Beranda Kenali 15 Suara Hewan (Sora Sasatoan) dalam Bahasa Sunda yang Unik dan Lucu
ADVERTISEMENT

Kenali 15 Suara Hewan (Sora Sasatoan) dalam Bahasa Sunda yang Unik dan Lucu

20 jam yang lalu - waktu baca 3 menit
Kucing | Biamca Ackerman/Unsplash

Di tengah derasnya arus globalisasi, banyak anak muda, terutama Generasi Milenial dan Gen Z, yang tanpa sadar sudah mulai melupakan istilah-istilah khas dalam bahasa daerahnya sendiri. Anak-anak muda cenderung lebih senang menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa asing seperti bahasa Inggris untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari.

Kondisi ini turut berdampak pada semakin jarangnya penggunaan kosakata tradisional, salah satunya adala suara-suara hewan dalam bahasa Sunda (sora sasatoan), yang dahulu sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Hal ini tidak boleh dibiarkan, karena mempelajari sora sasatoan termasuk dalam cara untuk memperkenalkan dan melestarikan bahasa Sunda sejak dini.

Jika istilah-istilah yang sangat nyunda ini tidak banyak digunakan lagi oleh generasi muda, bukan tak mungkin jika kosakata-kosakata bahasa daerah akan hilang di masa depan. Warginet, tulisan ini akan membahas tentang suara-suara hewan dalam bahasa Sunda alias sora sasatoan, lengkap dengan penjelasan singkat agar mudah diingat.

Yuk, hayu urang diajar sora sasatoan dina basa Sunda bareng!

Apa Itu Sora Sasatoan Bahasa Sunda?

Sora sasatoan adalah tiruan bunyi hewan yang diekspresikan dengan gaya fonetik khas Sunda. Sora sasatoan memiliki variasi bunyi yang terdengar ‘hidup’ dan mirip dengan suara hewan yang terdengar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Menariknya, beberapa suara hewan dalam bahasa Sunda dituliskan mirip dengan bunyinya. Satu contoh sederhananya adalah suara bebek yang diinterpretasikan dalam bahasa Sunda dengan ‘ngawékwék’. Suara ini merujuk pada suara bebek yang terdengar seperti 'wekwekwek'.

Hal ini menunjukkan betapa unik dan eratnya bahasa Sunda dengan alam dan lingkungan sekitar. Sebagai bagian dari melestarikan kosakata bahasa Sunda, mengenal dan mempelajari sora sasatoan penting dilakukan sejak dini pada anak-anak.

Baca Juga: 30 Nama Anak Hewan dalam Bahasa Sunda dan Contoh Penggunaannya dalam Kalimat

Daftar Lengkap Suara Hewan dalam Bahasa Sunda

No

Hewan

Sebutan Suara dalam Bahasa Sunda

Keterangan Singkat

1.

Anjing

Ngagog, nyungunggun, babaung

Digunakan untuk menggambarkan anjing menggonggong atau melolong.

2.

Babi

Sesegrok / Sesegrog

Menirukan suara babi saat bersuara keras atau bergerak.

3.

Domba/kambing

Ngabérélé

Suara domba atau kambing saat mengembik.

4.

Itik/bebek

Ngawékwék (ngwekwek)

Bunyi itik yang sering terdengar di sawah atau kolam.

5.

Ayam jantan

Kongkorongok

Suara ayam jantan di pagi hari, sering muncul dalam lagu Sunda.

6.

Ayam betina

Kokotak

Bunyi ayam betina, umumnya setelah bertelur atau mencari makan.

7.

Kuda

Ngahiem (nghiem)

Suara kuda meringkik.

8.

Burung

Ricit / Récét

Kicauan burung secara umum.

9.

Harimau

Ngagerem / Ngagaur

Dipakai dalam cerita rakyat dan simbol kekuatan.

10.

Serangga

Ngahieng

Dengungan serangga kecil seperti nyamuk.

11.

Monyet

Begog

Suara monyet yang keras dan berulang. Biasanya dipakai untuk menggambarkan keramaian atau kegaduhan.

12.

Gagak

Ngelak

Suara khas burung gagak.

13.

Burung perkutut

Ngantuk (disada terus-terusan)

Bunyi perkutut yang terdengar terus-menerus.

14.

Kucing

Ngéong/ éong-éongan

Suara kucing mengeong dalam keseharian.

15.

Sapi

Emoh

Suara sapi yang umum terdengar di lingkungan peternakan.

Sora Sasatoan vs Onomatope Bahasa Indonesia

Jika dibandingkan dengan bahasa Indonesia, banyak suara hewan dalam bahasa Sunda memiliki bunyi yang berbeda meski merujuk pada hewan yang sama. Perbedaannya terletak pada cara pelafalan.

Perhatikan contoh di bawah ini:

Hewan

Bahasa Sunda

Bahasa Indonesia

Anjing

Ngagog

Guk-guk

Ayam jantan

Kongkorongok

Kukuruyuk

Kambing

Ngabérélé

Mbee

Kucing

Ngéong

Meong

Burung

Ricit

Cuit-cuit

Harimau

Ngagaur

Aum

Dilihat sekilas, sora sasatoan Sunda memang tidak begitu mirip dengan onomatope dalam bahasa Indonesia. Hal ini sangat mungkin terjadi karena masing-masing istilah lahir dari konteks budaya yang berbeda.

Baca Juga: Lirik Lagu Panon Hideung, Lagu Bahasa Sunda yang Digubah dari Lagu Rusia

Rekomendasi

0 Komentar

Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.