Infogarut

Surabi Berlian Garut: Surabi With A View di Ibrahim Adjie

M
Mutiara LestariPublisher
5 Oktober 2026 pukul 12.05 5 menit baca
Surabi Berlian Garut: Surabi With A View di Ibrahim Adjie
Surabi With A View di Ibrahim Adjie (Sumber: Berita Daerah)

Warginet, siapa bilang menikmati jajanan tradisional harus selalu di tempat yang biasa-biasa saja?

Di Garut, ada satu tempat yang bikin makan surabi terasa seperti sekalian healing. Namanya Surabi Bakar Berlian, yang berada di Jalan Letjen Ibrahim Adjie, Kecamatan Tarogong Kaler.

Menu utamanya memang sederhana: surabi.

Tapi yang bikin tempat ini ramai dibicarakan bukan cuma soal rasa. Duduk menyantap surabi hangat di sini, Warginet juga bisa ditemani hamparan sawah hijau dan panorama pegunungan Garut.

Makanya, nggak heran kalau tempat ini kemudian dikenal dengan konsep “surabi with a view”.

Baca Juga: Resep Asing Diolah Jadi Sajian Lokal, Begini Perjalanan Perkedel di Indonesia

Surabi Berlian, Makan Surabi Sambil Lihat Gunung

Daya tarik utama Surabi Berlian Garut sebenarnya langsung terasa dari lokasinya.

Kedai ini berada di Jalan Letjen Ibrahim Adjie yang memang dikenal punya lanskap alam cukup cantik. Dari kawasan tersebut, pengunjung bisa melihat hamparan sawah sekaligus panorama Gunung Guntur dan sejumlah gunung lain di sekitar Garut.

Surabi Bakar Berlian memadukan kuliner tradisional dengan panorama Gunung Guntur dan hamparan sawah hijau. Sementara itu, koridor Ibrahim Adjie sebagai jalur dengan hamparan sawah dan panorama Gunung Cikuray, Gunung Guntur, hingga Gunung Papandayan ketika cuaca cerah.

Jadi, kalau biasanya makan surabi cuma fokus ke piring di depan mata, di sini Warginet punya “menu tambahan” berupa pemandangan alam.

Kenapa Jalan Ibrahim Adjie Punya View yang Menarik?

Buat Warginet yang sering lewat kawasan ini, pemandangan sawah dan gunung di Jalan Ibrahim Adjie mungkin sudah nggak asing lagi.

Jalur tersebut memang punya karakter yang cukup berbeda dibandingkan jalan perkotaan pada umumnya.

Pemerintah Kabupaten Garut menyebutkan Jalan Ibrahim Adjie memiliki panjang sekitar 6 kilometer dan menyuguhkan hamparan sawah serta pemandangan Gunung Guntur, Gunung Cikuray, dan Gunung Papandayan.

Bahkan saat peresmian Jalan Letjen Ibrahim Adjie pada Desember 2023, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mencatat panorama Gunung Guntur menjadi salah satu pemandangan yang terlihat dari lokasi peresmian.

Makanya, kehadiran tempat makan seperti Surabi Berlian terasa nyambung dengan karakter kawasan ini.

Surabinya Tetap Jadi Bintang Utama

Walaupun pemandangannya menjadi salah satu alasan orang datang, tentu saja makanan tetap jadi bagian penting.

Surabi Bakar Berlian mempertahankan karakter surabi khas Sunda dengan tekstur yang lebih tebal dan padat.

Menurut Yopi Herdiana selaku pemilik, surabi di tempatnya dibuat dengan kelapa segar yang diparut menggunakan teknik tertentu. Adonan tersebut kemudian dibakar menggunakan kayu bakar untuk menghasilkan tekstur dan aroma khas.

Cara pengolahan yang masih konvensional tersebut menjadi salah satu pembeda yang ditawarkan Surabi Bakar Berlian.

Jadi, bukan cuma view Gunung Guntur yang bikin menarik, tetapi juga proses pembuatan surabinya.

Dari Tiga Varian, Kini Punya Puluhan Pilihan

Awalnya, Surabi Bakar Berlian hanya menawarkan tiga varian klasik, yaitu polos, oncom, dan telur.

Namun, seiring berkembangnya usaha dan menyesuaikan selera anak muda serta wisatawan, kini tersedia sekitar 30 varian rasa.

Untuk Warginet yang suka rasa gurih, ada pilihan telur-oncom dan telur-abon yang disebut menjadi beberapa menu favorit.

Sementara yang lebih suka manis bisa memilih kombinasi cokelat, caramel, keju, dan susu. Jadi kalau datang bareng teman dengan selera berbeda-beda, pilihan menunya cukup banyak untuk dieksplorasi.

Harga Surabi Berlian Mulai Rp4 Ribuan

Nah, ini bagian yang mungkin bikin Warginet makin tertarik, harga Surabi Bakar Berlian berada di kisaran Rp4.000 hingga Rp15.000 per porsi, tergantung varian yang dipilih.

Dengan harga tersebut, Warginet bisa menikmati jajanan tradisional sambil duduk santai menikmati pemandangan pegunungan.

Konsepnya sederhana, tapi pengalaman makannya yang bikin berbeda.

Viral karena View dan Media Sosial

Popularitas Surabi Berlian Ibrahim Adjie juga nggak lepas dari media sosial.

Menurut Yopi Herdiana yang dikutip FokusJabar, konten yang dibuat pengunjung kerap masuk FYP dan ditonton hingga jutaan kali. Ia juga menyebut sekitar 70 persen pengunjung pada pagi hari berasal dari luar kota, seperti Jakarta, Bandung, dan Sumatra.

Hal tersebut menunjukkan bagaimana pengalaman makan yang sederhana bisa berubah menjadi daya tarik wisata ketika punya sesuatu yang kuat untuk dibagikan.

Dalam kasus Surabi Berlian, kombinasi surabi tradisional + sawah + panorama gunung menjadi visual yang cukup mudah menarik perhatian di media sosial.

Cocok Buat Sarapan atau Nongkrong Pagi

Kalau ingin mendapatkan suasana yang lebih sejuk, waktu pagi bisa jadi pilihan.

Surabi Bakar Berlian melayani pelanggan mulai pukul 06.00–10.00 WIB, kemudian buka kembali pada sore hingga malam, yaitu pukul 17.00–22.00 WIB.

Sumber lain merekomendasikan waktu sekitar pukul 06.00–09.00 WIB atau 17.00–18.00 WIB untuk menikmati suasana dan pemandangan di lokasi.

Pagi hari tentu punya daya tarik tersendiri. Udara Garut yang masih sejuk, surabi yang baru matang, secangkir minuman hangat, ditambah pemandangan sawah dan gunung, kayaknya sudah cukup untuk bikin sarapan terasa lebih spesial.

Kalau Datang, Jangan Cuma Fokus ke Surabinya

Ada satu hal yang perlu Warginet ingat. Kalau datang ke sini, jangan buru-buru makan lalu pulang.

Coba luangkan sedikit waktu untuk melihat sekitar.

Jalan Ibrahim Adjie memang dikenal dengan lanskap sawah dan pegunungannya. Saat cuaca cerah, Gunung Guntur, Cikuray, dan Papandayan bisa menjadi bagian dari panorama yang terlihat dari kawasan tersebut.

Jadi, setelah surabinya datang, cari posisi duduk yang nyaman, nikmati makanannya, lalu sesekali lihat ke arah pegunungan. Karena justru pemandangan itulah yang membuat pengalaman di Surabi Berlian terasa berbeda.

Menariknya, Surabi Berlian menunjukkan bahwa kuliner tradisional nggak harus selalu dikemas dengan cara yang kuno.

Surabinya tetap mempertahankan proses pengolahan konvensional dan bahan yang menjadi karakter makanan tersebut. Namun, cara menikmatinya dibuat lebih dekat dengan kebiasaan anak muda dan wisatawan yaitu duduk santai, foto-foto, menikmati alam, lalu membagikan pengalaman ke media sosial.

Bahkan, pengelola menyebut salah satu tujuan usahanya adalah ikut melestarikan kuliner khas Jawa Barat di tengah tren makanan modern.

Dari sini, surabi bukan cuma sekadar jajanan pasar. Ia bisa menjadi bagian dari pengalaman kuliner sekaligus cara memperkenalkan makanan tradisional kepada generasi yang lebih muda.

Surabi With a View, Versi Garut

Warginet, ternyata menikmati surabi nggak harus selalu soal mencari rasa yang enak.

Kadang, suasana tempat makannya juga ikut menentukan pengalaman.

Di Surabi Berlian Garut, seporsi surabi hangat bisa dinikmati bersama hamparan sawah dan panorama pegunungan yang menjadi ciri khas Garut.

Apalagi Jalan Ibrahim Adjie memang sudah dikenal sebagai salah satu kawasan dengan pemandangan alam yang menarik.

Baca Juga: Cuaca Lagi Dingin, Kuliner Garut Ini Cocok Disantap Biar Makin Hangat

Jadi, kalau Warginet sedang mencari kuliner Garut yang sederhana tapi punya pengalaman berbeda, Surabi Bakar Berlian bisa masuk ke daftar.

Surabi hangat, udara sejuk, sawah hijau, dan view gunung.

Siapa bilang jajanan tradisional nggak bisa punya vibes kekinian?

Penulis: Mutiara Lestari

Sumber: FokusJabar, detikJabar, Berita Daerah, Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Diskusi (0)

Bergabunglah dalam Diskusi

Silakan masuk dengan akun Anda untuk menulis komentar dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.

Lanjut Membaca