Infogarut

Bukan Karena Es, Daratan Sundaland Tenggelam Akibat Dinamika Mantel

M
Muhamad Renaldi SPublisher
1 September 2026 pukul 06.39 2 menit baca
Bukan Karena Es, Daratan Sundaland Tenggelam Akibat Dinamika Mantel
Bukan Karena Es, Daratan Sundaland Tenggelam Akibat Dinamika Mantel, Source: en.wikipedia.org

Tim peneliti internasional menemukan fakta mengenai kawasan daratan Sundaland yang ternyata mengalami penurunan daratan secara konstan. Fenomena geologi ini membantah asumsi lama bahwa wilayah tersebut selalu stabil sepanjang masa purba.

Baca juga: Tokoh di Balik Perjalanan Nama Indonesia hingga Jadi Identitas Bangsa

Penurunan Daratan Sundaland Terjadi

Dilansir dari riset ilmiah Anne-Clarisse Sarr bersama tim (2019), penurunan daratan terjadi dengan laju berkisar 0,2 hingga 0,3 milimeter per tahun. Data tersebut diperoleh melalui pemodelan pertumbuhan terumbu karang serta stratigrafi seismik di Pulau Belitung.

Temuan ini menunjukkan bahwa fenomena genangan laut di paparan dangkal bukanlah semata-mata akibat perubahan permukaan air laut global. Pergerakan konveksi mantel pada zona subduksi Indo-Australia memberikan pengaruh signifikan terhadap elevasi daratan.

Sebelum kurun waktu 400.000 tahun lalu, wilayah ini diperkirakan terbuka sebagai daratan luas tanpa pernah ditenggelami air laut. Kondisi geologi tersebut mendukung keberadaan ekosistem darat yang bertahan sangat lama.

Proses inundasi berkala baru mulai berlangsung setelah periode Marine Isotope Stage 11 (MIS11) akibat penurunan elevasi tanah secara bertahap. Sejak saat itu, pulau-pulau di Nusantara mulai terpisah saat fase antartes.

Selat Karimata yang memiliki kedalaman dangkal tercatat baru mengalami penggenangan laut pertama kali pada periode interglasi MIS5e. Fenomena tersebut membentuk konfigurasi geografis kepulauan Indonesia seperti yang terlihat hari ini.

Jembatan Darat Purba Berubah Permanen

Keberadaan daratan yang menyatu secara permanen 400.000 tahun lalu sangat penting bagi penyebaran flora dan fauna Asia Tenggara. Jalur darat yang stabil memudahkan migrasi berbagai mamalia melintasi benua Eurasia menuju benua pesisir.

Selain keanekaragaman hayati, pergerakan manusia purba seperti Homo erectus juga sangat dipengaruhi oleh dinamika jembatan darat purba ini. Mereka dapat berpindah antarwilayah tanpa terhalang oleh bentangan selat laut yang cukup dalam.

Penemuan ini merevisi teori lama yang menganggap jembatan darat hanya muncul sewaktu masa pembekuan es atau glasiasi terjadi. Pemahaman ilmiah baru ini mengubah rekonstruksi sejarah keanekaragaman hayati di kawasan Malesia.

Para ilmuwan geologi kini dapat memetakan ulang rute migrasi organisme purba secara lebih akurat berdasarkan kronologi geologi terkini. Hal ini memberikan wawasan mendalam mengenai evolusi beragam spesies endemik di wilayah Indonesia.

Interaksi antara dinamika kerak bumi dan keanekaragaman hayati memperlihatkan betapa kompleksnya perubahan alam pada masa lampau. Kajian ilmiah ini membuktikan pentingnya penggabungan disiplin ilmu geologi dan biologi dalam merekonstruksi sejarah planet.

Baca juga: Jejak Atlantis di Laut Jawa, Benarkah Ada di Indonesia?

Nah Warginet, fakta tenggelamnya daratan Sundaland ini membuka mata kita akan dahsyatnya pergeseran bentuk bumi dari waktu ke waktu. Informasi sejarah geologi Nusantara ini tentu sangat menarik untuk dipelajari bersama.

Diskusi (0)

Bergabunglah dalam Diskusi

Silakan masuk dengan akun Anda untuk menulis komentar dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.

Lanjut Membaca