GARUT, infogarut.id – Biasanya, healing identik dengan pergi ke tempat yang tenang, menikmati pemandangan alam, atau sekadar menjauh sejenak dari rutinitas. Tapi bagaimana kalau healing-nya dilakukan sambil camping, menikmati konser musik, meditasi, makan bersama, hingga ikut kegiatan penanaman pohon?
Konsep tersebut bakal hadir di Garut melalui Suara Guntur: The Sound of Wellness, sebuah event yang memadukan musik, alam, wellness, budaya, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Berlangsung pada 19–20 September 2026 di Eduwisata Gunung Guntur, acara ini dirancang bukan sekadar sebagai pertunjukan musik, tetapi sebagai pengalaman yang mengajak pengunjung lebih dekat dengan alam sekaligus menikmati berbagai aktivitas yang berkaitan dengan mindfulness dan keberlanjutan.
Baca Juga: Ternyata, Gunung Guntur Bukan Hanya Bisa Dijajaki sebagai Wisata Alam, Tapi Bisa Hadirkan Konser!
Camping di Kaki Gunung Guntur Sambil Menikmati Musik
Salah satu daya tarik utama Suara Guntur tentu saja konsep camping yang dipadukan dengan pertunjukan musik.
Rangkaian acara hari pertama dijadwalkan berlangsung mulai pukul 15.00 hingga 22.00 WIB, sedangkan kegiatan pada hari kedua dimulai sejak 05.00 hingga 10.00 WIB. Dengan demikian, pengunjung bisa menikmati suasana sore hingga malam di kawasan Gunung Guntur, kemudian melanjutkan pengalaman pada pagi harinya.
Area acara sendiri dilengkapi sejumlah fasilitas, mulai dari main stage, glamping, coffee corner, booth UMKM, booth aktivasi hingga area pendukung lainnya.
Jadi, pengalaman yang ditawarkan bukan sekadar datang, menonton musisi tampil, lalu pulang.
Pengunjung justru diajak untuk menikmati suasana alam Gunung Guntur sambil mengikuti berbagai aktivitas yang sudah disiapkan sepanjang rangkaian acara.
Budi Cilok, Panji Sakti hingga Fanny Soegi Siap Meramaikan Panggung

Untuk urusan musik, Suara Guntur menghadirkan sejumlah musisi yang akan tampil dalam dua rangkaian utama.
Pada hari pertama melalui Suara Buana, panggung akan diisi oleh Budi Cilok, Panji Sakti, dan Enjoy Your Symptoms. Sementara pada hari kedua melalui Suara Pagi Buta, ada Fanny Soegi dan Manopasu.
Kehadiran para musisi tersebut menjadi bagian dari konsep art performance yang menjadi salah satu unsur utama Suara Guntur.
Dengan latar alam Gunung Guntur, penonton nantinya bisa menikmati musik dalam suasana yang berbeda dari konser pada umumnya.
Ada Meditasi hingga Mindful Eating
Buat yang datang bukan hanya untuk musik, Suara Guntur juga menawarkan sejumlah kegiatan yang lebih dekat dengan konsep wellness.
Salah satunya adalah meditasi dan kontemplasi. Aktivitas ini dirancang untuk membantu peserta meningkatkan fokus, mengendalikan emosi, dan menjernihkan pikiran.
Ada pula mindful eating, yaitu kegiatan makan dengan penuh kesadaran. Dalam acara ini, peserta akan diajak makan bersama dengan menu tradisional Sunda berupa nasi liwet, sekaligus menikmati nilai kebersamaan dan menghargai proses di balik makanan yang dikonsumsi.
Konsep tersebut kemudian diperluas melalui Guntur Talk's, yang membawa sejumlah tema seperti Mindful Eating, Revolusi Meja Makan, dan Hutan Pangan.
Bisa Hiking Sekaligus Menanam Pohon
Suara Guntur juga mengajak pengunjung beraktivitas langsung di alam melalui program Ziarah Tanah.
Kegiatan ini berupa hiking yang dilanjutkan dengan penanaman pohon. Penyelenggara ingin aktivitas tersebut tidak berhenti sebagai seremoni, tetapi menjadi ruang untuk memahami kembali hubungan manusia dengan tanah dan lingkungan.
Selain itu, terdapat pula agenda mitigasi melalui simbolis pemasangan rambu di kawasan Gunung Guntur.
Program ini membawa pesan mengenai pentingnya kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi bencana, khususnya di kawasan yang memiliki karakter alam seperti Gunung Guntur.
Bukan Cuma Alam, Ada Literasi dan Kerajinan
Menariknya, rangkaian Suara Guntur juga menyentuh sisi budaya dan literasi.
Dalam proposalnya, terdapat agenda bedah buku dengan konsep “Berliterasi dan Bernarasi”. Program ini diarahkan untuk mendorong minat baca dan membangun budaya literasi di tengah masyarakat.
Ada pula kegiatan workshop yang berkaitan dengan batik, akar wangi, dan kerajinan tangan, sehingga pengunjung tidak hanya menikmati alam dan musik, tetapi juga bisa mengenal aktivitas kreatif yang berkaitan dengan budaya dan potensi lokal.
Ada Pesan Khusus Soal Sampah
Salah satu hal yang cukup ditekankan dalam konsep Suara Guntur adalah persoalan sampah.
Melalui program “Sumpah, Sampah, Serapah”, pengunjung diajak untuk tidak meninggalkan sampah selama mengikuti acara. Peserta juga diarahkan membawa tumbler dan wadah makanan sendiri sebagai upaya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Pesan tersebut sejalan dengan konsep besar Suara Guntur yang membawa isu sustainability, mindfulness, dan art performance dalam satu pengalaman.
Artinya, healing yang ditawarkan bukan hanya tentang mencari ketenangan di tengah alam, tetapi juga mengajak pengunjung untuk lebih sadar terhadap lingkungan yang menjadi bagian dari pengalaman tersebut.
Suara Guntur Digelar 19–20 September 2026
Dengan memadukan camping, konser musik, meditasi, kuliner, hiking, penanaman pohon, literasi, workshop, hingga edukasi konservasi dan mitigasi bencana, Suara Guntur menawarkan pengalaman yang cukup berbeda untuk menghabiskan akhir pekan di Garut.
Apalagi, pengunjung bisa menikmati penampilan Budi Cilok, Panji Sakti, Fanny Soegi, Enjoy Your Symptoms, dan Manopasu dalam suasana alam Gunung Guntur.
Buat wargi Garut yang tertarik merasakan pengalaman healing dengan cara berbeda, Suara Guntur: The Sound of Wellness akan digelar pada 19–20 September 2026 di Eduwisata Gunung Guntur.
Tertarik ikut? Reservasi tiket Suara Guntur bisa dilakukan melalui:
Reservasi Tiket Suara Guntur – The Sound of Wellness
Penulis: Reni Mardiani






