Laporan riset organisasi lingkungan Geopix pada Jumat, 16 Oktober 2026, memaparkan dampak karhutla Kalimantan yang melalap kawasan hutan pulau tersebut sepanjang tahun ini. Peristiwa tersebut memaksa berbagai satwa liar mengungsi dari habitat alami mereka akibat kerusakan sumber pakan yang sangat parah.
Baca juga: Angka Deforestasi di Indonesia Naik 66 Persen, Capai 433.751 Hektare
Ancaman Habitat Orangutan Kalimantan
Melansir dari publikasi National Geographic Indonesia, organisasi Geopix mencatat 76,89 persen titik panas berada di kawasan habitat orangutan Kalimantan. Kebakaran hebat menerpa Taman Nasional (TN) Tanjung Puting seluas 136.969 hektare serta Taman Nasional (TN) Sebangau seluas 37.685 hektare.
"Situasinya semakin parah ketika kebakaran mengancam habitat orangutan dalam skala sebesar ini," kata Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, saat jumpa pers publikasi laporan "Act Now! Borneo Lautan Api", Jumat (16/10/2026).
Penyelamatan dilakukan oleh tim Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Petugas mengevakuasi induk Yuni, Pura, Mama Man, Mama Penja, hingga Mama Lifa dari lokasi kebakaran hutan.
Tim BKSDA Wilayah II Pangkalan Bun turut menelusuri temuan dua jasad orangutan yang mengapung di aliran Sungai Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Aliran sungai tersebut merupakan kawasan penyangga vital bagi perlindungan ekosistem Taman Nasional Tanjung Puting.
Dampak Karhutla Kalimantan Bagi Satwa
Akibat paparan asap tebal tersebut, sebanyak 47 individu orangutan di pusat rehabilitasi terinfeksi saluran pernapasan pekat. Satwa liar lain seperti trenggiling, ular piton, king cobra, bekantan, anak monyet, elang bondol, dan kucing hutan turut terdampak.
"Asap kebakaran masuk ke kawasan rehabilitasi meskipun api belum mencapai area tersebut," jelas Executive Director Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation, Jamartin Sihite, kepada RRI.
Berbagai hewan liar tersebut dilaporkan masuk ke area permukiman warga setempat atau ditemukan mati lemas akibat paparan asap pekat. Penanganan darurat sangat dibutuhkan demi menyelamatkan keanekaragaman hayati lindung yang tersisa di wilayah kawasan hutan.
"Kita tidak bisa menunggu sampai populasi orangutan kehilangan kemampuan untuk pulih," ujar Annisa Rahmawati.
"Ingat, jangan bermain api, sebab there is no business on a dead planet," tegasnya.
Baca juga: Dampak Asap Karhutla dan Panas Ekstrem, Lebih dari Sekadar Cuaca Buruk
Nah Warginet, penanganan bencana lingkungan ini memerlukan langkah nyata demi menekan dampak karhutla Kalimantan bagi kelestarian satwa liar. Perlindungan kawasan hutan dan tindakan tanggap darurat menjadi kunci utama dalam menyelamatkan keanekaragaman hayati Indonesia.






