Tingginya rekam jejak kerusakan ekosistem alam pada bentang hutan Kalimantan nyatanya telah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Praktik penggundulan lahan tersebut sengaja dilakukan demi memenuhi besarnya target perluasan industri perkebunan kelapa sawit di pasar global.
Baca juga: Persentase Hutan di Indonesia Kalah dari 8 Negara Asia, Brunei Teratas
Awal Mula Laju Deforestasi
Berdasarkan publikasi situs Earth Observatory, alam rimbun ini dulunya memiliki komoditas kayu bernilai tinggi sebelum maraknya penebangan liar. Pembukaan lahan gencar dilakukan untuk memperluas area kelapa sawit sebagai respons terhadap lonjakan permintaan bahan bakar nabati (biofuel).
Besarnya keuntungan bisnis kelapa sawit terus memicu pembukaan lahan baru hingga merambah ke lereng pegunungan. Catatan sensor Enhanced Thematic Mapper Plus (ETM+) satelit Landsat 7 per 16 Juli 2000 membuktikan hilangnya pepohonan tersebut.

Akar Dampak Erosi Lingkungan
Praktik penebangan memicu awal mula masalah erosi karena letak daratan tropis selalu berhadapan langsung dengan siklus monsun. Hilangnya pohon besar membuat permukaan bumi mengering hingga menyisakan debu berpasir yang mudah terkelupas dari lapisan daratan di bawahnya.
Saat hujan lebat mengguyur, sedimen tersebut langsung terbawa arus deras menuju Laut Jawa hingga berhasil mengubah warna sungai. Tumpahan endapan tanah merugikan pihak perkebunan karena mengikis nutrisi penting sekaligus menyisakan lahan berpasir tanpa unsur hara.
Baca juga: Waspada Efek Karhutla, Data Satelit BMKG Catat Sebaran Asap Mulai Landa Jawa Barat
Jadi Warginet, potret sejarah krisis kelestarian yang melanda ekosistem hutan Kalimantan ini semestinya makin menyadarkan masyarakat luas tentang pentingnya menjaga alam. Pengelolaan lahan pertanian berkelanjutan wajib terus diawasi ketat agar musibah erosi daratan dapat dihindari.






