Kenapa Ya Orang Sunda Nggak Bisa Lepas dari “Aci”? Ternyata Ini Sejarahnya!
Cilok, cireng, cimol, hingga cipuk. Masyarakat Sunda pasti sudah tidak asing lagi dengan deretan jajanan ini. Tapi pernahkah Wargi bertanya-tanya, kenapa sih lidah orang Sunda seolah punya "ikatan batin" dengan makanan berbahan dasar tepung tapioka atau yang akrab kita sebut aci ini?
Ternyata, kegemaran ini bukan sekadar soal rasa, melainkan ada jejak sejarah panjang yang bermula dari zaman kolonial.
Baca Juga: 5 Camilan Khas Sunda yang Enak dan Mudah Dibuat di Rumah
Berawal dari Singkong dan Kebijakan Kolonial
Sejarah mencatat bahwa tanaman singkong pertama kali dibawa oleh bangsa Portugis ke Maluku pada abad ke-16. Namun, baru pada tahun 1810 pemerintah Hindia-Belanda mengomersilkan tanaman ini.
Memasuki abad ke-19, pemerintah kolonial mulai mendorong budidaya singkong secara besar-besaran di Pulau Jawa, termasuk wilayah Jawa Barat seperti Bandung, Garut, dan Bogor. Saat itu, singkong diposisikan sebagai tanaman pengganti pangan utama dan beras.
Lahirnya Pabrik Tapioka di Tanah Pasundan
Kelimpahan stok singkong di awal abad ke-20 menarik minat pengusaha Tionghoa untuk mendirikan pabrik pengolahan di beberapa titik di Jawa Barat. Dari pabrik-pabrik inilah, tepung tapioka atau aci mulai diproduksi secara massal.
Kemudahan akses mendapatkan aci menarik kreativitas masyarakat Sunda. Tak hanya jadi bahan pengganti nasi, singkong dan aci mulai diolah menjadi berbagai kudapan inovatif seperti combro (oncom di jero), misro (amis dijero), hingga peuyeum yang hingga kini jadi oleh-oleh khas Garut.
Baca Juga: Mengenal Camilan Khas Sunda: Ada Bacang, Gulampo hingga Rengginang
Kreativitas Tanpa Batas: Akronim "Ci" yang Mendunia
Ciri khas paling unik dari kuliner Sunda adalah penamaan makanan berdasarkan cara pengolahan atau penyajiannya yang disingkat dengan awalan "Ci". Di tangan kreatif orang Sunda, aci disulap menjadi:
-
Cireng: Aci digoreng
-
Cilok: Aci dicolok
-
Cimol: Aci digemol (dibulat-bulat)
-
Cilung: Aci digulung
Kini, jajanan aci telah bertransformasi mengikuti zaman. Tak lagi sekadar polos, aneka topping seperti bumbu pedas, saus kacang, balado, hingga isian keju dan ayam suwir membuatnya tetap relevan dan dicintai lintas generasi.
Aci: Simbol Ketahanan dan Kreativitas
Obsesi masyarakat Sunda terhadap aci membuktikan bahwa dari keterbatasan pangan di masa lalu, lahir sebuah budaya kuliner yang kaya dan ikonik. Bagi masyarakat Sunda, utamanya wargi Garut, aci bukan sekadar jajanan murah, tapi adalah bagian dari identitas kuliner yang tak lekang oleh waktu.
Kamu paling suka jajan aci yang mana nih? Cireng bumbu atau cilok goang?
Source: GNFI dan magdalene
0 Komentar
Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.