Memiliki lebih dari satu pekerjaan bukan lagi cerita yang hanya dialami segelintir orang. Jika dulu pekerjaan tambahan identik dengan upaya mengejar impian, kini banyak pekerja melakukannya karena satu penghasilan dinilai tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang terus bertambah.
Baca juga: Riset Deloitte Ungkap Gen Z Indonesia Paling Siap Hadapi Era AI
Dari Mimpi Menjadi Kebutuhan
Melansir dari Diajeng Tirto, bekerja sambil mengejar cita-cita sudah lama menjadi bagian dari perjalanan banyak seniman. Mereka tetap mencari nafkah dari pekerjaan lain karena karya yang ditekuni belum mampu memberikan penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Salah satu contohnya adalah Jonathan Larson. Sebelum musikal Rent dikenal luas di Broadway, ia bekerja sebagai pelayan restoran di New York. Penghasilannya bahkan belum cukup untuk menyewa apartemen seorang diri sehingga selama bertahun-tahun harus berbagi tempat tinggal dengan banyak teman. Ironisnya, kesuksesan karya tersebut baru datang setelah Larson meninggal dunia.
Kisah serupa juga pernah dialami Joanne Rowling. Jauh sebelum dikenal sebagai penulis serial Harry Potter, ia tetap bekerja sebagai sekretaris dan peneliti di Amnesty International cabang London. Pekerjaan itulah yang membantunya bertahan sambil menyelesaikan naskah-naskah yang kemudian mengubah hidupnya.
Kisah mereka memperlihatkan bahwa bekerja dalam lebih dari satu peran bukanlah fenomena baru. Bedanya, jika dahulu pekerjaan tambahan menjadi penopang mimpi, kini alasan banyak orang menjalani dua pekerjaan bergeser menjadi upaya mempertahankan kondisi ekonomi.
Pandemi Mempercepat Perubahan Dunia Kerja
Perubahan tersebut semakin terlihat ketika pandemi Covid-19 mendorong banyak perusahaan menerapkan sistem kerja jarak jauh. Fleksibilitas itu dimanfaatkan sebagian pekerja untuk menerima pekerjaan lain tanpa harus meninggalkan pekerjaan utama.
Jamie, seorang insinyur perangkat lunak di Inggris, menjadi salah satu contohnya. Saat menyadari pekerjaannya tidak menghabiskan seluruh jam kerja setiap hari, ia memutuskan mencari pekerjaan kedua yang juga dapat dikerjakan dari rumah. Hasilnya, pendapatannya meningkat tanpa mengganggu pekerjaannya yang pertama.
Isaac Price kemudian membentuk komunitas overemployed.com Awalnya, komunitas tersebut dibuat sebagai bentuk antisipasi terhadap kemungkinan pemutusan hubungan kerja selama pandemi. Namun, seiring berjalannya waktu, komunitas itu berkembang menjadi ruang berbagi pengalaman bagi pekerja yang menjalani lebih dari satu pekerjaan sekaligus.
Seiring biaya hidup yang terus meningkat, alasan orang memiliki dua pekerjaan pun ikut berubah. Bagi sebagian pekerja, kerja ganda bukan lagi sekadar kesempatan memperoleh penghasilan tambahan, melainkan cara agar kondisi keuangan tetap stabil ketika satu gaji sudah tidak lagi mampu mengimbangi kenaikan kebutuhan hidup.
Baca juga: Gaslighting dalam Dunia Kerja Kerap Muncul lewat Manipulasi Halus
Nah, Warginet, fenomena overemployed menunjukkan bahwa perubahan dunia kerja tidak hanya dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, tetapi juga oleh tekanan ekonomi. Selama biaya hidup terus meningkat, bekerja di lebih dari satu tempat kemungkinan masih menjadi pilihan bagi sebagian orang untuk menjaga keseimbangan keuangan keluarganya.






