Infogarut

Bukan Sekadar Kata, Ini Makna Ungkapan Sunda yang Sering Didengar Sehari-hari

M
Mutiara LestariPublisher
4 November 2026 pukul 17.13 8 menit baca
Bukan Sekadar Kata, Ini Makna Ungkapan Sunda yang Sering Didengar Sehari-hari
Makna Ungkapan Sunda yang Sering Didengar Sehari-hari (Sumber: Nurul Sakinah)

Warginet, pernah mendengar orang tua mengatakan “Cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok” ketika sedang menasihati seseorang agar tidak mudah menyerah? Atau mungkin ungkapan “Someah Hade ka Semah” yang sering dikaitkan dengan keramahan masyarakat Sunda?

Kalimat-kalimat tersebut bukan sekadar rangkaian kata dalam bahasa Sunda. Di baliknya, tersimpan pesan kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Masyarakat Sunda memang memiliki banyak ungkapan tradisional yang digunakan untuk menyampaikan nasihat, mengingatkan seseorang, hingga menggambarkan suatu keadaan. Ada yang terdengar sederhana, tetapi maknanya cukup dalam jika dipahami lebih jauh.

Dalam bahasa Sunda, ungkapan tradisional dikenal melalui istilah babasan dan paribasa. Keduanya menjadi bagian dari kekayaan bahasa dan budaya Sunda yang menarik untuk terus dikenalkan, terutama kepada generasi muda.

Bahkan, dalam buku Ungkapan Tradisional Daerah Jawa Barat yang tersimpan di Repositori Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dijelaskan bahwa ungkapan tradisional Sunda memiliki unsur keindahan bahasa sekaligus menyimpan pesan, nasihat, nilai budaya, dan pandangan hidup.

Nah, daripada hanya sering mendengarnya tanpa mengetahui artinya, yuk, Warginet, kenali beberapa ungkapan Sunda yang memiliki makna menarik dalam kehidupan sehari-hari!

Baca Juga: Cikajang Garut Punya 6.000 Ha Potensi Wisata Air Terjun di Jawa Barat

Mengenal Babasan dan Paribasa dalam Bahasa Sunda

Sebelum membahas berbagai contohnya, ada baiknya kita mengenal dua bentuk ungkapan yang cukup dikenal dalam bahasa Sunda, yaitu babasan dan paribasa.

Keduanya sama-sama menggunakan bahasa kiasan, tetapi memiliki bentuk yang berbeda.

Babasan merupakan ungkapan berupa gabungan kata yang memiliki makna kiasan dan tidak selalu bisa diartikan berdasarkan arti setiap katanya. Sementara itu, paribasa merupakan ungkapan berbentuk kalimat yang susunan katanya relatif tetap dan biasanya berisi perumpamaan, nasihat, atau gambaran kehidupan.

Dengan kata lain, babasan dan paribasa menjadi cara masyarakat Sunda menyampaikan pesan melalui bahasa yang singkat, menarik, dan mudah diingat.

1. Someah Hade ka Semah, Ramah kepada Siapa Saja

Ungkapan pertama yang cukup akrab di telinga masyarakat Jawa Barat adalah Someah Hade ka Semah.

Secara sederhana, ungkapan ini berarti bersikap ramah dan baik kepada tamu atau orang yang datang berkunjung.

Kata someah menggambarkan sikap ramah, sedangkan semah berarti tamu. Jadi, ungkapan ini mengajarkan pentingnya menyambut orang lain dengan sikap yang hangat dan penuh penghargaan.

Contohnya bisa terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Ketika ada tetangga datang ke rumah, kita menyambutnya dengan senyuman, mempersilakan duduk, atau menawarkan minuman. Hal sederhana seperti itu sudah mencerminkan sikap someah.

Nilai tersebut juga masih digunakan dalam kehidupan modern. Bapenda Provinsi Jawa Barat, melalui penerapan budaya kerja BerAKHLAK bernuansa kearifan lokal Sunda pada November 2025, mencantumkan Someah Hade ka Semah sebagai salah satu pedoman untuk membangun keramahan dalam pelayanan kepada masyarakat.

Artinya, keramahan bukan hanya penting dalam hubungan pribadi, tetapi juga dalam lingkungan kerja dan pelayanan publik.

2. Cikaracak Ninggang Batu, Laun-Laun Jadi Legok

Pernah merasa usaha yang dilakukan belum menunjukkan hasil? Ungkapan Sunda yang satu ini bisa menjadi pengingat agar kita tidak mudah menyerah.

Cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok memiliki arti tetesan air yang terus-menerus jatuh mengenai batu lama-kelamaan dapat membuat cekungan. Jika dimaknai dalam kehidupan, ungkapan ini mengajarkan bahwa usaha kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menghasilkan perubahan besar.

Misalnya, seseorang yang sedang belajar bahasa asing mungkin tidak langsung lancar dalam beberapa hari. Namun, jika terus berlatih sedikit demi sedikit, kemampuan tersebut akan berkembang. Begitu pula ketika seseorang sedang membangun usaha, mengejar pendidikan, atau mengembangkan keterampilan. Hasilnya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi bukan berarti usaha yang dilakukan sia-sia.

Ungkapan ini juga sering dikaitkan dengan pentingnya kesabaran dan ketekunan. Sebab, sesuatu yang besar tidak selalu harus dimulai dengan langkah besar pula.

3. Hade Gogog Hade Tagog, Baik dalam Ucapan dan Perilaku

Berikutnya ada ungkapan Hade Gogog Hade Tagog.

Secara umum, ungkapan ini menggambarkan seseorang yang terlihat baik dari ucapan maupun tingkah lakunya.

Kata gogog berkaitan dengan suara atau ucapan, sedangkan tagog menggambarkan sikap atau penampilan. Maknanya mengarah pada pentingnya kesesuaian antara apa yang dikatakan dengan bagaimana seseorang bertindak.

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang bisa saja pandai berbicara dan memberikan banyak nasihat. Namun, perkataannya akan lebih bermakna jika sejalan dengan perilakunya.

Misalnya, seseorang yang selalu mengajak orang lain untuk disiplin sebaiknya juga menunjukkan kedisiplinan dalam kesehariannya. Ungkapan ini menjadi pengingat bahwa sikap baik tidak cukup hanya ditampilkan melalui kata-kata. Perilaku juga perlu mencerminkan apa yang disampaikan.

4. Ulah Unggut Kalinduan, Ulah Gedag Kaanginan

Pernah berada dalam situasi ketika banyak orang memiliki pendapat berbeda hingga membuat kita bingung menentukan sikap?

Orang Sunda memiliki ungkapan Ulah Unggut Kalinduan, Ulah Gedag Kaanginan yang dapat dimaknai sebagai nasihat agar tidak mudah goyah atau terpengaruh oleh keadaan dan pendapat orang lain.

Ungkapan ini menggambarkan pentingnya memiliki pendirian yang kuat. Bukan berarti seseorang tidak boleh menerima masukan, tetapi jangan sampai mudah berubah arah hanya karena tekanan atau pengaruh dari luar.

Contohnya dalam kehidupan anak muda, ketika seseorang memiliki tujuan untuk melanjutkan pendidikan atau mengembangkan usaha, ia perlu tetap berpegang pada tujuan tersebut meskipun menghadapi berbagai komentar dari orang lain.

Namun, memiliki pendirian bukan berarti menutup diri dari kritik. Kita tetap perlu mempertimbangkan saran yang baik, tetapi keputusan sebaiknya diambil dengan pertimbangan yang matang.

5. Sacangreud Pageuh, Sagolek Pangkek, Teguh Memegang Janji

Ungkapan yang satu ini mengandung pesan tentang komitmen dan tanggung jawab.

Sacangreud Pageuh, Sagolek Pangkek menggambarkan sikap teguh dalam memegang janji, kesepakatan, atau keputusan yang telah dibuat.

Dalam kehidupan sehari-hari, nilai ini bisa diterapkan melalui hal sederhana, seperti menepati janji kepada teman, menyelesaikan tanggung jawab dalam pekerjaan, atau menjalankan kesepakatan bersama. Ungkapan tersebut dimaknai sebagai sikap memegang teguh janji dan komitmen terhadap pekerjaan maupun tim.

Pesannya cukup sederhana, tetapi penting: jangan mudah mengingkari sesuatu yang sudah menjadi tanggung jawab kita. Sebab, kepercayaan orang lain tidak hanya dibangun melalui perkataan, tetapi juga melalui tindakan yang konsisten.

6. Ka Cai Jadi Saleuwi, Ka Darat Jadi Salebak

Ungkapan Sunda berikutnya berbicara tentang kebersamaan.

Ka Cai Jadi Saleuwi, Ka Darat Jadi Salebak menggambarkan sikap kompak, bersatu, dan sejalan dalam menghadapi berbagai keadaan.

Maknanya berkaitan dengan pentingnya kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat. Ketika menghadapi suatu persoalan, setiap orang diharapkan dapat saling mendukung dan bekerja sama demi kepentingan bersama.

Contohnya bisa ditemukan dalam kegiatan gotong royong di lingkungan tempat tinggal. Ketika warga bekerja bersama membersihkan jalan, memperbaiki fasilitas umum, atau membantu tetangga yang sedang mengalami kesulitan, kebersamaan menjadi kekuatan utama.

Ungkapan ini juga relevan dalam organisasi, komunitas, hingga lingkungan pekerjaan. Sebuah tujuan akan lebih mudah dicapai ketika setiap orang bersedia bekerja sama dan tidak hanya mementingkan kepentingan pribadi.

7. Kudu Bisa Ngeureut Neundeun, Belajar Mengatur dan Menyisihkan

Selain mengajarkan hubungan sosial, ungkapan Sunda juga menyimpan pesan tentang cara mengelola kehidupan.

Salah satunya adalah Kudu Bisa Ngeureut Neundeun, yang secara umum dapat dimaknai sebagai kemampuan mengatur pengeluaran dan menyisihkan sebagian yang dimiliki untuk kebutuhan mendatang. Pesan ini dekat dengan kebiasaan hidup hemat dan tidak menghabiskan segala sesuatu sekaligus.

Misalnya, ketika mendapatkan uang saku atau penghasilan, seseorang sebaiknya mampu membedakan kebutuhan dan keinginan. Sebagian uang dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, sementara sebagian lainnya disimpan untuk keperluan yang lebih penting.

Ungkapan ini juga bisa diterapkan dalam mengelola waktu, tenaga, dan sumber daya lainnya. Dengan begitu, nasihat dari ungkapan Sunda ini tetap relevan bagi kehidupan sekarang, terutama ketika kebiasaan konsumtif semakin mudah ditemukan.

8. Ulah Kumeok Memeh Dipacok, Jangan Menyerah Sebelum Mencoba

Terakhir, ada ungkapan Ulah Kumeok Memeh Dipacok yang memiliki pesan agar seseorang tidak mudah menyerah sebelum benar-benar mencoba menghadapi tantangan.

Ungkapan ini mengingatkan kita untuk tidak langsung merasa kalah atau takut sebelum melakukan usaha. Dalam kehidupan sehari-hari, contohnya bisa terlihat ketika seseorang ingin mengikuti perlombaan, mencoba pekerjaan baru, membangun bisnis, atau mempelajari keterampilan yang belum pernah dikuasai.

Terkadang, rasa takut gagal membuat seseorang memilih mundur bahkan sebelum memulai. Padahal, kesempatan untuk berhasil baru bisa terbuka ketika kita berani mencoba.

Bukan berarti setiap usaha pasti berhasil, tetapi setidaknya kita memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk belajar dan berkembang. Pesan yang bisa diambil adalah jangan terburu-buru menganggap sesuatu mustahil sebelum berusaha.

Mengapa Ungkapan Sunda Masih Relevan untuk Generasi Sekarang?

Warginet, meskipun sebagian ungkapan Sunda berasal dari tradisi yang diwariskan sejak lama, pesan di dalamnya masih bisa diterapkan dalam kehidupan modern.

Coba perhatikan beberapa contoh yang sudah dibahas. Cikaracak Ninggang Batu mengingatkan kita untuk konsisten dalam berusaha. Someah Hade ka Semah mengajarkan keramahan, sementara Sacangreud Pageuh, Sagolek Pangkek menekankan pentingnya menepati komitmen.

Nilai-nilai tersebut tidak terbatas pada kehidupan masyarakat zaman dahulu. Dalam lingkungan pendidikan, pekerjaan, pertemanan, bahkan media sosial, pesan yang terkandung di dalam ungkapan tersebut masih bisa digunakan sebagai pengingat.

Ungkapan Sunda tidak hanya diperkenalkan sebagai warisan bahasa, tetapi juga diterapkan untuk membangun perilaku kerja yang ramah, bertanggung jawab, dan kolaboratif.

Hal ini menunjukkan bahwa bahasa daerah dapat terus berkembang dan memiliki tempat dalam kehidupan masa kini selama maknanya dipahami serta diterapkan.

Menjaga Ungkapan Sunda agar Tidak Hilang Ditelan Zaman

Bahasa daerah merupakan bagian dari identitas budaya yang perlu terus dikenalkan kepada generasi berikutnya. Salah satu cara sederhananya adalah dengan membiasakan penggunaan bahasa Sunda dalam percakapan sehari-hari, termasuk mengenalkan ungkapan tradisional beserta maknanya.

Orang tua dapat mengenalkan babasan dan paribasa melalui nasihat sederhana di rumah. Sementara itu, generasi muda bisa ikut melestarikannya melalui konten digital, cerita budaya, kegiatan komunitas, maupun percakapan sehari-hari.

Tidak harus selalu menggunakan ungkapan Sunda dalam setiap kesempatan. Mengenal arti dan memahami pesan di baliknya juga sudah menjadi langkah awal untuk menjaga kekayaan bahasa daerah. Sebab, ketika sebuah ungkapan hanya dihafalkan tanpa dipahami, pesan yang diwariskan di dalamnya bisa perlahan terlupakan.

Ungkapan Sunda, Kalimat Sederhana dengan Makna yang Mendalam

Dari berbagai contoh di atas, kita bisa melihat bahwa ungkapan Sunda bukan sekadar rangkaian kata yang terdengar unik. Ada nasihat tentang kerja keras, kebersamaan, keramahan, tanggung jawab, hingga cara menjalani kehidupan dengan lebih bijaksana.

Menariknya, sebagian ungkapan tersebut masih sering dijadikan pengingat dalam keluarga dan lingkungan masyarakat. Bahkan, beberapa nilai di dalamnya juga mulai diterapkan dalam lingkungan pendidikan, pekerjaan, dan pelayanan publik.

Baca Juga: Garut Jadi Daerah dengan Populasi Domba Terbanyak Kedua di Jawa Barat

Jadi, Warginet, kalau suatu saat mendengar orang tua atau orang di sekitar mengucapkan salah satu ungkapan Sunda tadi, jangan hanya menganggapnya sebagai kalimat biasa.

Bisa jadi, ada nasihat sederhana yang sedang disampaikan melalui bahasa yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Karena pada akhirnya, mengenal bahasa Sunda bukan hanya tentang mengetahui arti kata, tetapi juga memahami nilai dan kearifan lokal yang tumbuh bersama masyarakatnya.

Penulis: Mutiara Lestari

Sumber: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Pendapatan Daerah Provinsi Jawa Barat.

Diskusi (0)

Bergabunglah dalam Diskusi

Silakan masuk dengan akun Anda untuk menulis komentar dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.

Lanjut Membaca