Sejarah Gunung Krakatau memiliki rangkaian panjang yang berkaitan dengan aktivitas vulkanik di kawasan antara Jawa dan Sumatera, termasuk letusan purba yang dalam sejumlah catatan disebut berhubungan dengan perubahan besar bentang alam di wilayah tersebut.
Baca juga: Tren Wisata Garut, Destinasi Pegunungan Ungguli Kunjungan Pantai
Sejarah Gunung Krakatau Purba
Informasi mengenai Gunung Krakatau Purba masih terbatas, termasuk waktu pasti terjadinya letusan. Gambaran mengenai peristiwa tersebut tercatat dalam naskah Jawa kuno Pustaka Raja Parwa yang diperkirakan ditulis pada awal abad ke-5 Masehi.
Naskah tersebut menggambarkan suara guntur yang menggelegar dari Gunung Batuwara, disertai guncangan bumi, kegelapan, petir, badai angin, dan hujan. Catatan itu juga menyebut banjir besar yang mengalir ke arah timur hingga menyebabkan Pulau Jawa terpisah menjadi dua.
Gunung Batuwara dalam naskah Pustaka Raja Parwa kemudian disimpulkan oleh Berend George Escher, ahli geologi Belanda sekaligus guru besar Universitas Leiden, sebagai Gunung Krakatau purba. Gunung tersebut diperkirakan memiliki ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut.
Lingkar pantai Gunung Krakatau Purba diperkirakan mencapai 11 kilometer. Letusan pada abad ke-5 Masehi disebut berlangsung sekitar 10 hari dengan material erupsi yang mencapai 1 juta ton per detik, ketika Selat Sunda belum terbentuk dan gunung masih berada di Pulau Jawa.
Letusan yang Mengubah Bentang Alam
Riset David Keys dalam buku berjudul “Catastrophe: An Investigation Into the Origins of the Modern World” yang terbit pada tahun 2000 menarik sejumlah kesimpulan mengenai letusan Gunung Krakatau Purba. Salah satunya, ledakan tersebut disebut memiliki daya sangat besar hingga mengguncang wilayah Jawa.
Akibat letusan itu, sebagian tanah disebut ambles dan kemudian membentuk Selat Sunda. Peristiwa tersebut juga dikaitkan dengan terpisahnya wilayah yang sebelumnya menjadi satu kesatuan serta terbentuknya Pulau Sumatera.
Gunung Krakatau Purba kemudian hancur dan meninggalkan kaldera atau kawah besar di dasar lautan. Bagian tepi kawah tersebut selanjutnya membentuk tiga pulau, yakni Pulau Rakata, Pulau Panjang atau Pulau Rakata Kecil, dan Pulau Sertung.
Pulau Rakata kemudian berkembang menjadi gunung baru, disusul kemunculan Gunung Danan dan Gunung Perbuwatan di kawasan yang sama. Ketiganya kemudian bersatu dan membentuk Gunung Krakatau sebelum kembali mengalami erupsi besar pada 1883.
Baca juga: Garut Masuk 3 Besar Wilayah dengan Area Hiking Terbanyak di Jabar
Nah Warginet, rangkaian sejarah Gunung Krakatau memperlihatkan panjangnya perubahan yang terjadi di kawasan tersebut sejak masa purba. Jejak aktivitas vulkaniknya kemudian membentuk sejumlah pulau dan gunung yang menjadi bagian dari kawasan Krakatau hingga sekarang.
Sumber: Tirto.id






