Infogarut

314 Ribu Kasus ISPA, Dampak Kebakaran Hutan Juga Ancam Satwa Liar

M
Muhamad Renaldi SPublisher
24 Oktober 2026 pukul 17.56 3 menit baca
314 Ribu Kasus ISPA, Dampak Kebakaran Hutan Juga Ancam Satwa Liar
314 Ribu Kasus ISPA, Dampak Kebakaran Hutan Juga Ancam Satwa Liar, Source: KOMPAS.COM/AKHMAD DHANI

Penanganan bencana akibat dampak kebakaran hutan menjadi perhatian publik setelah memicu lonjakan ratusan ribu kasus penyakit pernapasan di kalangan warga setempat. Selain berdampak buruk pada kesehatan manusia, kobaran api yang kian marak tersebut juga mengancam keberlangsungan hidup berbagai jenis satwa liar di alam bebas.

Baca juga: Puluhan Satwa Kena Asap di Kalimantan, Habitat Orangutan Jadi Taruhan

Dampak Kebakaran Hutan Bagi Satwa

Berdasarkan laporan National Geographic Indonesia, Kemenkes mencatat 314.124 kasus ISPA di wilayah terdampak pada 20 Agustus hingga 20 Oktober 2026. Dari total angka tersebut, sebanyak 70.890 kasus dialami anak usia 0-5 tahun dengan catatan kasus tertinggi berada di Sumsel dan Kalsel.

Ancaman serupa menimpa keberadaan fauna liar yang melukai banyak hewan tanpa kepastian jumlah pasti korban mati di dalam kawasan hutan. Berbagai spesies hewan liar berusaha menghindari paparan suhu panas dengan cara terbang, berlari, atau menggali ke dalam tanah.

"Satwa liar memiliki hubungan yang sudah lama dengan api karena api adalah bagian alami dari lanskap," ungkap ahli ekologi ekosistem Ohio State University, Mazeika Sullivan.

Beberapa amfibi berlindung di dalam batang kayu, di bawah bebatuan, serta di area aliran sungai maupun danau demi menyelamatkan diri. Namun, tingkat intensitas bencana saat ini dinilai terlalu tinggi sehingga spesies yang terbiasa beradaptasi tetap kesulitan untuk bertahan hidup di alam.

Fenomena perubahan iklim yang meningkatkan suhu udara dan memperburuk kondisi kekeringan membuat lanskap menjadi kian rentan terbakar. Peningkatan frekuensi bencana api tersebut dikhawatirkan mengancam populasi satwa yang sangat membutuhkan habitat alami yang seimbang.

Perilaku Penyelamatan Dan Predator

Petugas pemadam kebakaran hutan Australia, Gabriel d'Eustachio, pada 2014 menyaksikan pergerakan massal invertebrata kecil saat melarikan diri dari kobaran api. Fenomena pergerakan massal serangga tersebut langsung dimanfaatkan oleh predator seperti beruang, rakun, serta burung pemangsa untuk memburu makhluk yang mencoba lolos.

"Anda akan dibanjiri oleh gelombang serangga merayap yang berjalan di depan api," jelas Gabriel d'Eustachio, selaku petugas pemadam kebakaran hutan Australia.

Pergerakan panik berbagai spesies saat berusaha lolos dari kepungan api menciptakan dinamika bertahan hidup yang sangat ketat di lapangan. Kondisi ekstrem tersebut memperlihatkan bagaimana setiap kelompok fauna memiliki respons yang berbeda saat menghadapi bencana alam skala besar.

"Dalam situasi jangka pendek tersebut, seperti ketika makhluk melarikan diri dari kobaran api, selalu ada pemenang dan pecundang," tutur Mazeika Sullivan.

Hewan muda serta berukuran kecil menjadi kelompok paling berisiko karena tidak mampu berlari cepat saat bencana terjadi. Naluri alami koala yang memanjat pohon justru menjebak mereka di dalam kepungan asap pekat serta terpaan gelombang panas ekstrem.

Panas ekstrem dari kobaran api bahkan sanggup membunuh berbagai organisme yang sudah bersembunyi jauh di dalam lapisan tanah. Kondisi krisis tersebut menyebabkan gangguan besar pada rantai makanan serta populasi fauna liar di kawasan terdampak.

Baca juga: Isu Konsesi Sawit dan Tambang, Kebakaran Hutan Kalimantan Jadi Sorotan

Nah Warginet, penanganan ancaman dampak kebakaran hutan memerlukan perhatian bersama demi melindungi ekosistem serta keanekaragaman hayati di alam. Peningkatan kepedulian terhadap pelestarian lingkungan menjadi kunci penting agar habitat satwa liar dapat terus terjaga secara berkelanjutan demi masa depan.

Diskusi (0)

Bergabunglah dalam Diskusi

Silakan masuk dengan akun Anda untuk menulis komentar dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.

Lanjut Membaca