Infogarut

Kenapa Turis Asing Sulit Cari Tempat Sampah di Jepang saat Liburan?

M
Muhamad Renaldi SPublisher
6 November 2026 pukul 11.44 2 menit baca
Kenapa Turis Asing Sulit Cari Tempat Sampah di Jepang saat Liburan?
Kenapa Turis Asing Sulit Cari Tempat Sampah di Jepang saat Liburan?, Source: Istimewa

Banyak wisatawan asing membawa bungkus roti lapis telur 7-Eleven serta gelas kopi kosong sambil kebingungan menyusuri area perkotaan. Keberadaan tempat sampah di Jepang memang sangat minim di ruang publik, kendati tingkat kebersihan area jalanan sangat tinggi.

Baca juga: Armada Sampah Kembali Masuk TPA Pasir Bajing, Bupati Garut Ketatkan Keamanan

Faktor Keamanan Tempat Sampah di Jepang

Dalam laporan BBC Indonesia disebutkan bahwa penyingkiran wadah penampungan buangan berawal dari tragedi Maret 1995. Anggota sekte Aum Shinrikyō melepaskan gas racun sarin di 3 jalur Metro Tokyo hingga menewaskan 14 orang serta melukai ribuan warga.

“Ada lebih sedikit kesempatan untuk menghasilkan sampah selama bepergian karena makan sambil berjalan atau saat naik kereta bukanlah hal yang lazim di Jepang,” ujar Eiko Maruko Siniawer.

Pihak berwenang mengambil tindakan tegas dengan menutup tempat penampungan di area stasiun dan ruang terbuka sebagai pencegahan aksi terorisme. Tragedi 11 September 2001 di Amerika Serikat semakin memperkuat kebijakan ketat pencegahan potensi bahaya serupa.

Profesor sejarah Williams College, Eiko Maruko Siniawer, menjelaskan bahwa kelangkaan fasilitas kebersihan publik merupakan hasil perubahan sosial bertahap. Pertimbangan keamanan yang bertahan selama 3 dekade menjadi faktor utama pembatasan penempatan wadah penampungan umum.

Efisiensi Biaya Dan Kebijakan Daerah

Sejak awal 2000, pemerintah daerah secara sengaja membatasi penempatan fasilitas pembuangan di jalanan untuk menghemat anggaran operasional harian. Kota Kyoto bahkan memangkas tempat penampungan hingga lebih dari separuh sejak 2011 akibat maraknya pembuangan limbah rumah tangga.

“Di Kyoto, misalnya, jumlah tempat sampah di jalanan dikurangi lebih dari separuh sejak 2011,” kata Aya Yoshida.

Aya Yoshida dari National Institute for Environmental Studies menegaskan bahwa pembatasan dilakukan demi menekan pembengkakan biaya pemeliharaan. Kebijakan tersebut terbukti mendorong masyarakat agar bertanggung jawab penuh atas buangan sisa kemasan pribadi masing-masing.

Fasilitas pembuangan limbah transparan kini hanya disediakan di dekat gerbang tiket stasiun kereta di bawah pengawasan kamera. Stasiun Shinjuku di Kota Tokyo bahkan mulai melakukan uji coba robot penampung otomatis yang mengelilingi area stasiun untuk mengumpulkan sampah dari penumpang.

Kombinasi antara perkembangan sejarah, pertimbangan keamanan nasional, efisiensi anggaran daerah, serta tanggung jawab pribadi masyarakat menciptakan pola pengelolaan lingkungan yang unik. Kebijakan terpadu tersebut terbukti efektif menjaga kebersihan publik tanpa bergantung pada fasilitas fisik.

Baca juga: Atasi Ketimpangan Dana Kelola TPA Pasir Bajing, Pemkab Garut Tambah Anggaran

Jadi Warginet, keterbatasan tempat sampah di Jepang menjadi bukti bahwa keindahan lingkungan lahir dari kebijakan matang serta kedisiplinan warga. Kesadaran untuk menyimpan sisa bungkus kemasan pribadi menjadi kunci utama dalam memelihara kebersihan kota.

Diskusi (0)

Bergabunglah dalam Diskusi

Silakan masuk dengan akun Anda untuk menulis komentar dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.

Lanjut Membaca