Infogarut

Orang Marah Dengarkan Musik Ekstrem, Responsnya Justru Berbeda

M
Muhamad Renaldi SPublisher
18 Agustus 2026 pukul 06.19 2 menit baca
Orang Marah Dengarkan Musik Ekstrem, Responsnya Justru Berbeda
Orang Marah Dengarkan Musik Ekstrem, Responsnya Justru Berbeda, Source: Istimewa

Peneliti dari University of Queensland, Brisbane, Australia berhasil mengungkap dampak genre musik ekstrem terhadap psikologis manusia yang sedang emosi. Mereka mengadakan uji coba induksi kemarahan yang membuktikan bahwa musik ini tidak menyebabkan perilaku destruktif.

Baca juga: Studi Ungkap Heavy Metal Bantu Redakan Emosi Negatif Pendengarnya

Uji Coba Genre Musik Ekstrem

Melansir dari National Geographic Indonesia, subjek penelitian ini menjalani induksi kemarahan selama 16 menit dalam sebuah lingkungan laboratorium yang terkontrol. Proses pengujian genre musik ekstrem tersebut melibatkan setiap individu untuk menjelaskan berbagai topik personal pemicu iritasi.

Topik pemicu iritasi yang dibahas meliputi masalah hubungan, kesulitan keuangan, atau bahkan beban pekerjaan yang sedang mereka hadapi. Setelah itu, mereka menghabiskan waktu 10 menit mendengarkan lagu pilihan dari genre musik ekstrem yang sangat disukai.

Sesi mendengarkan lagu tersebut kemudian selalu diikuti dengan 10 menit berdiam diri dalam keheningan total di dalam laboratorium. Hasilnya menunjukkan bahwa genre musik ekstrem mampu membuat mereka rileks layaknya sedang duduk di ruangan yang sunyi.

Subgenre Genre Musik Ekstrem

Penelitian ini berfokus pada berbagai subgenre yang termasuk dalam kategori genre musik ekstrem kesukaan dari para responden. Kategori tersebut secara spesifik mencakup aliran heavy metal, emo, hardcore, punk, hingga screamo yang kerap dinilai terlalu berisik.

Leah Sharman menyatakan kepada The Guardian bahwa 50 persen lagu pilihan partisipan ternyata mengandung tema kemarahan atau agresi yang intens. Sementara lagu genre musik ekstrem sisanya memuat tema seperti isolasi dan kesedihan yang merefleksikan emosi para pendengarnya.

Penggemar genre musik ekstrem ini secara intuitif selalu memilih lagu yang mampu memvalidasi emosi kemarahan maupun perasaan terisolasi mereka. Hal ini jelas membantah anggapan masyarakat luas bahwa lagu beraliran keras selalu menjadi pemicu utama munculnya kekerasan.

Baca juga: Mendunia Tapi Tetap "Asgar", Voice of Baceprot Raih Penghargaan di Asgar Jaya Award 2026

Buat Warginet, temuan eksperimen laboratorium terkontrol tentang genre musik ekstrem ini tentu membutuhkan penelitian lanjutan dalam konteks sosial alami. Namun, kita sekarang tahu bahwa mendengarkan musik keras bisa menjadi strategi manajemen emosi yang sangat sehat.

Diskusi (0)

Bergabunglah dalam Diskusi

Silakan masuk dengan akun Anda untuk menulis komentar dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.

Lanjut Membaca