Bayangkan ini: puluhan orang dari Singapura, Belanda, Amerika Serikat, bahkan Rusia, rela terbang ribuan kilometer hanya untuk datang ke Garut — bukan untuk menikmati dodol atau mendaki Papandayan, melainkan untuk belajar pencak silat.
Itulah yang terjadi pada Agustus 2025, ketika Garut menjadi tuan rumah Kasundan International Silat Camp (KISC), sebuah pelatihan silat bertaraf internasional yang dihadiri lebih dari lima puluh peserta dari tujuh negara.
Di saat yang sama, tidak sedikit anak muda Garut yang bahkan tidak tahu bahwa padepokan-padepokan silat bersejarah itu masih berdiri kokoh di kampung mereka sendiri. Ada yang lebih menyakitkan dari dilupakan oleh orang luar? Ya dilupakan oleh pewarisnya sendiri.
Padahal, Garut bukan daerah yang miskin warisan. HPS Panglipur, perguruan yang pendirinya lahir di Garut pada 1856, telah berdiri sejak 1909. Perguruan Gadjah Putih Mega Paksi Pusaka lahir di Kampung Gegerpasang, Samarang, Garut, membawa filosofi yang bahkan terasa relevan di era media sosial sekalipun: "Elmu Luhung Teu Adigung, Sakti Diri Teu Kumaki" semakin tinggi ilmumu, semakin kamu harus merendah.
Di tingkat global, pengakuan itu sudah datang sejak lama: pada Desember 2019, UNESCO resmi menetapkan pencak silat sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia (Kemendikbud, 2019). Dunia sudah mengakui. Pertanyaannya sekarang, apakah kita, anak muda Garut, sudah melakukan hal yang sama?
Kalau mau jujur, masalahnya bukan sekadar soal minat. Ada sesuatu yang lebih mendasar: pencak silat di Garut sudah kehilangan panggungnya di kehidupan sehari-hari. Dulu, silat bukan hanya soal latihan di padepokan. Ia hadir di hajatan, di sunatan, bahkan menjadi hiburan rakyat lewat tradisi pasanggiri antarkampung. Silat adalah bagian dari napas sosial masyarakat Garut.
Kini konteks itu perlahan menghilang. Anak muda tidak lagi tumbuh dalam lingkungan yang menjadikan silat sebagai sesuatu yang dekat dan wajar. Akibatnya, warisan ini terasa asing bukan karena ditolak, tapi karena tidak pernah benar-benar diperkenalkan dengan cara yang bermakna.
Artikel ini merupakan salah satu karya dari 50 Penulis Terbaik Infogarut Write Fest 2.0.
Ingin membaca lebih banyak kisah, gagasan, dan tulisan inspiratif tentang Garut? Temukan seluruh karya para penulis terbaik dalam E-Book 50 Penulis Terbaik Infogarut Write Fest 2.0.
Baca versi lengkap e-book melalui tautan berikut ini dan jelajahi beragam cerita yang mengangkat potensi, budaya, sejarah, hingga wajah Garut dari sudut pandang para penulis terbaik.
Penulis
Sima Masruroh






