Kabupaten Garut bukan hanya dikenal sebagai kota dodol atau hamparan pegunungan yang indah. Di balik udara sejuk dan bentang alamnya, Garut menyimpan warisan budaya yang kaya, mulai dari seni tradisional, situs sejarah, adat istiadat, hingga nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun.
Tetapi, di tengah derasnya arus globalisasi dan budaya digital, tradisi lokal perlahan menghadapi tantangan besar. Generasi muda semakin akrab dengan budaya luar dibandingkan mengenal akar budayanya sendiri. Oleh karena itu, menjaga dan mempromosikan budaya Garut bukan sekadar nostalgia masa lalu, melainkan tanggung jawab bersama untuk masa depan.
Sebagai seorang guru Sejarah Kebudayaan Islam di MTsN 2 Garut, saya, Nurul Jubaedah, melihat budaya bukan hanya materi pelajaran, tetapi bagian dari identitas yang harus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari.
Budaya lokal mengandung nilai pendidikan karakter, toleransi, gotong royong, spiritualitas, serta penghormatan terhadap sejarah leluhur. Nilai-nilai tersebut sangat relevan bagi generasi Z yang hidup di era serba cepat namun sering kehilangan akar sosial dan budaya.
Salah satu warisan budaya Garut yang memiliki nilai sejarah dan toleransi tinggi adalah Candi Cangkuang di Kecamatan Leles. Situs ini bukan sekadar peninggalan Hindu, tetapi simbol harmoni budaya antara tradisi Hindu dan Islam yang hidup berdampingan di tengah masyarakat Sunda.
Dalam penelitian siswa MTsN 2 Garut yang saya bimbing, ditemukan bahwa masyarakat sekitar Candi Cangkuang masih menjaga tradisi lokal dengan penuh penghormatan terhadap nilai keberagaman dan sejarah (Jubaedah, 2025).
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa budaya lokal bukan benda mati, melainkan ruang hidup yang terus diwariskan melalui praktik sosial masyarakat.
Selain Candi Cangkuang, Garut juga memiliki kesenian tradisional seperti karinding, surak ibra, gondang, lais, serta tradisi adat Kampung Pulo yang menyimpan filosofi kehidupan Sunda. Seni karinding misalnya, dahulu digunakan sebagai alat komunikasi sekaligus hiburan rakyat.Kin
i, kesenian tersebut mulai kembali diperkenalkan kepada generasi muda sebagai bentuk pelestarian identitas budaya. Menurut Koentjaraningrat (2009), budaya lokal memiliki fungsi penting sebagai sistem nilai yang membentuk pola pikir dan perilaku masyarakat. Oleh sebab itu, hilangnya budaya lokal dapat menyebabkan hilangnya identitas sosial suatu daerah.
Di tengah perkembangan teknologi digital, pelestarian budaya harus dilakukan dengan pendekatan yang lebih kreatif dan dekat dengan generasi muda. Budaya tidak cukup hanya disimpan di museum atau diajarkan di ruang kelas, tetapi perlu dipromosikan melalui media sosial, video kreatif, literasi digital, hingga riset ilmiah siswa. Saya percaya bahwa generasi Z memiliki potensi besar menjadi duta budaya apabila diberikan ruang untuk berkreasi.
Melalui kegiatan Karya Ilmiah Remaja (KIR) di MTsN 2 Garut, saya membimbing sekitar 30 judul penelitian kategori sosial budaya. Tema penelitian yang diangkat tidak jauh dari budaya dan sejarah lokal Garut, seperti “Perspektif Islam dalam Menyikapi Kesenian Tradisional Seni Karinding,
Seni Lais, dan Seni Gondang”, “Pergeseran Fungsi Kesenian Tradisional Surak Ibra”, hingga “Perubahan Fungsi Rumah Adat Kampung Pulo Menjadi Destinasi Wisata Akibat Tren Media Sosial” (Jubaedah, 2020). Penelitian tersebut tidak hanya melatih kemampuan akademik siswa, tetapi juga menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya daerahnya sendiri.
Hasilnya sangat membanggakan. Peserta didik binaan berhasil meraih juara 1, 2, 3, dan harapan 1 kategori Sejarah, Geografi, dan Ekonomi tingkat Provinsi Jawa Barat, serta juara harapan 1 dan 2 tingkat nasional pada periode 2019–2021.
Bahkan pada tahun 2025, siswa binaan kembali meraih Juara 2 kategori Sejarah tingkat Provinsi Jawa Barat melalui riset tentang harmoni Hindu-Islam di Candi Cangkuang (Melintas.id, 2025). Prestasi tersebut membuktikan bahwa budaya lokal mampu menjadi sumber inspirasi riset ilmiah yang relevan dan membanggakan.
Bagi saya, budaya bukan hanya warisan untuk dikenang, tetapi kekuatan untuk membangun masa depan. Ketika generasi muda belajar meneliti sejarah daerahnya, mereka sedang belajar memahami identitas dirinya. Ketika mereka menulis tentang budaya lokal, sesungguhnya mereka sedang menyelamatkan ingatan kolektif masyarakatnya.
Selain aktif membimbing riset, saya juga terlibat dalam gerakan literasi budaya melalui penulisan artikel, buku antologi, dan konten pendidikan digital. Literasi menjadi jembatan penting dalam memperkenalkan budaya Garut kepada masyarakat luas.
Menurut Rohman (2017), budaya membaca dan menulis dapat memperkuat kesadaran sosial serta membangun karakter generasi muda. Untuk itu, pengenalan budaya saat ini harus dapat bergabung dengan dunia digital tanpa menghilangkan nilai-nilai aslinya.
Generasi Z memiliki karakter kreatif, adaptif, dan dekat dengan teknologi. Jika diarahkan dengan baik, mereka dapat menjadi agen pelestari budaya yang sangat kuat. Konten video pendek tentang sejarah Garut, dokumentasi tradisi lokal, podcast budaya, hingga penelitian berbasis media sosial dapat menjadi strategi baru mengenalkan budaya kepada masyarakat modern. Budaya harus hadir di ruang yang disukai generasi muda.
Saya percaya bahwa Kabupaten Garut memiliki potensi besar menjadi pusat edukasi budaya berbasis literasi digital. Kolaborasi antara sekolah, pemerintah, komunitas budaya, media, dan generasi muda perlu diperkuat agar budaya lokal tidak hanya bertahan, tetapi berkembang menjadi identitas kebanggaan daerah. Lomba budaya, festival sejarah, riset pelajar, hingga kampanye digital tentang budaya Garut harus terus didorong secara berkelanjutan.
Penulis: Nurul Jubaedah
Penyunting: Fadillah Nurkalam dan Reni Mardiani
====
50 Tulisan Pilihan dari Penulis Terbaik Infogarut Write Fest 2.0
Perjalanan, cerita, keresahan, hingga sudut pandang tentang Garut terangkum dalam 50 tulisan pilihan dari para penulis terbaik Infogarut Write Fest 2.0.
Setiap tulisan membawa cerita dan perspektif yang berbeda, menjadi bagian dari rekaman kecil tentang Garut dan segala dinamikanya.
📖 Ingin membaca cerita selengkapnya?
Yuk, temukan 50 tulisan pilihan tersebut dalam e-book Infogarut Write Fest 2.0 melalui link berikut:
🔗 [LINK E-BOOK]
Selamat membaca dan menikmati cerita dari para penulis Garut!






