Dirangkai menjadi satu, nama itu terdengar seperti sebuah undangan sekaligus pengingat: inilah air terjun sakral tempat tangga para leluhur. Tangga menuju mana, tak ada yang tahu pasti. Tapi masyarakat Sunda yang telah hidup berdampingan dengan tempat ini selama berabad-abad sepertinya sudah lama mengerti bahwa ada sesuatu di sini yang lebih besar dari yang tertangkap oleh mata.
Di sisi kanan air terjun, terdapat susunan batu-batu besar yang kokoh dan teratur menyerupai anak tangga, seolah memang dibentuk oleh tangan yang tidak kita kenal. Dari situlah kisah-kisah itu tumbuh. Masyarakat setempat percaya bahwa curug ini dijaga oleh berbagai sosok: ada Sang Sarang Bentang, pemimpin gaib yang dihormati; ada Prabu Budeug Beudegel Ireng dan Prabu Budeug Beudegel Putih, dua penjaga yang melambangkan keseimbangan antara dua kekuatan yang berlawanan; ada Nyimas Kencring Manik yang sering muncul sebagai perempuan berbaju hijau berselendang merah, tapi konon bisa berubah menjadi ular hijau yang anggun dan misterius. Dan ada pula Prabu Rangga Jipang, yang berwujud ikan besar di lubang sungai, dipercaya menjadi penghubung antara dunia manusia dan dunia yang tak kasat mata.
Kita mungkin terbiasa mendengar cerita-cerita semacam ini sejak kecil, lalu menyimpannya sebagai hiburan belaka dongeng sebelum tidur yang menyenangkan tapi tidak terlalu serius. Padahal, kalau dipikir lebih dalam, leluhur kita tidak asal bercerita. Di balik sosok-sosok gaib itu tersimpan pesan yang jauh lebih membumi: ajaran tentang bagaimana seharusnya manusia bersikap terhadap alam, tentang batas-batas yang tidak boleh dilanggar, tentang rasa hormat yang harus selalu dijaga. Mitos tentang penjaga alam adalah cara nenek moyang mengemas kearifan dalam bahasa yang bisa dipahami dan diingat lintas generasi bahkan oleh anak-anak yang belum mengerti konsep ekologi sekalipun.
Cerita tentang Sangkuriang yang marah dan menendang batu-batu besar hingga tersebar ke berbagai penjuru pun menarik untuk direnungkan. Kawasan Curug Sanghyang Taraje dipercaya menjadi salah satu tempat yang pernah dilewati dalam amarahnya itu. Ada semacam ironi yang indah di sana: kemarahan yang merusak justru meninggalkan bentang alam yang luar biasa. Alam, rupanya, punya cara tersendiri untuk mengubah serpihan-serpihan kesakitan menjadi sesuatu yang melampaui keindahan biasa.
Namun Curug Sanghyang Taraje tidak hanya hidup dalam legenda. Ia juga menyimpan ingatan tentang manusia-manusia nyata yang berjuang keras di sini.
Curug ini berada di aliran Sungai Cikandang, di wilayah hulu yang oleh masyarakat disebut huluwarang bagian awal dari aliran panjang yang mengairi banyak kehidupan di bawahnya. Dari posisinya yang tinggi itu, curug seperti berdiri sebagai saksi bisu dari segala yang terjadi di lembah-lembah di bawahnya, termasuk perjuangan panjang warga yang hidup di sekitarnya.
Sekitar tahun 1966, ketika jalan menuju Desa Pakenjeng masih sangat sulit dilalui, warga Kampung Kombongan harus berjalan kaki setiap hari melewati jalur terjal dan hutan lebat di sekitar curug. Tidak ada jalan pintas, tidak ada kenyamanan yang bisa diandalkan. Yang ada hanya kaki yang kuat dan kemauan yang tidak mudah patah. Mereka tidak meninggalkan keluhan dalam catatan sejarah mana pun mereka hanya terus melangkah.
Pada 1988, seorang warga bernama Bapak Mimin Suparman bersama tiga rekannya mulai membuka lahan di sekitar curug. Mereka menanam cabai keriting, bergotong royong membersihkan tanah yang belum banyak disentuh tangan manusia. Pekerjaan itu pelan-pelan membuat kawasan ini lebih dikenal. Dan ketika sepuluh mahasiswa dari Bandung datang menginap dan meneliti di sana pada 2002, nama Curug Sanghyang Taraje mulai melewati batas-batas desanya sendiri.
Yang barangkali paling membekas dari semua kisah itu adalah cerita tentang Haji Junaedin. Pada 1970, ia membuat saluran air dari curug untuk mengairi sawah-sawah warga. Bukan keputusan yang besar dalam artian formal tidak ada rapat besar, tidak ada proyek resmi. Tapi dampaknya nyata dan bertahan lama. Saluran itu berkembang menjadi irigasi, lalu menjadi sumber tenaga bagi pembangkit listrik mikrohidro yang menerangi Kampung Kombongan. Dari satu orang yang memilih untuk peduli, kehidupan banyak orang berubah menjadi lebih terang secara harfiah.
Kisah-kisah seperti inilah yang membuat Curug Sanghyang Taraje lebih dari sekadar tempat wisata dengan pemandangan bagus. Ia adalah semacam arsip hidup tempat di mana legenda dan sejarah, mitos dan kenyataan, alam dan manusia bertemu dan saling membentuk. Dan justru karena perpaduan itu, tempat ini menjadi berharga dengan cara yang tidak bisa begitu saja dihitung dengan angka kunjungan wisatawan.
Kita hidup di zaman yang bergerak cepat dan gaduh. Mudah sekali lupa bahwa di balik kesibukan sehari-hari, ada tempat-tempat yang menyimpan pelajaran berharga bukan dalam bentuk buku atau seminar, tapi dalam bentuk batu yang tertata, air yang mengalir, dan cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut. Curug Sanghyang Taraje mengingatkan kita bahwa kerja keras, kebersamaan, kepedulian terhadap sesama, dan rasa hormat pada alam bukanlah nilai-nilai yang kuno atau ketinggalan zaman. Nilai-nilai itu adalah anak tangga yang satu per satu bisa kita pijaki untuk naik, selama kita masih mau belajar mendengarkan cerita yang ditinggalkan oleh mereka yang sudah lebih dulu berjalan.
Tangga para leluhur di Curug Sanghyang Taraje memang tidak bisa dipanjat secara harfiah. Tapi mungkin memang begitulah seharusnya sebuah warisan bekerja: bukan untuk diambil dan dimiliki, melainkan untuk direnungi, dijaga, dan diteruskan kepada siapa pun yang datang setelah kita.
Penulis: Dendi Saputra
Penyunting: Fadillah Nurkalam dan Reni Mardiani
====
50 Tulisan Pilihan dari Penulis Terbaik Infogarut Write Fest 2.0
Perjalanan, cerita, keresahan, hingga sudut pandang tentang Garut terangkum dalam 50 tulisan pilihan dari para penulis terbaik Infogarut Write Fest 2.0.
Setiap tulisan membawa cerita dan perspektif yang berbeda, menjadi bagian dari rekaman kecil tentang Garut dan segala dinamikanya.
📖 Ingin membaca cerita selengkapnya?
Yuk, temukan 50 tulisan pilihan tersebut dalam e-book Infogarut Write Fest 2.0 melalui link berikut:
🔗 [LINK E-BOOK]
Selamat membaca dan menikmati cerita dari para penulis Garut!






