Setiap tahun, ribuan nyawa melayang akibat insiden mematikan di perairan yang sebenarnya sangat bisa dicegah melalui penerapan beberapa langkah keselamatan sederhana. Momen peringatan ini sangatlah penting untuk terus mengedukasi masyarakat luas mengenai bahaya beserta cara pencegahannya.
Baca juga: Arus Deras Sungai Cikaengan Seret Pelajar hingga Tenggelam di Cibalong Garut
Sejarah Hari Anti Tenggelam Sedunia
Mengutip laporan Detik, kampanye global yang sering disebut World Drowning Prevention Day ini pertama kali diperingati pada tahun 2021 silam. Hari bersejarah tersebut ditetapkan secara resmi melalui pengesahan dokumen Resolusi A/RES/75/273 oleh Majelis Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada bulan April.
Inisiatif penetapan di tingkat dunia ini lahir sebagai wujud hasil kolaborasi nyata antara lembaga PBB dan pihak World Health Organization (WHO). Kerja sama tingkat global tersebut diperlukan sebagai langkah strategis demi menekan tingginya angka kematian akibat insiden itu.
Sejak momentum penetapan kebijakan tersebut, tanggal 25 Juli selalu dijadikan sarana pengingat penting bagi institusi pemerintah hingga deretan lembaga pendidikan. Para aktivis dalam organisasi sosial serta masyarakat umum juga secara aktif menggunakan tanggal tersebut untuk menyuarakan pentingnya pencegahan.
Momentum kolaborasi dari seluruh pemangku kepentingan tersebut difokuskan secara penuh untuk senantiasa meningkatkan kesadaran awam tentang pentingnya keselamatan perairan. Gerakan kolektif tersebut juga terus mendorong masyarakat luas agar lebih serius mengawasi lingkungan sekitar supaya kejadian maut ini dicegah.
Bahaya Tenggelam yang Wajib Diwaspadai
Kondisi mematikan ini sebenarnya bisa menimpa siapa saja tanpa pandang bulu ketika mereka sedang menghabiskan waktu luang di area perairan. Data pihak WHO menunjukkan hampir 250.000 orang meninggal setiap tahun, dengan korban yang didominasi anak usia satu hingga empat belas tahun.
Insiden nahas tersebut sering kali terjadi dalam hitungan detik di lokasi yang tidak terduga sebelumnya. Bahaya ini mengintai di perairan besar seperti laut, sungai, danau, kolam renang, hingga lokasi kecil layaknya bak mandi, kolam kecil, atau ember.
Kelompok usia anak dinobatkan sebagai pihak paling rentan mengalami kejadian buruk ini karena mereka memiliki kemampuan renang yang sangat minim. Kewaspadaan alami pada kelompok belia ini juga dinilai masih sangat terbatas, sehingga sangatlah membutuhkan pengawasan penuh dari orang dewasa.
Kematian akibat musibah mematikan ini sering kali terjadi secara sangat cepat dengan kondisi lingkungan senyap dan sama sekali tanpa suara. Karakteristik yang amat sunyi tersebut kemudian menjadikannya sebagai salah satu penyebab kematian utama anak yang masih sering diabaikan.
Baca juga: Wisatawan Terseret Ombak di Pantai Karangpapak, Empat Korban Selamat
Jadi Warginet, memantau pergerakan anak dengan serius pada area sekitar perairan merupakan langkah mutlak guna menekan risiko kematian. Maka dari itu, tingkatkan pengawasan mandiri demi memastikan keselamatan anggota keluarga dari segala marabahaya agar tujuan kampanye edukasi ini segera tercapai.






