Infogarut

Dari Makanan Sederhana, Tutug Oncom Jadi Ikon Kuliner Sunda

M
Mutiara LestariPublisher
8 Oktober 2026 pukul 13.26 6 menit baca
Dari Makanan Sederhana, Tutug Oncom Jadi Ikon Kuliner Sunda
Nasi Tutug Oncom Jadi Ikon Kuliner Sunda (Sumber: Irma Sjachlan)

Warginet, pernah nggak sih makan sesuatu yang kelihatannya sederhana, tapi begitu dicoba malah bikin susah berhenti?

Nasi hangat, oncom, sedikit bumbu, sambal, lalu ditemani lauk sederhana. Nggak ada bahan yang terdengar mewah, tapi perpaduannya justru punya rasa yang khas dan susah dilupakan.

Salah satunya adalah Tutug Oncom.

Kuliner yang juga sering disebut nasi TO ini dikenal sebagai makanan khas Tasikmalaya, Jawa Barat. Namanya mungkin terdengar sederhana, begitu juga bahan utamanya. Tapi di balik sepiring nasi tutug oncom, ada cerita tentang kebiasaan makan masyarakat Sunda, cara mengolah bahan yang tersedia, sampai bagaimana makanan sederhana bisa bertahan dan dikenal lebih luas.

Baca Juga: Surabi Berlian Garut: Surabi With A View di Ibrahim Adjie

Tutug Oncom, Sebenarnya Makanan Apa?

Secara sederhana, Tutug Oncom adalah nasi yang dicampur dengan oncom yang sudah diolah dan dibumbui.

Dalam sumber Badan Bahasa, Tutug Oncom disebut sebagai makanan khas Tasikmalaya yang dibuat dari nasi yang diaduk bersama oncom goreng atau bakar. Sementara Indonesia Kaya menjelaskan bahwa oncom menjadi salah satu unsur utama yang memberikan cita rasa khas pada hidangan ini.

Biasanya, nasi tutug oncom disajikan dalam kondisi hangat bersama berbagai lauk pendamping. Ada ayam goreng, ikan asin, tahu, tempe, telur, sambal, sampai lalapan.

Jadi kalau dilihat sekilas, memang kelihatannya seperti nasi dengan lauk pada umumnya. Bedanya, nasi pada Tutug Oncom sudah punya “karakter” sendiri karena bercampur dengan oncom berbumbu.

Dan di situlah letak menariknya.

Dari Nasi dan Oncom, Kok Bisa Jadi Senikmat Itu?

Coba bayangkan nasi putih yang masih hangat.

Kemudian ada oncom yang sudah dibumbui dengan bawang, garam, dan kencur. Oncom tersebut kemudian diolah, ditumbuk, lalu dicampurkan dengan nasi.

Sederhana banget, kan? Tapi justru dari proses itu muncul aroma dan rasa yang khas.

Kata “tutug” sendiri berasal dari bahasa Sunda yang berarti menumbuk. Nama tersebut menggambarkan proses ketika oncom diolah dan kemudian dicampurkan atau ditumbuk bersama nasi.

Indonesia Kaya juga mencatat penggunaan kencur sebagai salah satu ciri bumbu Tutug Oncom. Oncom yang sudah dibumbui kemudian disangrai atau dibakar, ditumbuk, lalu dicampurkan dengan nasi dan disajikan hangat.

Nah, bagian ini yang bikin Tutug Oncom punya rasa yang berbeda. Ada aroma khas oncom, gurih dari bumbu, wangi kencur, lalu semuanya menyatu dengan nasi hangat, belum lagi kalau ditambah sambal.

Apalagi kalau sambalnya pedas dan lauknya lengkap. Nasi TO yang awalnya terlihat sederhana bisa berubah jadi makanan yang rasanya “nggak banyak gaya, tapi nagih.”

Mungkin inilah alasan Tutug Oncom bisa bertahan sampai sekarang. Bukan karena prosesnya rumit, tapi karena kombinasi bahan sederhananya memang punya karakter rasa yang kuat.

Dari Makanan Sederhana, Ada Cerita di Baliknya

Kalau melihat bahan-bahannya, Tutug Oncom memang bukan makanan yang membutuhkan banyak bahan mahal.

Bahkan, berbagai sumber tentang sejarah kuliner Tutug Oncom mengaitkannya dengan kondisi masyarakat yang memanfaatkan bahan pangan sederhana dan mudah didapat.

Salah satu dokumentasi makanan tradisional Jawa Barat dari bidang kebudayaan mencatat bahwa sangu tutug merupakan salah satu bentuk upaya masyarakat Sunda menyiasati kondisi ketika lauk-pauk tidak tersedia. Nasi yang sudah matang kemudian dicampur dengan oncom bakar, cikur atau kencur, dan garam.

Dari sini, kita bisa melihat Tutug Oncom bukan cuma soal rasa, tapi ada kreativitas di dalamnya.

Ketika bahan makanan yang tersedia terbatas, masyarakat tetap bisa menciptakan makanan yang terasa gurih, harum, mengenyangkan, dan tetap punya identitas. Justru dari kesederhanaan seperti itulah sebuah makanan bisa menjadi bagian dari budaya.

Oncom, Si Sederhana yang Jadi Jantung Rasanya

Kalau nasi adalah dasarnya, maka oncom bisa dibilang sebagai jiwa dari Tutug Oncom. Tanpa oncom, tentu nasi tutug oncom nggak akan punya rasa dan aroma yang sama.

Oncom sendiri merupakan salah satu produk pangan fermentasi yang sudah lama dikenal dalam kuliner Jawa Barat. Dalam Tutug Oncom, bahan ini diolah bersama bumbu sebelum kemudian dicampurkan dengan nasi.

Ada juga proses pengolahan yang membuat aromanya semakin keluar, seperti disangrai atau dibakar sebelum ditumbuk.

Hasilnya? Nasi putih yang awalnya netral jadi punya rasa gurih dan aroma khas yang lebih kuat. Makanya, meskipun namanya cuma nasi tutug oncom, rasanya nggak sesederhana namanya.

Dulu Sederhana, Sekarang Naik Kelas

Menariknya, makanan tradisional seperti Tutug Oncom kini tidak hanya ditemukan sebagai makanan rumahan. Nasi TO juga bisa ditemukan di berbagai rumah makan khas Sunda dan menjadi bagian dari pengalaman kuliner ketika orang berkunjung ke Jawa Barat.

Indonesia Kaya mencatat bahwa meskipun identik dengan Tasikmalaya, nasi tutug oncom juga dapat ditemukan di berbagai restoran khas Sunda.

Artinya, makanan ini sudah melewati satu perjalanan yang cukup panjang. Dari makanan sederhana yang dekat dengan keseharian masyarakat, kemudian menjadi hidangan yang turut memperkenalkan cita rasa Sunda kepada orang dari luar daerah.

Kalau dulu mungkin orang melihatnya sebagai nasi dengan oncom, sekarang Tutug Oncom justru punya nilai lebih sebagai bagian dari identitas kuliner.

Tutug Oncom dan Kebiasaan Makan Orang Sunda

Ada satu hal yang membuat makanan seperti Tutug Oncom terasa begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Sunda, yaitu cara menikmatinya.

Nasi hangat dipadukan dengan sambal, lalapan, dan berbagai lauk seperti ayam, tahu, tempe, ikan asin atau telur.

Nggak perlu plating yang ribet, nggak harus pakai bahan yang mahal, justru konsep seperti inilah yang membuat makanan tradisional terasa familiar.

Satu piring bisa punya banyak rasa sekaligus. Gurih dari nasi dan oncom, pedas dari sambal, segar dari lalapan, lalu ditambah lauk sesuai selera. Sederhana, tapi lengkap.

Dan mungkin karena itulah Tutug Oncom nggak terasa seperti makanan yang “ketinggalan zaman”.

Kenapa Makanan Tradisional Seperti Ini Masih Bertahan?

Di tengah munculnya berbagai makanan kekinian, makanan tradisional punya tantangannya sendiri. Tapi Tutug Oncom masih punya satu senjata yang sulit digantikan yaitu rasa yang punya identitas.

Orang mungkin bisa mencoba makanan baru karena penasaran. Tapi makanan seperti Tutug Oncom bisa membuat orang kembali karena sudah punya rasa yang familiar.

Buat generasi muda, makanan tradisional juga nggak harus selalu hadir dengan cara yang kuno. Selama rasanya enak, tampilannya menarik, mudah ditemukan, dan ceritanya bisa dikemas dengan cara yang dekat dengan keseharian, makanan tradisional tetap punya tempat.

Apalagi sekarang pengalaman kuliner nggak hanya bicara soal makan sampai kenyang.

Kementerian Pariwisata menyebut wisata gastronomi juga berkaitan dengan penelusuran sejarah, budaya, dan cerita di balik makanan. Jawa Barat sendiri memiliki kekayaan kuliner yang merepresentasikan identitas budaya dan nilai lokal masyarakat Sunda, termasuk nasi tutug oncom yang dikaitkan dengan pengalaman kuliner di Garut dan Tasikmalaya.

Jadi, ketika seseorang makan Tutug Oncom, yang dicari sebenarnya bukan cuma rasa. Ada cerita daerah, kebiasaan masyarakat, bahan pangan lokal, sampai cara orang Sunda menikmati makanan yang ikut terbawa dalam satu piring.

Tutug Oncom, Sederhana Tapi Punya Cerita

Warginet, mungkin setelah membaca ini kita jadi sadar kalau makanan tradisional nggak selalu harus dicari dari sesuatu yang terlihat rumit. Kadang, cerita kuliner justru ada di makanan yang kelihatannya paling sederhana.

Tutug Oncom adalah salah satunya.

Dari nasi hangat dan oncom, ada cerita tentang kreativitas masyarakat, kebiasaan makan, cita rasa Sunda, sampai perjalanan sebuah makanan sederhana menjadi bagian dari identitas kuliner yang lebih luas.

Baca Juga: Pantai Madasari Pangandaran, Si Cantik yang Disebut Bali-nya Jawa Barat

Jadi, kalau suatu hari Warginet melihat sepiring nasi tutug oncom, jangan cuma lihat nasi dan oncomnya. Coba rasakan juga cerita yang ada di baliknya.

Karena ternyata, makanan sederhana pun bisa punya perjalanan yang panjang sebelum akhirnya menjadi ikon kuliner.

Sumber: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kuliner Indonesia Barat, Indonesia Kaya, Kementerian Pariwisata RI, Indonesia.travel

Diskusi (0)

Bergabunglah dalam Diskusi

Silakan masuk dengan akun Anda untuk menulis komentar dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.

Lanjut Membaca