Beranda Hari Primata Indonesia Soroti Krisis Orang Utan Tapanuli
ADVERTISEMENT

Hari Primata Indonesia Soroti Krisis Orang Utan Tapanuli

14 jam yang lalu - waktu baca 2 menit
Hari Primata Indonesia Soroti Krisis Orang Utan Tapanuli, Source: nationalgeographic.grid.id

Hari Primata Indonesia menjadi pengingat pentingnya penyelamatan orang utan tapanuli yang terancam akibat bencana ekologis dan fragmentasi habitat di Batang Toru.

Bencana ekologis di Ekosistem Batang Toru pada akhir November 2025 menjadi catatan serius akan rapuhnya ekosistem di Sumatera. Banjir bandang dan longsor akibat cuaca ekstrem memperparah ancaman terhadap orang utan tapanuli yang saat ini berada di ambang kepunahan permanen.

Baca juga: Studi Ungkap Banjir Sumatera Ancam Kelangsungan Orang Utan Tapanuli

Bencana Ekologis di Batang Toru

Siklon tropis Senyar menyebabkan curah hujan ekstrem hingga 661,3 milimeter dalam dua hari serta menimbulkan banjir bandang dan juga longsor di habitat orang utan tapanuli. Bencana ini menimpa kawasan inti Batang Toru, satu-satunya wilayah hidup spesies endemik tersebut.

Analisis satelit yang dirilis pada Desember 2025 memperlihatkan bahwa kerusakan hutan mencapai ribuan hektare di Blok Barat Batang Toru. Kerusakan ini diperkirakan menghilangkan sumber pakan alami hingga lima tahun serta berdampak pada kelangsungan hidup populasi orang utan.

Populasi Kritis Orang Utan

Orang utan tapanuli hanya berjumlah sekitar 800 individu dengan status kritis dalam Daftar Merah IUCN. Studi memperkirakan hingga mencapai 10,5 persen populasi Blok Barat terdampak langsung akibat bencana, angka yang berbahaya bagi spesies terisolasi genetik.

Dalam konservasi satwa langka, kehilangan lebih dari satu persen populasi per tahun sudah dianggap jalur cepat menuju kepunahan. Fragmentasi habitat oleh sungai serta pembangunan infrastruktur semakin memperlemah daya lenting ekosistem dalam menghadapi kejadian cuaca ekstrem berulang.

Momentum Hari Primata Indonesia

Peringatan Hari Primata Indonesia setiap 30 Januari menjadi momentum dalam memperkuat penyelamatan. Melansir dari National Geographic Indonesia,  Direktur Program TFCA Sumatera, Samedi, menyebut bencana Batang Toru sebagai alarm keras sekaligus titik balik perlindungan ekosistem berbasis kolaborasi lintas sektor.

Pemerintah didorong menetapkan moratorium aktivitas merusak, memperluas koridor hijau, serta menjadikan Batang Toru sebagai Kawasan Strategis Nasional. Dukungan publik, riset pascabencana, hingga kebijakan berbasis sains dinilai krusial dalam menjaga masa depan spesies dan manusia.

Baca juga: Hutan Bukan Komoditas! Ini Bahaya Alih Fungsi untuk Kepentingan Ekonomi Semata

Jadi Warginet, penyelamatan orang utan tapanuli bukan hanya menyangkut satu spesies, tetapi keberlanjutan fungsi ekologis Batang Toru sebagai pengendali bencana dan sumber penghidupan. Komitmen bersama pemerintah, ilmuwan, dan publik masih membuka harapan bagi masa depan ekosistem Sumatera.

Rekomendasi

0 Komentar

Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.