Perubahan kondisi geologi di kawasan daratan Sundaland ternyata memberikan dampak luas terhadap kondisi iklim dan sirkulasi lautan. Penurunan permukaan tanah purba tersebut memicu transformasi besar pada pola cuaca di Benua Maritim.
Baca juga: Bukan Karena Es, Daratan Sundaland Tenggelam Akibat Dinamika Mantel
Proses Tenggelamnya Daratan Sundaland
Melansir dari artikel riset Anne-Clarisse Sarr (2019), proses subsidence terjadi akibat robeknya lempeng samudra atau slab tear di zona subduksi. Peristiwa tektonik ini memicu penyedotan dinamik yang menarik kerak daratan ke bawah.
Masuknya kerak benua Australia ke palung subduksi mengubah aliran mantel secara drastis di bawah wilayah Indonesia bagian timur. Akibatnya, wilayah paparan benua mengalami gaya tarik ke dalam mantel bumi yang intensif.
Proses genangan air laut mulai menenggelamkan daratan secara berkala dalam kurun 400.000 tahun terakhir. Sebelum periode tersebut, kawasan ini merupakan daratan utuh yang tidak pernah tersentuh oleh genangan pasang air laut.
Simulasi numerik pertumbuhan karang di sekitar pulau-pulau penghasil timah mengonfirmasi laju penurunan daratan tersebut. Penelitian ilmiah ini menggunakan sampel mikroatol fosil karang jenis Porites untuk mengukur perubahan muka air laut purba.
Hasil analisis membuktikan bahwa mekanisme penurunan tanah berlangsung dinamis dan berkesinambungan hingga era Holosen. Data geofisika ini memberikan gambaran yang sangat jernih mengenai evolusi lanskap pesisir di wilayah Asia Tenggara.
Dampak Terhadap Sirkulasi Arus Laut
Tenggelamnya daratan purba membuka kembali perlintasan air di Selat Karimata yang menghubungkan Laut Cina Selatan dan Samudra Hindia. Terbukanya selat ini mengubah sirkulasi Arus Lintas Indonesia (Arlindo) secara cukup dramatis.
Perubahan alur laut tersebut memengaruhi temperatur permukaan laut serta tingkat salinitas di perairan Samudra Hindia bagian timur. Pergeseran massa air ini memiliki dampak langsung terhadap pola pergerakan arus iklim global.
Selain arus laut, tergenangnya kawasan daratan juga mengubah sirkulasi atmosfer di atas wilayah Benua Maritim Indonesia. Pola Angin Pasat dan Sirkulasi Walker mengalami modifikasi seiring dengan semakin meluasnya wilayah lautan dangkal.
Fenomena osilasi iklim seperti El Niño-Southern Oscillation (ENSO) turut mengalami dinamika akibat pergeseran kondisi termal perairan regional. Penelitian geologi ini memperjelas keterkaitan yang sangat erat antara proses Bumi dan iklim purba.
Pemahaman menyeluruh mengenai iklim masa lalu memberikan panduan berharga dalam memprediksi perubahan lingkungan pada masa mendatang. Seluruh sistem Bumi terbukti saling terhubung secara erat antara lapisan kerak, samudra, serta atmosfer.
Baca juga: Jejak Atlantis di Laut Jawa, Benarkah Ada di Indonesia?
Jadi Warginet, penurunan kawasan daratan Sundaland bukan sekadar sejarah tenggelamnya daratan, melainkan penentu dinamika iklim wilayah Nusantara. Pemahaman geologi ini tentu sangat bermanfaat untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan kita bersama.






