Infogarut

Kopi, Batik, dan Sustainable Fashion: Wajah Baru Ekonomi Sirkular Garut

I
InfogarutPublisher
17 Agustus 2026 pukul 07.02 4 menit baca
Kopi, Batik, dan Sustainable Fashion: Wajah Baru Ekonomi Sirkular Garut

Perjalanan menyusuri sepanjang jalan Kota Garut, kita akan disuguhi dengan mudahnya mencium aroma kopi dari ratusan kedai kopi modern yang hampir setiap hari dipadati oleh mayoritas generasi muda. Dalam 5 tahun terakhir, Garut menjadi salah satu daerah yang memiliki jumlah kafe/kedai kopi yang relatif stabil dengan penurunan dan kenaikan (Open Data Jabar, 2020-2025).

Bahkan pada tahun 2018 tercatat sebanyak 203 kafe yang beroperasi di Kabupaten Garut (Badan Pusat Statistik Provinsi Jabar, 2018). Sebaliknya, ketika kita berjalan sedikit lebih jauh di sudut-sudut gang pengrajin Batik Garutan, justru aroma lilin khas perlahan kian memudar seiring menurunnya peminat.

Berdasarkan jurnal "Edukasi dan Pendampingan Perajin dan Pengusaha Batik di Kabupaten Garut" oleh Tajudin Nur dkk. (Universitas Padjadjaran) tahun 2023, jumlah perajin Batik Garutan yang masih bertahan kini hanya tersisa sekitar 200 orang dari ribuan unit usaha pada masa kejayaannya. Situasi yang tampak bertolak belakang ini terjadi karena sebuah daerah yang sering kali sedang bergerak menuju modernisasi sering kali melupakan warisan budayanya.

Tulisan ini menawarkan sebuah terobosan transformatif : bagaimana jika limbah kopi (berupa ampas dan kulit buah) yang menjadi simbol dari gaya hidup modern yang sedang menjadi tren di Garut, diadopsi menjadi salah satu solusi penyelamat ekologi sekaligus bahan baku pewarna alami yang mampu menghasilkan warna-warna bumi (earth-tone) eksklusif berdaya jual tinggi bagi industri Batik Garutan yang sedang redup eksistensinya?

Kabupaten Garut dibayangi oleh dua krisis besar di sektor yang berbeda. Dari sisi lingkungan, meningkatnya produksi kopi di Garut ternyata menyisakan masalah besar berupa tumpukan limbah buah kulit kopi dan juga ampasnya. Jika limbah ini dibiarkan membusuk secara anaerobik, maka akan melepaskan gas metana yang merupakan gas rumah kaca dengan intensitas 25 kali lebih merusak dibandingkan dengan karbon dioksida (Yustinus Ade Stirman, 2026).

Dari sudut pandang budaya, nasib perajin batik kini makin terhimpit. Salah satu permasalahan yang dialami adalah kesulitan mendapatkan pewarna kimia impor karena harganya naik-turun tidak pasti. Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat bahan baku tekstil yang digunakan mayoritas diimpor dari negara lain seperti Eropa, India dan China (Salsabila Kinanti, 2026).  Selain itu, penggunaan pewarna tersebut juga dapat merusak lingkungan dengan mengotori aliran sungai lokal.

Masalah ini tidak bisa diselesaikan dengan cara yang konvensional, melainkan dengan mengadopsi Circular Economy (Ekonomi Sirkular) dengan mengolah kembali limbah yang ada menjadi barang berguna (Ellen MacArthur Foundation, 2019),

Konsepnya hampir sama dengan Mottainai dari Jepang yang melarang kita membuang-buang sesuatu. Secara ilmiah, ampas kopi memiliki kandungan tanin yang tinggi, yaitu zat alami yang mempunyai kemampuan menempelkan warna dengan kuat pada kain. Hal ini didukung oleh penelitian yang pernah dilakukan oleh Rina Armeniza Aziz dan Rumanintya Lisaria Putri tahun 2022 dalam jurnal “Pewarnaan Batik Menggunakan Ampas Kopi Dalam Konteks Pariwisata” yang membuktikan bahwa ampas kopi berpotensi untuk dijadikan sebagai pewarna tekstil pada kain batik.

Warna yang dihasilkan pun cukup estetik karena tidak menghasilkan warna yang mencolok, limbah kopi mengekstraksi palet warna earth-tone yang memiliki kesan kalem seperti contoh warna coklat kayu, krem pastel sampai terracotta. Warna-warna seperti itulah yang sekarang sedang menjadi buruan utama di dunia fesyen yang mengangkat konsep minimalis.

Selain itu, sebagaimana disebutkan oleh Balai Besar Kerajinan dan Batik, penggunaan warna alami dapat mendorong sustainability dengan mencegah kerusakan yang dapat ditimbulkan oleh kerusakan lingkungan akibat penggunaan bahan kimia (Dwi Wiji Lestari, 2025).

Penulis: Gina Rahayu Meilani

Penyunting: Fadillah Nurkalam dan Reni Mardiani

====

50 Tulisan Pilihan dari Penulis Terbaik Infogarut Write Fest 2.0

Perjalanan, cerita, keresahan, hingga sudut pandang tentang Garut terangkum dalam 50 tulisan pilihan dari para penulis terbaik Infogarut Write Fest 2.0.

Setiap tulisan membawa cerita dan perspektif yang berbeda, menjadi bagian dari rekaman kecil tentang Garut dan segala dinamikanya.

📖 Ingin membaca cerita selengkapnya?

Yuk, temukan 50 tulisan pilihan tersebut dalam e-book Infogarut Write Fest 2.0 melalui link berikut:

🔗 [LINK E-BOOK]

Selamat membaca dan menikmati cerita dari para penulis Garut!

Diskusi (0)

Bergabunglah dalam Diskusi

Silakan masuk dengan akun Anda untuk menulis komentar dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.

Lanjut Membaca