Sebagai bagian dari Generasi Z yang tumbuh di tengah arus media sosial, saya melihat sendiri bagaimana tren fesyen hari ini sangat dipengaruhi oleh algoritma digital seperti FYP TikTok, OOTD, dan berbagai gaya berpakaian yang cepat sekali berubah. Di titik ini, pakaian tidak lagi hanya soal kebutuhan, tetapi sudah menjadi cara untuk menunjukkan siapa diri kita dan bagaimana kita ingin dilihat di ruang digital.
Di tengah semua itu, ada satu hal yang cukup sering saya pikirkan. Banyak anak muda, termasuk di sekitar saya, dengan percaya diri memakai batik di berbagai kesempatan. Namun ketika ditanya lebih jauh asal motifnya dari mana, apa maknanya, atau cerita di baliknya tidak semua mampu menjawab. Di situ saya sadar, batik memang ada di lemari kami, tetapi belum tentu benar-benar hidup dalam cara kami memahaminya.
Hal ini diperkuat oleh Nugroho dan Reswari (2024) yang menjelaskan bahwa persoalan batik di kalangan Generasi Z bukan lagi pada apakah batik dipakai atau tidak, tetapi pada sejauh mana batik benar-benar dipahami. Artinya, batik sudah berhasil masuk ke gaya berpakaian anak muda, tetapi belum sepenuhnya masuk ke cara berpikir mereka.
Sebagai seseorang yang berasal dari Garut, pertanyaan ini terasa lebih dekat
Ketika batik semakin sering dipakai, saya jadi bertanya apakah kami benar-benar mengenal Batik Garutan sebagai bagian dari identitas daerah sendiri, atau justru hanya mengikuti arus tren visual yang cepat berlalu. Di tengah kuatnya identitas Garut seperti dodol, domba, dan wisata alam, Batik Garutan justru belum benar-benar hadir dalam percakapan sehari-hari generasi muda. Di sini terlihat satu persoalan penting: bukan sekadar batik dipakai atau tidak, tetapi apakah masih ada ruang untuk memahami budaya yang dikenakan.
Batik Garutan sendiri bukan hanya kain atau produk kerajinan. Ia merupakan cara masyarakat Garut mengekspresikan hubungan dengan alam, kehidupan, dan nilai budaya Sunda. Ia lahir dari proses panjang yang tidak hanya berbicara soal estetika, tetapi juga cara pandang hidup masyarakatnya.
Motif-motif seperti Merak Ngibing, Bulu Hayam, Cupat Manggu, dan Lereng Kangkung bukan sekadar hiasan visual. Di dalamnya terdapat cara masyarakat memaknai kehidupan, kedekatan dengan alam, serta nilai yang diwariskan lintas generasi (Sumartini & Rahmawati, 2024). Di antara banyak batik dari daerah lain, Batik Garutan memiliki karakter khas: sederhana, dekat dengan alam, dan sangat lokal. Namun justru karena kesederhanaan itu, ia sering kalah menonjol dibanding simbol lain seperti dodol atau domba Garut.
Artikel ini merupakan salah satu karya dari 50 Penulis Terbaik Infogarut Write Fest 2.0.
Ingin membaca lebih banyak kisah, gagasan, dan tulisan inspiratif tentang Garut? Temukan seluruh karya para penulis terbaik dalam E-Book 50 Penulis Terbaik Infogarut Write Fest 2.0.
Baca versi lengkap e-book melalui tautan berikut ini dan jelajahi beragam cerita yang mengangkat potensi, budaya, sejarah, hingga wajah Garut dari sudut pandang para penulis terbaik.
Penulis
Annisya Auliya Alfiyanti






