Infogarut

Sukaregang: Dari Tangan ke Gaya

I
InfogarutPublisher
17 Agustus 2026 pukul 07.03 4 menit baca
Sukaregang: Dari Tangan ke Gaya

Ada tempat di Garut yang tidak perlu panggung besar untuk terlihat hidup. Cukup deretan toko di pinggir jalan, suara mesin jahit yang samar dari dalam gang, dan aroma khas kulit yang langsung menyapa begitu kaki menginjak trotoar. Itulah Sukaregang sentra kulit yang sejak dulu menjadi identitas Garut.

Banyak orang datang ke sini hanya untuk membeli jaket atau tas. Tapi kalau kita berjalan lebih pelan, Sukaregang bukan sekadar tempat belanja. Ia adalah cerita tentang kerja tangan, tradisi yang bertahan, dan industri lokal yang terus berjuang di tengah perubahan zaman. Di tempat ini, kulit bukan hanya bahan. Kulit adalah perjalanan panjang yang berubah menjadi gaya.

Langkah pertama ketika memasuki kawasan ini adalah menyesuaikan diri dengan suasananya. Jalanan cukup ramai, kendaraan hilir-mudik, sementara di sisi kanan-kiri terpampang etalase berisi jaket kulit hitam, coklat, hingga warna-warna yang lebih modern.

Ada yang digantung rapi seperti butik, ada pula yang disusun bertumpuk dengan kesan klasik. Di sela itu, kadang terlihat pengrajin duduk di depan toko, sibuk memotong pola atau merapikan jahitan seolah dunia tidak pernah benar-benar berhenti di Sukaregang.

Sukaregang punya daya tarik yang tidak dimiliki banyak tempat lain: kawasan ini hidup dari tangan manusia. Hampir di setiap sudut, ada aktivitas yang berlangsung. Ada toko yang memajang jaket kulit menggantung rapi di etalase, ada juga bengkel kecil tempat pengrajin bekerja dengan serius, ditemani suara mesin jahit yang seperti menjadi musik latar sepanjang hari.

Produk yang ditawarkan pun beragam. Jaket kulit menjadi primadona, tapi dibalik itu ada sepatu, dompet, ikat pinggang, tas, hingga aksesoris kecil yang cocok untuk oleh-oleh. Menariknya, beberapa toko masih melayani pesanan sesuai ukuran atau model tertentu. Pembeli bisa berdiskusi langsung, memilih bahan, menentukan desain, bahkan melihat proses pengerjaannya.

Di sinilah potensi Sukaregang sebenarnya: bukan hanya menjual barang, tapi menawarkan pengalaman. Wisatawan tidak hanya pulang membawa jaket, tetapi juga membawa cerita bahwa produk itu dibuat langsung oleh pengrajin Garut, bukan sekadar hasil produksi pabrik. Ada rasa bangga tersendiri ketika memakai barang yang punya asal-usul jelas, dibuat dengan ketelitian, bukan sekadar produksi massal.

Lokasinya pun strategis. Sukaregang berada dekat pusat kota dan mudah diakses wisatawan yang sedang berkunjung ke kawasan Cipanas atau destinasi wisata Garut lainnya. Dengan posisi seperti ini, Sukaregang sebenarnya sangat cocok menjadi destinasi wajib tempat singgah sebelum pulang, sekaligus tempat mencari oleh-oleh yang tidak pasaran.

Namun, ketika berjalan lebih jauh, terlihat bahwa Sukaregang masih menyimpan beberapa tantangan yang cukup nyata. Pertama, kawasan ini belum sepenuhnya tertata sebagai destinasi wisata. Jalanan yang ramai, parkir yang kadang membingungkan, serta area pejalan kaki yang kurang nyaman membuat pengalaman wisata terasa terburu-buru. Padahal, Sukaregang akan lebih menarik jika wisatawan bisa berjalan santai menikmati suasana, berhenti sejenak, melihat-lihat tanpa khawatir terserempet kendaraan.

Kedua, citra Sukaregang masih dianggap “tempat belanja kulit biasa.” Banyak orang hanya datang untuk membeli, lalu pergi. Padahal, Sukaregang punya nilai budaya industri yang kuat ada sejarah panjang, keterampilan turun-temurun, dan proses pembuatan yang sebenarnya menarik untuk dilihat. Tidak semua daerah punya identitas yang sekuat ini, hanya saja Sukaregang belum sepenuhnya “bercerita” kepada pengunjungnya.

Ketiga, masalah yang cukup sering muncul adalah soal kualitas produk. Tidak semua toko memiliki standar yang sama. Ada produk kulit asli dengan kualitas tinggi, tetapi ada juga yang campuran atau sintetis. Bagi wisatawan yang tidak paham, perbedaan ini bisa membuat mereka ragu dan takut tertipu. Akhirnya, orang pulang bukan dengan rasa puas, tapi dengan pertanyaan: “Ini kulit asli atau bukan?”

Keempat, promosi digital belum merata. Beberapa toko memang sudah aktif di media sosial, tetapi sebagian masih mengandalkan pembeli yang lewat atau pelanggan lama. Padahal, wisatawan sekarang lebih sering menentukan tujuan lewat TikTok, Instagram, atau review Google. Jika Sukaregang lebih konsisten membangun citra digitalnya, kawasan ini bisa menjadi ikon belanja kulit nasional, bukan hanya kebanggaan Garut.

Kabar baiknya, Sukaregang tidak butuh perubahan yang terlalu besar untuk menjadi destinasi yang lebih kuat. Yang dibutuhkan adalah penataan dan pengemasan. Langkah pertama adalah membuat kawasan ini lebih “wisata-ready.”

Penataan parkir yang jelas, papan informasi yang menarik, petunjuk arah toko, serta area jalan kaki yang lebih nyaman bisa membuat pengalaman wisata terasa lebih ramah. Bahkan hal sederhana seperti gapura kawasan, mural tematik, atau spot foto yang estetik bisa menjadi identitas visual Sukaregang. Tempat ini bisa tetap sederhana, tapi terasa lebih rapi dan nyaman.

Penulis: Zahra Octaviani

Penyunting: Fadillah Nurkalam dan Reni Mardiani

====

50 Tulisan Pilihan dari Penulis Terbaik Infogarut Write Fest 2.0

Perjalanan, cerita, keresahan, hingga sudut pandang tentang Garut terangkum dalam 50 tulisan pilihan dari para penulis terbaik Infogarut Write Fest 2.0.

Setiap tulisan membawa cerita dan perspektif yang berbeda, menjadi bagian dari rekaman kecil tentang Garut dan segala dinamikanya.

📖 Ingin membaca cerita selengkapnya?

Yuk, temukan 50 tulisan pilihan tersebut dalam e-book Infogarut Write Fest 2.0 melalui link berikut:

🔗 [LINK E-BOOK]

Selamat membaca dan menikmati cerita dari para penulis Garut!

Diskusi (0)

Bergabunglah dalam Diskusi

Silakan masuk dengan akun Anda untuk menulis komentar dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.

Lanjut Membaca