Infogarut

Sering Dipakai, Ternyata Arti Kata Ini Berbeda dalam Bahasa Sunda

M
Mutiara LestariPublisher
18 Agustus 2026 pukul 09.59 4 menit baca
Sering Dipakai, Ternyata Arti Kata Ini Berbeda dalam Bahasa Sunda
Jangan Asal Pakai, Ini Kata Bahasa Sunda yang Punya Makna Berbeda (Generated by AI)

Bahasa Sunda memiliki banyak kosakata yang terdengar familiar bagi penutur bahasa Indonesia, tetapi ternyata memiliki arti yang berbeda. Perbedaan makna ini terkadang luput disadari, terutama ketika sebuah kata bahasa Indonesia langsung digunakan ke dalam kalimat berbahasa Sunda.

Salah satu contohnya adalah kata “bangga”. Dalam Bahasa Indonesia, kata tersebut berarti merasa besar hati atau memiliki rasa bangga. Namun, dalam bahasa Sunda, bangga justru berarti "susah atau sulit". Untuk menyampaikan makna bangga, kata yang lebih tepat digunakan adalah reueus.

Hal seperti ini ternyata tidak hanya terjadi pada kata bangga. Ada sejumlah kosakata lain yang perlu diperhatikan agar tidak keliru memahami maupun menggunakannya dalam percakapan basa Sunda.

Baca Juga: Kata Kata Bahasa Sunda yang Sering Salah Tulis, Kamu Masih Keliru?

Beberapa Kata yang Punya Makna Berbeda dalam Bahasa Sunda

Perbedaan makna seperti ini cukup menarik karena beberapa kata terdengar sangat familiar bagi penutur bahasa Indonesia. Fenomena semacam ini dapat menimbulkan salah paham, terutama ketika sebuah kata digunakan tanpa melihat konteks bahasanya. Bukan berarti semua penggunaannya selalu keliru, sebab beberapa kata memang mengalami perkembangan dan pergeseran makna seiring waktu. Namun, mengenali makna asal dan padanan yang lebih tepat dapat membantu agar penggunaan basa Sunda tetap sesuai konteks. Nah, berikut beberapa kata yang menarik untuk diketahui.

1. Bangga ≠ Bangga

Ini menjadi salah satu contoh yang paling menarik. Kalimat “bangga jadi urang Sunda” mungkin terdengar benar bagi sebagian orang karena mengikuti struktur bahasa Indonesia. Padahal, jika seluruh kalimat tersebut dimaknai dalam Basa Sunda, artinya justru dapat menjadi “susah menjadi orang Sunda.”

Dalam Basa Sunda, bangga bermakna “susah, sulit, atau berat”, sedangkan kata yang bermakna bangga adalah “reueus”. Jadi, kalimat yang lebih tepat untuk menyampaikan rasa bangga adalah:

“Reueus jadi urang Sunda.”

Penggunaan bangga dengan makna “proud” memang kemudian muncul dalam Basa Sunda modern sebagai pengaruh bahasa Indonesia, tetapi secara makna tradisional kata tersebut memiliki arti “susah”. Kajian Perkembangan Bahasa Sunda Sesudah Perang Dunia II juga mencatat perubahan penggunaan kata bangga ini.

2. Ngalastarikeun ≠ Ngalestarikeun

Contoh lain yang menarik adalah ngalastarikeun. Kata ini kerap digunakan untuk menerjemahkan “melestarikan”.

Namun, ada catatan menarik dalam kajian kebahasaan Sunda: kata "lastari" dalam Basa Sunda memiliki makna "paéh" (mati). Karena itu, penggunaan ngalastarikeun dengan maksud “melestarikan” dapat menimbulkan persoalan makna. Istilah yang lebih tepat untuk maksud “melestarikan” adalah ngamumulé.

Contohnya: "Hayu urang ngamumulé basa Sunda."

3. Luas ≠ Luas

Kata “luas” dalam bahasa Indonesia digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang memiliki ukuran atau wilayah yang tidak sempit. Namun, dalam Basa Sunda, kata luas memiliki makna yang berbeda, yaitu "tega".

Untuk menggambarkan sesuatu yang memiliki ukuran luas dalam basa Sunda, kata yang lebih tepat digunakan adalah "lega".

Misalnya, daripada mengatakan:

"Tempatna luas."

Untuk menggambarkan tempat yang memiliki area besar, bisa menggunakan:

"Tempatna lega."

Perbedaan makna ini memang cukup unik karena bentuk katanya sama persis, tetapi maknanya dapat berubah ketika digunakan dalam konteks bahasa yang berbeda.

4. Limit ≠ Batas

Kata “limit” juga memiliki makna yang berbeda ketika digunakan dalam Basa Sunda. Jika dalam bahasa Indonesia limit berkaitan dengan "batas", dalam bahasa Sunda kata tersebut memiliki arti "halus". Contoh nya dalam kalimat “Raray na meni limit pisan, sae”.

Sementara itu, jika ingin menyampaikan makna "batas" dalam basa Sunda, kata yang lebih tepat digunakan adalah "wates".

Jadi, bukan "Kabeh ge aya limitna", tapi "Kabeh ge aya watesna".

Jadi, jangan sampai kata limit yang dimaksudkan sebagai “batas” justru dipahami dengan makna yang berbeda. Hal ini menjadi salah satu contoh menarik bahwa beberapa kata yang terdengar familiar belum tentu memiliki arti yang sama ketika digunakan dalam Basa Sunda.

Jangan Sampai Salah Memahami Basa Sunda

Basa Sunda memiliki banyak kosakata yang sekilas terdengar sama dengan bahasa Indonesia, tetapi ternyata bisa memiliki makna yang berbeda. Hal sederhana seperti ini terkadang luput ketika digunakan dalam percakapan sehari-hari, terutama ketika terbiasa mencampurkan bahasa Indonesia dan basa Sunda.

Baca Juga: Seni Ketangkasan Domba Garut sebagai Identitas Budaya Masyarakat Garut

Buat warginet, memahami perbedaan makna tersebut bukan berarti harus selalu menggunakan bahasa Sunda yang baku dalam setiap percakapan. Namun, mengenali arti sebenarnya dapat membantu kita menggunakan kosakata Sunda dengan lebih tepat dan tidak menimbulkan salah paham.

Sebab, satu kata yang terdengar sama belum tentu memiliki arti yang sama. Jadi, warginet, sebelum menggunakan kata kata bahasa Sunda, yuk lebih teliti memahami maknanya!

Penulis: Mutiara Lestari

Diskusi (0)

Bergabunglah dalam Diskusi

Silakan masuk dengan akun Anda untuk menulis komentar dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.

Lanjut Membaca