Sebelum pendingin ruangan atau air conditioner (AC) digunakan secara luas, masyarakat di berbagai belahan dunia telah memiliki beragam cara untuk menghadapi cuaca panas. Melansir CNBC Indonesia, sejumlah kebiasaan tersebut bahkan terbukti secara ilmiah mampu membantu tubuh tetap sejuk sekaligus mengurangi dampak dari suhu ekstrem.
Baca juga: Fenomena Bediding Saat Musim Kemarau, Kenali Ciri dan Dampaknya
Dikutip dari The New York Times, Sabtu, (4/7/2026), berikut lima cara tradisional yang telah lama diterapkan masyarakat untuk membantu menghadapi cuaca panas.
Menyiram Jalan
Di Jepang, masyarakat mengenal tradisi uchimizu, yakni menyiram jalan atau trotoar di depan rumah maupun toko menggunakan air saat musim panas. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Water pada 2018 menunjukkan bahwa kebiasaan tersebut mampu menurunkan suhu udara di dekat permukaan tanah hingga sekitar 5,5 derajat Celsius melalui proses pendinginan akibat penguapan (evaporative cooling).
Memasang Tirai Akar Wangi
Sebelum AC tersedia, masyarakat di India memanfaatkan tirai dari akar tanaman vetiver atau akar wangi yang dibasahi, kemudian dipasang di pintu atau jendela yang menghadap arah angin. Saat udara panas melewati tirai tersebut, sebagian panas terserap melalui proses penguapan sehingga udara yang masuk terasa lebih sejuk. Bahkan, konsep ini kini menginspirasi sistem pendingin hemat energi di sejumlah pusat data.
Memakai Pakaian Gelap
Sekilas, mengenakan pakaian longgar berwarna gelap saat cuaca panas terdengar tidak lazim, tetapi cara ini telah dilakukan masyarakat di Timur Tengah dan Afrika Utara selama berabad-abad. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature pada 1980 menemukan bahwa sirkulasi udara di dalam pakaian membantu membuang panas sebelum mencapai kulit, sehingga tubuh tetap terasa lebih nyaman.
Makan Pedas dan Minum Teh
Cabai mengandung senyawa capsaicin yang merangsang reseptor panas sehingga tubuh memproduksi lebih banyak keringat untuk mempercepat proses pendinginan melalui penguapan. Sebaliknya, teh tanpa gula membantu menjaga hidrasi sekaligus melancarkan aliran darah agar panas tubuh lebih mudah dilepaskan, sedangkan minuman bersoda tinggi gula dan minuman beralkohol kurang dianjurkan saat cuaca panas.
Tidur Siang
Tidur siang atau siesta telah lama menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat di sejumlah negara Eropa Selatan, seperti Yunani, Spanyol, dan Italia. Beristirahat saat suhu udara sedang mencapai puncaknya membantu mengurangi aktivitas fisik sehingga risiko kelelahan akibat panas (heat exhaustion) dapat diminimalkan, bahkan sejumlah ahli kembali mendorong penerapan kebiasaan tersebut ketika musim panas semakin ekstrem.
Baca juga: Kenapa Puncak Gunung Tetap Bersalju Padahal Letaknya Dekat Matahari?
Jadi Warginet, menghadapi cuaca panas tidak selalu harus bergantung pada AC. Beragam cara tradisional yang telah digunakan selama bertahun-tahun, bahkan terbukti secara ilmiah, masih relevan diterapkan hingga saat ini untuk membantu menjaga tubuh tetap nyaman ketika suhu udara meningkat.






