Selama ini, Gunung Guntur di Kabupaten Garut dikenal luas sebagai surga bagi para pendaki dan penikmat suasana alam bebas. Memiliki ketinggian 2.249 mdpl serta ditunjang oleh kawasan wisata Cipanas di kaki gunungnya, kawasan ini selalu berhasil menjadi magnet pariwisata utama di Garut. Namun, tahukah Anda bahwa Gunung Guntur bukan lagi sekadar destinasi untuk kegiatan hiking atau berkemah biasa? Lebih dari itu, kawasan Eduwisata Gunung Guntur kini siap disulap menjadi panggung konser musik yang unik dan sarat makna.
Melalui inisiatif bertajuk "Suara Guntur: The Sound of Wellness" yang diusung oleh Nalarraya, Gunung Guntur akan menjadi latar dari sebuah gelaran konser interaktif yang memadukan pertunjukan seni, edukasi ekologi, dan mindfulness.
Baca Juga: Kalahkan Tasikmalaya, Tim Futsal Putri Kota Bandung Juari Kejurda Futsal DPRD Jabar 2026
Konser yang Bukan Sekadar Hiburan Visual
Berdasarkan konsep acara yang dirancang, konser musik di Gunung Guntur ini membawa pendekatan berbeda dari festival musik pada umumnya. Di tengah ramainya industri hiburan yang sering kali hanya mengejar kepuasan visual atau komoditas penghibur semata, acara ini berusaha mengembalikan esensi seni sebagai tuntunan hidup dan penyelarasan dengan alam.
Acara ini menghadirkan jajaran musisi seperti Budi Cilok, Panji Sakti, Fanny Soegi, Mandasuli, hingga Enjoy Your Symptoms. Pertunjukan musik tersebut dibagi ke dalam dua sesi waktu yang dramatis di lanskap Gunung Guntur:
Suara Buana: Diselenggarakan sore hingga malam hari untuk menikmati keharmonisan alam.
Suara Pagi Buta: Pertunjukan musik syahdu yang menyambut fajar dan udara segar pegunungan.
Edukasi Konservasi, Mitigasi, dan Mindfulness
Selain menyuguhkan panggung musik di alam terbuka, aktivitas di kawasan Gunung Guntur ini juga dirancang untuk menumbuhkan kesadaran lingkungan (sustainability) serta mitigasi bencana bagi masyarakat dan generasi muda.
Rangkaian kegiatan pelengkap yang disajikan meliputi:
Ziarah Tanah: Kegiatan mendaki bersama yang dilanjutkan dengan penanaman pohon secara bermakna untuk memulihkan ekosistem.
Mindful Eating & Revolusi Meja Makan: Edukasi pola konsumsi ramah lingkungan, memperkuat kearifan pangan lokal, dan kampanye Zero Waste tanpa membuang sampah makanan (food waste).
Gerakan Bebas Plastik Sekali Pakai: Seluruh pengunjung diajak membawa wadah makan dan tumbler sendiri, dilengkapi dengan pembacaan deklarasi narasi "Sumpah Sampah Serapah" sebagai komitmen menjaga kebersihan kawasan gunung.
Etnosains & Mitigasi Bencana: Pemahaman kearifan lokal geologi (seperti naskah kuno Warugan Lemah) serta penempelan rambu-rambu mitigasi bencana secara simbolis di area Gunung Guntur.
Workshop Kreatif & Literasi: Pelatihan pembuatan kerajinan dari akar wangi, batik khas, hingga bedah buku literasi.
Baca Juga: Siap Hadapi Porprov, Pengurus FORKI Garut 2026/2030 Resmi Dilantik
Wajah Baru Pariwisata Berkelanjutan di Garut
Kehadiran konsep konser dan eduwisata di Gunung Guntur ini membuktikan bahwa potensi kawasan pegunungan Garut sangat beragam. Melalui integrasi antara keindahan panorama alam, keharmonisan nada musik, dan kepedulian ekologis, Gunung Guntur menunjukkan bahwa kegiatan wisata alam dapat dikemas secara modern tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.
Bagi para penikmat musik sekaligus pencinta alam, menikmati alunan nada di bawah naungan Gunung Guntur tentu akan menjadi pengalaman eksplorasi yang tak terlupakan.
Penulis: Reni Mardiani






