Sebuah eksperimen medis di Irlandia berhasil mengungkap temuan sains terbaru mengenai khasiat minuman kopi tanpa kafein yang ternyata mampu meningkatkan fungsi kognitif otak manusia secara signifikan.
Baca juga: Garut Catat Produksi Kopi Robusta 469 Ton, Tembus Lima Besar di Jabar
Ujian Memori Kognitif Alami Kenaikan
Mengutip laporan jurnal Nature Communications, tim ahli saraf memantau 31 responden penikmat racikan instan di Universitas College Cork. Mereka wajib menghentikan konsumsi 3 hingga 5 cangkir harian secara total selama 2 minggu penuh.
Kelompok partisipan tersebut kemudian dibagi dua untuk mengonsumsi varian dekafeinasi maupun minuman berkafein murni tanpa mengetahui jenis cairannya. Asupan 4 cangkir setiap harinya selama 3 minggu ternyata memicu transformasi komposisi mikrobioma saluran pencernaan secara drastis.
Responden pengonsumsi varian dekafeinasi sukses mencetak skor perbaikan luar biasa pada 2 tes memori mengenai kosakata dan tebakan lokasi. Kelompok ini meminimalkan persentase kesalahan jauh melampaui capaian para responden peminum racikan berkafein tingkat tinggi.
Kelompok berkafein murni justru gagal meraih perbaikan fungsi kognitif serupa, melainkan sekadar merasakan penurunan tingkat kecemasan diri. Sementara itu, seluruh peserta penelitian secara merata melaporkan penurunan rasio impulsivitas emosional setelah menjalani terapi cairan tersebut.
“Kami tertarik untuk melihat apakah kopi, melalui polifenolnya, dapat memengaruhi mikrobioma?” tutur John Cryan dalam sebuah video.
Zat Polifenol Ubah Ekosistem Lambung
Pakar biologi menegaskan bahwa cairan kompleks ini menyebarkan zat polifenol yang bertindak sebagai pasokan pakan utama bagi bakteri pencernaan. Kehadiran ribuan unsur nabati tersebut sukses menggantikan fungsi ketiadaan probiotik murni di dalam kandungan seduhan biji kopi.
Senyawa stimulan kafein dipercaya hanya menyumbang porsi kecil dari seluruh rentetan khasiat biologis bagi kebugaran fisik pasien. Ekstrak cair ini sejatinya memuat lebih dari 1.000 zat aktif perangsang aktivitas mikroba penentu stabilitas emosional manusia.
“Ada hubungan yang jelas antara beberapa efek kognitif, efek terhadap sistem kekebalan tubuh, efek terhadap stres, dan mikrobioma mereka,” terang John Cryan.
Konsep psikobiotik sebelumnya telah dirumuskan secara terperinci oleh ahli neurobiologi bernama John Cryan bersama rekannya Ted Dinan pada 2013. Teori akademis ini mendeskripsikan rumitnya jalinan komunikasi dua arah antara ekosistem lambung dan pusat saraf memori manusia.
Penelitian lebih mendalam masih menjadi prioritas utama guna menguraikan seluruh tahapan perubahan metabolit pada organ vital. Fakta sains terbaru ini membuka jalan bagi penetapan seduhan dekafeinasi sebagai anjuran pola makan sehat keseharian.
Baca juga: Kapan Waktu Terbaik Minum Kopi? Studi Terbaru Berikan Jawabannya
Bagi Warginet, penemuan medis tersebut mempertegas besarnya manfaat racikan dekafeinasi untuk merawat kelancaran sirkulasi bakteri usus keseharian. Rutinitas mengonsumsi seduhan cair tanpa stimulan selayaknya mulai diadopsi demi menjaga kapasitas mengingat otak pada rentang usia lanjut.
Sumber: National Geographic Indonesia






