Infogarut

Menghidupkan Budaya Pencak Silat di Kota Intan Lewat Tangan Generasi Muda

I
InfogarutPublisher
17 Agustus 2026 pukul 13.21 7 menit baca
Menghidupkan Budaya Pencak Silat di Kota Intan Lewat Tangan Generasi Muda
Menghidupkan Budaya Pencak Silat di Kota Intan Lewat Tangan Generasi Muda (Ilustrasi: Generatd by AI)

Budaya bukan hanya sebuah benda mati yang dipamerkan di museum atau hanya ditampilkam saat penyambutan bagi pejabat negara. Budaya merupakan hasil cipta, rasa, dan karsa manusia yang membentuk identitas, sekaligus menjadi pedoman hidup suatu masyarakat. Hal ini sejalan dengan pendapat dari Syaiful (2013) yang menyatakan bahwa budaya adalah suatu konsep yang berhubungan dengan cara manusia hidup, belajar, berpikir, merasa, dan mempercayai sesuatu yang menggambarkan identitas dan citra suatu masyarakat.

Koentjaraningrat, seorang guru besar antropologi Indonesia menyatakan bahwa kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta buddhayah dengan jamak buddhi yang berarti budi atau akal, sehingga budaya berkaitan erat dengan hasil budi dan akal (Koentjaraningrat, 1993).

Di tanah sunda khususnya di Kabupaten Garut, budaya telah menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Ia merupakan nafas yang menghidupi keseharian mereka dalam bermasyarakat. Dari sekian banyaknya warisan yang ada, Pencak Silat menjadi salah satu tiang penyangga utama kebudayaan masyarakat di Garut. Bagi masyarakat Garut, Pencak silat bukan hanya beladiri, melainkan juga simbol kehormatan, karakter, dan identitas daerah.

PB IPSI bersama BAKIN menjelaskan bahwa Pencak silat meruapakan hasil budaya manusia Indonesia untuk membela, mempertahankan eksitensi (kemandiriannya), dan integrasinya, (menunggal) terhadap lingkungan hidup atau alam sekitar untuk mencapai keselarasan hidup guna meningkatkan iman dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa (Mulyana, 2013). Oleh karena itu, pencak silat memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding hanya sekedar beladiri yang mengandalkan kemampuan fisik untuk bertarung. 

Sejak UNESCO menetapkan Pencak Silat sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia pada 2019, posisi Garut sebagai lumbung pendekar-pendekar pencak silat menjadi semakin krusial. Garut bukan sekadar wilayah administratif, melainkan salah satu rahim utama yang melahirkan aliran-aliran besar dan pendekar-pendekar tangguh yang disegani hingga ke mancanegara.

Sejarah panjang pencak silat di Garut menunjukkan bahwa budaya ini telah tumbuh dan berkembang bersama kehdiupan masyarakatnya. Salah satu perguruan yang paling berpengaruh adalah Himpunan Pencak Silat Panglipur yang didirikan Abah Aleh pada 1909 dan kemudian dikembangkan oleh Hj. Enni Rukmini Sekarningrat sejak 1986. Perguruan ini tidak hanya menjaga keaslian tradisi pencak silat, tetapi juga membuka diri terhadap perkembangan zaman hingga berhasil mempromosikannya ke tingkat mancangera (Muslim, 2013).

Hingga sekarang, pencak silat masih sering hadir dalam berbagai kegiatan masyarakat di Garut, seperti hajatan, pernikahan, khitanan, sampai kegiatan yang diadakan oleh pemerintah. Kehadirannya bukan hanya sekdar hiburan saja, melainkan juga sebagai penghormatan terhadap budaya Sunda. Dalam setiap gerakannya tersimpan berbagai nilai kesopanan, penghormatan, disiplin, dan keberanian yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Karena itu, pencak silat tidak hanya hadir di padepokan saja, melainkan juga tumbuh dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Eksistensi pencak silat di Garut semakin dikenal melalui sosok Cecep Arif Rahman, pesilat asal Garut yang berhasil membawa seni bela diri Kasundan ke panggung internasional. Ia tampil dalam berbagai film seperti The Raid 2 bersama aktor Iko Uwais, dan film John Wick Chapter 3: Parabellum bersama  Keanu Reeves. Kehadirannya menjadi bukti bahwa budaya lokal Garut mampu bersaing di tingkat global tanpa kehilangan identitas budayanya. Melalui berbagai kegiatan, seperti  Kasundan International Silat Camp (KISC), Cecep Arif Rahman juga menunjukkan bahwa pencak silat dapat dikelola secara profesional dan menjadi daya tarik wisata budaya sekaligus membuka peluang ekonomi tanpa kehilangan nilai, tradisi, dan budaya lokal. 

Partisipasi peserta yang datang dari berbagai negara juga kembali memperlihatkan bahwa pencak silat memiliki daya tarik global yang mampu memperkuat citra Garut sebagai kota yang berbudaya kuat, dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar. Sosok Cecep Arif Rahman pun menjadi inspirasi bagi generasi muda, bahwa pencak silat bukan budaya kuno yang kehilangan eksistensinya, melainkan warisan budaya lokal yang mampu mengangkat nama daerah hingga ke mancanegara.

Lebih dari sekedar beladiri, pencak silat di Garut bukan hanya sebuah teknik untuk menjatuhkan lawan atau kekuatan fisik semata. Ia adalah sebuah sistem yang kompleks, mencakup aspek mental-spiritual, seni, bela diri, dan olahraga. Bagi masyarakat Garut, silat adalah cerminan dari karakter Sunda yang nyantri, nyunda, nyakola. Lewat setiap gerakannya yang terkandung nilai kesopanan, keberanian, disiplin, penghormatan terhadap lawan, dan pengendalian diri.

Selain itu, pencak silat juga menyimpan filosofi luhur yang sangat relevan dengan kondisi generasi muda saat ini. Dalam tradisi pencak silat, tangan yang terbuka melambangkan bahwa silat bukan alat untuk menyerang atau menyakiti, melainkan sarana membela diri dan menjaga kehormatan (Usman, 2025). Filosofi tersebut menjadi penting di era modern hari ini, ketika banyak generasi muda justru lebih mudah terpancing konflik, ujaran kebencian, dan kekerasan.

Pentingnya pelestarian pencak silat ini juga disampaikan oleh Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga (Wamenpora), Taufik Hidayat, yang mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama melestarikan pencak silat sebagai warisan budaya bangsa sekaligus memanfaatkannya untuk menggerakkan potensi ekonomi lokal, yang disampaikan dalam pembukaan ajang Kasundan International Silat Camp (KISC) 2025 di GOR Bela Diri, SOR RAA Adiwijaya, Garut (Farhan, 2025). Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus selalu dipahami sebagai kegiatan yang konservatif, melainkan dapat juga menjadi inovasi pembangunan daerah. 

Namun ditengah perkembangan zaman, realitas di lapangan menunjukkan fakta bahwa sebagian generasi muda mulai menjauh dari budaya lokal. Budaya populer luar negeri lebih mudah menarik perhatian dibandingkan latihan silat di padepokan. Banyak anak muda mengenal tarian modern atau tren media sosial yang bermunculan di aplikasi tiktok, tetapi tidak mengenal jurus dasar pencak silat daerahnya sendiri. Jika kondisi ini terus terjadi, pencak silat hanya akan menjadi simbol seremonial tanpa regenerasi yang kuat.

Dalam hal ini peran generasi muda sangat krusial dalam menjaga keberlangsungan budaya pencak silat. Bahwa dalam pelestariannya, tidak cukup hanya dengan turut serta latihan di padepokan, tetapi juga harus mampu membawa pencak silat masuk ke ruang-ruang modern. Generasi muda perlu hadir sebagai penerus yang mampu melakukan reaktualialisasi budaya, yang tidak lagi menjadi penonton, melainkan harus mampu menjadi kolaborator. 

Generasi muda yang mahir teknologi dapat membantu pelestarian budaya pencak silat ini lewat berbagai konten digital mengenai sejarah perguruan silat, dokumentasi pengenalan dan latihan jurus tradisional, festival budaya, hingga promosi wisata berbasis pencak silat, yang dapat menjadi strategi baru pelestarian budaya. Selain itu, Garut memiliki potensi besar dalam pariwisata budaya melalui Silat Camp. Setiap padepokan dapat dikembanggkan menjadi pusat pelatihan yang terintegrasi dengan penginapan dan wisata lokal. Langkah tersebut, tidak hanya membantu dalam melestarikan budaya, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.

Pencak silat bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan identitas budaya masyarakat Garut yang memiliki nilai sejarah, filosofi, prestasi, dan potensi ekonomi kreatif. Pencak silat adalah identitas yang harus terus hidup, bukan sekedar ada. Ia merupakan warisan leluhur yang bukan hanya menitipkan pesan mengenai beladiri lewat kekuatan dari tangan yang memukul, tetapi juga pada hati yang merangkul. 

Warisan budaya ini harus terus hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman. Generasi muda Garut memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga sekaligus mengembangkan pencak silat agar tetap relevan dengan kehidupan modern. Ketika budaya mampu dipadukan dengan teknologi, pariwisata, dan ekonomi kreatif, maka pencak silat tidak hanya bertahan sebagai peninggalan leluhur, tetapi juga menjadi kekuatan masa depan Garut itu sendiri.

Melestarikan pencak silat berarti menjaga identitas daerah. Karena suatu daerah akan kehilangan identitasnya, ketika generasinya tidak lagi mengenal budayanya sendiri. Oleh karena itu, sudah saatnya pencak silat tidak hanya dipandang sebagai seni bela diri, tetapi juga sebagai napas kebudayaan Garut yang harus terus hidup dari generasi ke generasi.

Penulis:  Amalia Fahrunnisa

Penyunting: Fadillah Nurkalam dan Reni Mardiani

====

50 Tulisan Pilihan dari Penulis Terbaik Infogarut Write Fest 2.0

Perjalanan, cerita, keresahan, hingga sudut pandang tentang Garut terangkum dalam 50 tulisan pilihan dari para penulis terbaik Infogarut Write Fest 2.0.

Setiap tulisan membawa cerita dan perspektif yang berbeda, menjadi bagian dari rekaman kecil tentang Garut dan segala dinamikanya.

📖 Ingin membaca cerita selengkapnya?

Yuk, temukan 50 tulisan pilihan tersebut dalam e-book Infogarut Write Fest 2.0 melalui link berikut:

🔗 [LINK E-BOOK]

Selamat membaca dan menikmati cerita dari para penulis Garut!

Diskusi (0)

Bergabunglah dalam Diskusi

Silakan masuk dengan akun Anda untuk menulis komentar dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.

Lanjut Membaca